Title: Anarkisme Anti-Kolonial, atau Anti-Kolonialisme Anarkis
Subtitle: Kesamaan dalam Teori Revolusioner Frantz Fanon dan Mikhail Bakunin
Language: Bahasa Indonesia
Publication: PATM
Pendahuluan

Berbicara dalam ruang sosial yang sangat berbeda, apa sebenarnya yang dapat menghubungkan seorang anarkis Rusia yang menulis pada pertengahan abad ke-19 dengan seorang psikiater anti-kolonial yang menulis pada pertengahan abad ke-20? Kesamaan itu dapat dipahami dengan melihat maksud revolusioner mereka. Jika kita menelaah teori-teori revolusioner Mikhail Bakunin dan Frantz Fanon, kita melihat adanya kecocokan yang mencolok dalam pemikiran mereka, terlepas dari perbedaan waktu dan tempat mereka menulis. Hal ini membuat saya berpendapat bahwa anarkisme dan perjuangan anti-kolonial saling berkelindan. Dengan melihat keduanya secara bersamaan, kita dapat lebih memahami perubahan revolusioner di luar konteks kelas pekerja perkotaan dan revolusi dari atas (top-down) yang digerakkan elite, yang sering kali mendominasi perdebatan revolusioner.

Saya ingin menyelidiki kesamaan ini dengan menelaah teori Frantz Fanon tentang penggulingan kolonial (colonial overthrow), berdampingan dengan pemikiran Mikhail Bakunin tentang revolusi sosial. Saya akan memberi perhatian khusus pada kesamaan di antara keduanya dalam hal fokus terhadap kaum tani sebagai kekuatan revolusioner, kekerasan sebagai sarana revolusi, serta skeptisisme terhadap kediktatoran borjuis pasca-revolusi. Berbeda dengan Marxisme klasik yang mengandalkan kelas pekerja industri sembari mengabaikan kekuatan revolusioner lainnya, anarkisme Mikhail Bakunin justru saling berkaitan dengan isu-isu revolusi anti-kolonial. Hal ini karena Bakunin memahami dominasi dan perlawanan tidak hanya dalam antagonisme sederhana antara borjuis dan proletar yang melekat dalam kapitalisme. Ia tidak menolak antagonisme tersebut, namun ia memahami bahwa faktor-faktor lain—dan pelaku-pelaku lain—akan turut menciptakan revolusi anti-otoritarian sejati.

Pada saat yang sama, Fanon mendorong pemikirannya melampaui pemahaman Marxis klasik untuk lebih memahami lapisan-lapisan dominasi dan eksploitasi yang ada dalam kolonialisme. Alih-alih mereduksi pemahamannya pada analisis kelas semata, Fanon menengok ke ranah psikologis. Ia berusaha memahami motivasi individual, reaksi, dan keseluruhan perasaan yang bekerja dalam diri rakyat terjajah selama gerakan revolusioner melawan kolonialisme.

Untuk menelaah pemikiran Bakunin dan Fanon mengenai perubahan dan gerakan revolusioner, penting bagi kita untuk memperjelas konteks sejarah yang berbeda di mana kedua pemikir tersebut menulis. Hal ini pada gilirannya akan membuat kesamaan antara perjuangan anti-kolonial dan anarkis menjadi lebih mudah dikenali. Pemikiran Bakunin muncul dari perdebatan anti-kapitalis di Eropa abad ke-19. Tulisan-tulisan yang saya bahas mencerminkan komitmen teguh Bakunin terhadap anti-otoritarianisme, baik di dalam gerakan revolusioner maupun dalam masyarakat secara keseluruhan. Pandangannya tentang kaum tani dapat dilihat dalam karyanya Letters to a Frenchman on the Present Crisis, yang menguraikan gagasan-gagasan revolusioner Bakunin dalam konteks Prancis tahun 1870. Surat-surat tersebut ditulis pada masa kejatuhan akibat Perang Prancis–Prusia, ketika Prancis menghadapi kekalahan yang tak terelakkan.

“Pemerintahan Napoleon III telah runtuh dan pemerintahan republik sementara yang menggantikannya benar-benar terpuruk. Pasukan Prancis mundur total dan pasukan Prusia telah berada di gerbang Paris.”[1]

Revolusi yang dibayangkan Bakunin tidak hanya sebatas pengusiran pasukan asing Prusia, tetapi juga mempertahankan revolusi dari musuh-musuh internal yang berupaya memperluas kekuasaan mereka sendiri di tengah situasi revolusioner.

Frantz Fanon, yang menulis hampir satu abad kemudian, terlibat langsung dalam perjuangan anti-kolonial Aljazair melawan kekuasaan kolonial Prancis. Dalam The Wretched of the Earth, Fanon mendalami dampak psikologis kolonialisme terhadap rakyat terjajah serta cara-cara yang diperlukan untuk secara mental dan fisik menggulingkan dominasi kolonial. Fanon tertarik pada proses dekolonisasi melalui revolusi, serta perkembangan dan karakteristik yang menyertainya. Ia memahami dalam banyak cara bahwa situasi kolonial berbeda dari revolusi kelas pekerja industri yang begitu diyakini oleh Marx. Melalui pemahaman ini, pemikiran Fanon tentang revolusi justru lebih menyerupai Bakunin ketimbang Marx, meskipun Fanon sering kali digolongkan ke dalam kelompok Marxis.

Kaum Tani sebagai Kelompok Revolusioner

Apa yang mendorong orang untuk mencari perubahan revolusioner? Kelompok mana yang paling mungkin terdorong untuk melakukan tindakan revolusioner? Kelompok atau kelas sosial mana yang perlu bersatu untuk mendorong terbentuknya gerakan revolusioner yang lebih luas? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui para aktivis dan teoritikus, dan pertanyaan yang sama juga diperbincangkan sekaligus menjadi titik temu antara Bakunin dan Fanon. Baik Bakunin maupun Fanon melihat adanya perbedaan antara kelas pekerja perkotaan dan kaum tani pedesaan—baik dalam gaya hidup mereka maupun potensi revolusionernya. Berbeda dengan banyak pemikir yang lebih dipengaruhi oleh Marxisme, keduanya sepakat bahwa kaum tani merupakan kelompok revolusioner. Lebih jauh lagi, kedua teoretikus ini melihat perlunya penyatuan antara kaum tani dan kelas pekerja perkotaan menjadi satu kekuatan revolusioner yang terpadu.

Seperti halnya Marx, Mikhail Bakunin memandang kaum tani (terutama kebudayaan mereka) seolah-olah berada dalam keadaan “tak berdosa”, belum tersentuh oleh relasi industrialisasi dan kapitalisme. Namun berbeda dari Marxisme klasik—yang melihat keadaan tersebut sebagai kelemahan dalam potensi revolusioner mereka—Bakunin justru menganggap keadaan “tak tercemar” ini sebagai sumber kekuatan revolusioner, karena kaum tani pedesaan belum terkontaminasi oleh ajaran-ajaran borjuis. Dengan mempertahankan tradisi pedesaannya, mereka belum mengadopsi nilai-nilai borjuis atau ideologi kapitalis. Bakunin menulis:

“Tidak rusak oleh kemewahan dan kemalasan, serta hanya sedikit dipengaruhi oleh dampak buruk masyarakat borjuis, kaum tani masih mempertahankan energi alami mereka dan cara hidup rakyat yang sederhana dan polos.”[2]

Bagi Bakunin, energi alami ini memungkinkan dan menumbuhkan semangat pemberontakan, karena kaum tani sangat mempertahankan gaya hidup tradisional mereka dari gangguan kapitalis maupun intervensi negara.

Bakunin meyakini bahwa realitas material dan posisi terpinggirkan kaum tani akan menyalakan semangat untuk perubahan revolusioner. Bukan hanya kelas pekerja industri yang akan digugah menuju kesadaran revolusioner, tetapi juga para penghuni pedesaan. Ia menulis:

“Kaum tani menjadi revolusioner karena kebutuhan, karena kenyataan hidup mereka yang amat berat; kebencian mereka yang sengit, gairah sosialis mereka, telah dimanfaatkan dan dibelokkan secara tidak sah untuk mendukung kaum reaksioner.”[3]

Dalam tradisi materialisme historis, Bakunin mengakui bahwa kondisi material kaum tani-lah yang akan mengarahkan mereka menuju perubahan revolusioner. Mereka pun menghadapi kemiskinan dan kondisi tidak manusiawi yang muncul akibat kepemilikan pribadi dan karakteristik mendasar lainnya dari kapitalisme. Dengan demikian, mereka juga merupakan kelas revolusioner.

Meskipun Bakunin melihat potensi revolusioner dalam diri kaum tani, ia menyadari bahwa kaum tani saja tidak akan efektif untuk mencapai revolusi sosial secara penuh. Namun, dalam kerja sama dengan kelas pekerja perkotaan, ia melihat kemungkinan dibangunnya gerakan revolusioner sejati—persatuan seluruh rakyat tertindas yang memiliki potensi untuk mencapai pembebasan. Bakunin juga menyadari adanya sikap negatif antara kedua kelompok tersebut dan memahami perlunya upaya penyatuan. Di satu sisi, Bakunin berpendapat bahwa para pekerja kota harus melepaskan berbagai prasangka terhadap para pekerja pedesaan. Ia menulis:

“Jika kita benar-benar ingin bersikap praktis; jika, bosan dengan lamunan, kita ingin memajukan Revolusi, kita harus membuang sejumlah prasangka dogmatis borjuis yang sayangnya terlalu banyak diulang oleh para pekerja kota. Karena pekerja kota lebih berpendidikan daripada petani, ia sering menganggap petani sebagai kaum inferior dan berbicara kepada mereka layaknya seorang borjuis yang sombong.”[4]

Dengan mengadopsi kompleks superioritas yang sama seperti yang dimiliki kaum borjuis terhadap pekerja, Bakunin berargumen bahwa kelas pekerja perkotaan memandang rendah kaum tani sebagai orang-orang yang tidak berpendidikan dan karena itu tidak mampu memahami dinamika sosialisme. Di sisi lain, Bakunin juga berpendapat bahwa kaum tani pedesaan menyimpan semacam kebencian atau rasa tidak suka terhadap kelas pekerja perkotaan. Ia menulis:

“Kaum tani merasa bahwa mereka diremehkan oleh para pekerja kota,… bahwa kota ingin mengeksploitasi mereka dan memaksa mereka menerima sistem politik yang mereka benci, [dan]… kaum tani berpikir bahwa para pekerja kota mendukung kolektivisasi properti dan takut bahwa kaum sosialis akan menyita tanah mereka, yang mereka cintai di atas segalanya.”[5]

Bagi Bakunin, permusuhan antara kelas pekerja kota dan kaum tani pedesaan ini merupakan hambatan paling mencolok terhadap terciptanya revolusi sosial yang efektif.

Dengan Frantz Fanon, kita melihat pemahaman yang serupa tentang kaum tani sebagai kekuatan revolusioner, sekaligus perlunya persatuan antara pekerja pedesaan dan perkotaan. Seperti halnya Bakunin, Fanon berpendapat bahwa kaum tani, yang hidup di daerah pedesaan dengan sedikit persinggungan dengan nilai-nilai borjuis, mempertahankan komitmen yang kuat terhadap adat dan cara hidup tradisional mereka. Fanon menulis:

“Sesungguhnya, analisis rasional terhadap masyarakat kolonial menunjukkan bahwa kaum tani terjajah hidup dalam lingkungan tradisional yang strukturnya tetap utuh, sedangkan di negara-negara industri, lingkaran tradisional ini telah hancur akibat kemajuan industrialisasi.”[6]

Fanon berpendapat bahwa karena hidup di pinggiran masyarakat kolonial, kaum tani tetap berpegang teguh pada cara hidup aslinya, bukan mengadopsi nilai-nilai penjajah. Dari jarak inilah—dari keterpisahan mereka terhadap kota, pusat kekuasaan kolonial—kaum tani pedesaan dapat mempertahankan struktur sosial tradisional mereka. Ia menulis:

“Petani yang tetap tinggal di tanahnya adalah pembela teguh tradisi, dan dalam masyarakat kolonial ia mewakili unsur kedisiplinan dengan struktur sosial yang masih berjiwa komunal.”[7]

Bagi Fanon, pemeliharaan komunitas dan cara hidup tradisional membuat kaum tani menjadi kekuatan revolusioner yang lebih besar daripada kelas pekerja perkotaan, yang terus-menerus bersinggungan dengan masyarakat kolonial.

Sama seperti Bakunin, Fanon menyadari bahwa realitas material kehidupan kaum tani juga menjadi sumber ketidakpuasan dan, akibatnya, kesadaran revolusioner. Dengan tidak membatasi diri pada kondisi pekerja industri perkotaan, Fanon memahami bahwa para petani menghadapi kondisi keras yang serupa, serta gangguan industrialisasi terhadap cara hidup tradisional mereka. Ia menulis:

“Namun jelas bahwa di negeri-negeri kolonial hanya kaum tani yang benar-benar revolusioner. Mereka tidak punya apa-apa untuk kehilangan dan segalanya untuk diperoleh. Kaum tani yang tertindas dan kelaparan adalah kaum terhisap yang segera menyadari bahwa hanya kekerasan yang membuahkan hasil.”[8]

Dalam kondisi kebutuhan mendesak dan penindasan yang ekstrem inilah kaum tani berada dalam posisi untuk mengorbankan segalanya demi perjuangan revolusioner.

Dalam menelaah hubungan antara penduduk kota dan kaum tani pedesaan, Fanon menekankan pentingnya persatuan antara dua kelas tertindas tersebut, dan bukan ketidakpercayaan atau permusuhan. Seperti Bakunin, Fanon menyadari bahwa kaum tani pedesaan tidak mempercayai masyarakat perkotaan, dan sebaliknya, kaum perkotaan memandang kaum tani secara negatif. Fanon menulis:

“Kaum tani tidak mempercayai penduduk kota. Berpakaian seperti orang Eropa, berbicara dalam bahasanya, bekerja bersamanya, kadang tinggal di lingkungan yang sama, ia dianggap oleh kaum tani sebagai seorang pengkhianat yang telah meninggalkan segala sesuatu yang merupakan warisan nasional.”[9]

Kaum tani, sebagai kelompok paling terpinggirkan di antara rakyat terjajah, memandang para penduduk kota dan anggota partai nasionalis sebagai orang-orang yang telah mengadopsi nilai-nilai penjajah. Sebagai pembela kuat adat dan tradisi asli mereka, kaum tani merasa ditinggalkan oleh penduduk kota yang telah berasimilasi dengan gaya hidup para penindasnya. Sebaliknya, ketidakpercayaan ini juga datang dari partai-partai nasionalis dan pekerja perkotaan terhadap kaum tani. Fanon menulis:

“Sebagian besar partai nasionalis memandang massa pedesaan dengan penuh kecurigaan. Massa itu memberi kesan terjebak dalam kemandekan dan kemandulan. Dengan cepat para anggota partai nasionalis (kaum pekerja dan intelektual kota) akhirnya memberikan penilaian merendahkan terhadap kaum tani, sama seperti para penjajah.”[10]

Ketidakpercayaan antara dua kelompok dalam masyarakat terjajah ini mencerminkan kurangnya kesatuan dari kekuatan terorganisir—suatu hal yang sangat penting bagi keberhasilan penggulingan revolusioner. Para penduduk kota, yang hidup berdampingan dengan penjajah dan partai-partai borjuis, memandang kaum tani sebagai kelompok terbelakang, tidak berpendidikan, dan tidak mampu memahami proses maupun tujuan perubahan revolusioner. Sementara itu, kaum tani—sebagai pembela teguh cara hidup tradisional mereka—tetap tidak mempercayai penduduk kota yang telah mengadopsi gaya hidup penindas sejati mereka, yaitu para penjajah kolonial.

Kekerasan sebagai Sarana Revolusi

Selanjutnya, saya akan menelaah cara kedua pemikir ini memandang persoalan kekerasan dalam gerakan revolusioner. Meskipun baik Bakunin maupun Fanon bersikap skeptis terhadap potensi revolusioner jangka panjang dari kekerasan, keduanya mengakui bahwa kekerasan merupakan unsur yang tak terelakkan dan diperlukan dalam perkembangan revolusi. Saya berpendapat bahwa kedua pemikir ini memandang kekerasan sebagai tahap yang disesalkan, namun krusial, dalam penghancuran menyeluruh terhadap masyarakat borjuis dan/atau kolonial.

Bakunin berargumen bahwa kekerasan ini bukanlah tindakan tanpa pertimbangan taktis atau dilakukan secara kejam dan dingin, melainkan sebuah manuver sadar dalam menjalankan penghancuran total terhadap masyarakat borjuis. Bakunin menulis:

“Pada tahap awal (ketika rakyat, karena alasan-alasan yang sah, secara spontan berbalik melawan para penindasnya), revolusi kemungkinan besar akan berdarah-darah dan bersifat balas dendam. Namun fase ini tidak akan berlangsung lama, dan tidak akan pernah merosot menjadi terorisme sistematis yang dingin… Ini akan menjadi sebuah perang, bukan terhadap individu-individu tertentu, melainkan terutama terhadap institusi-institusi anti-sosial yang menjadi tumpuan kekuasaan dan privilese mereka.”[11]

Bagi Bakunin, kekerasan merupakan komponen yang tak terhindarkan dari revolusi. Kekerasan ini akan muncul sebagai tindakan spontan yang diarahkan pada institusi-institusi dasar tempat masyarakat borjuis dibangun. Kekerasan bukanlah inti dari revolusi itu sendiri, namun memainkan peran penting pada momen tertentu dalam proses revolusioner.`

Bakunin juga memahami bahwa kekerasan merupakan bagian wajib dari apa yang secara luas dapat disebut sebagai penghancuran, dan bahwa penghancuran itu sendiri adalah proses kreatif. Proses ini mencakup kekerasan terhadap kepemilikan, dan juga pemberontakan non-kekerasan yang berkontribusi pada penghancuran tatanan borjuis. Bagi Bakunin, penghancuran ini akan membongkar dan menghapus seluruh kekuatan otoritas dan dominasi yang membebani massa rakyat. Dari titik inilah, massa dapat secara bebas dan spontan menciptakan tatanan sosial yang baru. Bakunin menulis:

“Revolusi menuntut penghancuran yang luas dan menyeluruh, karena dengan cara inilah—dan hanya dengan cara inilah—dunia-dunia baru dilahirkan….”.[12]

Dengan demikian, bagi Bakunin, kekerasan merupakan bagian dari penghancuran menyeluruh dalam upaya menggulingkan sistem kekuasaan lama dan memungkinkan masyarakat dibangun dari hasrat bebas massa yang telah dibebaskan.

Frantz Fanon juga mengakui peran kekerasan dalam pemahamannya mengenai gerakan revolusioner anti-kolonial. Fanon memahami bahwa kekerasan merupakan proses timbal balik dalam kolonisasi dan kemudian dekolonisasi. Ia menyadari bahwa kekerasan ekstrem yang dilakukan oleh penjajah terhadap rakyat terjajah niscaya akan tercermin kembali dalam kekerasan yang dilakukan oleh rakyat terjajah yang sama selama proses dekolonisasi.

“Risalah tersebut sekadar mengungkapkan apa yang dirasakan setiap orang Aljazair di lubuk hatinya: kolonialisme bukanlah mesin yang mampu berpikir, bukan tubuh yang dianugerahi akal. Ia adalah kekerasan telanjang dan hanya akan menyerah ketika dihadapkan pada kekerasan yang lebih besar.”[13]

Bagi Fanon, kekerasan ini akan menyapu bersih rasa inferioritas kaum terjajah dan membantu mereka merebut kembali identitas serta kemerdekaan mereka. Kekerasan merupakan satu-satunya cara untuk memulihkan kemanusiaan dan kepercayaan diri yang telah dirampas. Fanon merangkum hal ini dengan sangat jelas:

“Pada tingkat individual, kekerasan adalah kekuatan pemurni. Ia membebaskan kaum terjajah dari kompleks inferioritas, dari sikap pasif dan putus asa. Kekerasan membangkitkan keberanian dan memulihkan kepercayaan diri mereka.”[14]

Ia memandang kekerasan sebagai tindakan yang mengangkat kondisi mental kaum terjajah dan, dalam banyak hal, sekaligus menjadi satu-satunya bentuk respons yang tersedia bagi mereka, mengingat mereka terus-menerus menjadi sasaran kekerasan dari tindakan-tindakan penjajah.

Skeptisisme terhadap Pengambilalihan Borjuis atas Revolusi

Terakhir, penting untuk menelaah skeptisisme yang sama-sama dimiliki oleh Bakunin dan Fanon terhadap kemunculan unsur-unsur borjuis selama dan/atau setelah revolusi. Meskipun Bakunin dan Fanon berbeda dalam tujuan revolusioner mereka secara keseluruhan, keduanya berbagi kekhawatiran yang sama terhadap munculnya kelompok atau kelas yang berupaya mengambil keuntungan dari dinamika revolusioner. Kedua teoretikus ini sepakat bahwa gairah revolusioner sering kali dapat dimanipulasi dan dirampas oleh mereka yang berusaha merebut kekuasaan selama atau setelah revolusi.

Menulis langsung dari tradisi anarkisme, Bakunin sangat skeptis terhadap kembalinya segala bentuk kekuasaan negara selama maupun setelah revolusi. Bagi Bakunin, revolusi rakyat yang sejati merupakan tindakan penuh gairah dan spontan dari massa rakyat melawan musuh bersama mereka. Memasukkan bentuk otoritas atau kepemimpinan otoriter apa pun ke dalam gerakan revolusioner hanya akan memadamkan pemberontakan rakyat yang Bakunin dukung sepenuhnya. Bakunin menulis:

“Tujuan segera, jika bukan tujuan akhir, dari revolusi adalah pemusnahan prinsip otoritas dalam segala manifestasinya; tujuan ini menuntut penghapusan dan, jika perlu, penghancuran negara secara paksa.”[15]

Bagi Bakunin, selalu ada dorongan bagi banyak pihak yang menyebut diri mereka “revolusioner” untuk mencoba mengarahkan revolusi demi kepentingan mereka sendiri, atau demi kepentingan otoritas pemerintahan yang ingin mereka bangun. Bakunin memahami bahwa perampasan kembali kekuasaan—dari tangan rakyat ke tangan negara—berarti penyangkalan total terhadap tujuan revolusi, dan penyangkalan mutlak terhadap kebebasan sejati. Oleh karena itu, struktur-struktur otoritas harus dihapuskan, baik di dalam gerakan revolusioner itu sendiri maupun dalam proses pembentukan masyarakat baru.

Bakunin juga menyadari bahwa jika unsur-unsur otoritarian ini tidak dimusnahkan, struktur dan ideologi kekuasaan yang lama akan kembali menyusup ke dalam tatanan sosial. Dalam proses tersebut, para perampas baru kekuasaan negara ini akan dengan cepat menyetir institusi-institusi ke arah yang menguntungkan kepentingan mereka. Dengan demikian, masyarakat akan kembali jatuh ke dalam kondisi yang menindas, mendominasi, dan eksploitatif—yakni kondisi khas masyarakat borjuis.

Frantz Fanon berbeda dari Bakunin dalam arti bahwa Fanon lebih terlibat dalam gerakan nasionalis yang bertujuan membentuk negara merdeka. Namun, jika Fanon dibaca secara lebih saksama, kita menemukan peringatan yang serupa terhadap unsur-unsur eksploitatif yang muncul selama dan setelah revolusi—sebagaimana yang juga dikhawatirkan oleh Bakunin. Teori Fanon, yang berakar pada konteks kolonial, secara khusus bersikap skeptis terhadap partai-partai nasionalis borjuis. Ia memahami bahwa karena telah mempelajari ajaran-ajaran penjajah dan mengadopsi nilai-nilai serta struktur sosial mereka, kaum borjuis nasionalis sangat rentan untuk mengambil alih peran sebagai penjajah dalam pemerintahan nasional yang baru terbentuk. Fanon menulis:

“Sayangnya, kita akan melihat bahwa borjuasi nasional sering kali berpaling dari jalan heroik dan positif ini—jalan yang produktif dan adil—dan tanpa malu memilih jalan anti-nasional, dan karena itu menjijikkan, dari borjuasi konvensional: borjuasi yang secara suram, dangkal, dan sinis bersifat sangat borjuis.”[16]

Fanon berpendapat bahwa selama masa penggulingan kolonial, partai-partai nasionalis akan terbentuk untuk menciptakan gerakan kebangsaan di kalangan rakyat terjajah. Namun, alih-alih bekerja bersama dan untuk rakyat, Fanon memperingatkan bahwa borjuasi nasionalis sering kali justru bergaul erat dengan penjajah. Akibatnya, borjuasi nasionalis cenderung mengadopsi struktur sosial yang sama dengan yang menopang kolonialisme, hanya dengan menggantikan posisi penjajah sebelumnya di puncak struktur kekuasaan. Fanon menegaskan bahwa kepentingan rakyat harus menjadi suara utama dalam revolusi, bukan kepentingan borjuasi nasional. Ia menulis:

“Namun borjuasi nasional, yang di berbagai wilayah tergesa-gesa menimbun kekayaan bagi diri mereka sendiri dan membangun sistem eksploitasi nasional… inilah sebabnya kita harus memahami bahwa Persatuan Afrika hanya dapat dicapai melalui tekanan dan kepemimpinan rakyat, yakni dengan mengabaikan sepenuhnya kepentingan borjuasi.”[17]

Dengan cara yang sangat mirip dengan Bakunin, Fanon memahami bahwa revolusi seharusnya bertujuan memenuhi kebutuhan rakyat secara keseluruhan, bukan kebutuhan kelas atau partai baru yang muncul dengan niat eksploitatif. Ia sangat skeptis mengingat partai-partai nasionalis borjuis dapat merampas semangat revolusioner massa demi mencapai tujuan mereka sendiri.

Setelah menelaah tiga unsur utama yang menghubungkan Bakunin dan Fanon, sulit untuk menyangkal adanya kesamaan dalam pemikiran mereka, khususnya terkait revolusi. Hal ini menjadi semakin menarik mengingat kedua pemikir tersebut kemungkinan besar akan menolak proyek keseluruhan satu sama lain. Bakunin adalah seorang anarkis yang memperjuangkan masyarakat tanpa negara dan anti-otoritarian, sementara Fanon lebih bersifat nasionalis, memperjuangkan negara merdeka, dan sering kali secara tegas menolak anarkisme. Namun demikian, kesamaan dalam cara mereka memahami revolusi tidak dapat diabaikan. Hal ini membawa saya pada keyakinan bahwa anarkisme dan perjuangan anti-kolonial memiliki titik temu yang penting—yang saya harap cukup jelas melalui perbandingan yang telah saya kemukakan di atas. Lebih jauh lagi, saya berpendapat bahwa penting untuk membagikan kesamaan-kesamaan ini, guna menyatukan perjuangan-perjuangan bersama yang sering kali diperlakukan sebagai saling bertentangan atau berbeda satu sama lain.

Referensi

[1] Sam Dolgoff, Bakunin on Anarchism (Montreal, Canada: Black Rose Books, 2002), p. 183.

[2] Ibid., p. 189.

[3] Ibid., p.191.

[4] Ibid.

[5] Ibid., p. 201.

[6] Frantz Fanon, The Wretched of the Earth (New York, NY: Grove Press, 1961), p. 66.

[7] Ibid., p. 67.

[8] Ibid., p. 23.

[9] Ibid., p. 67.

[10] Ibid., p. 65.

[11] Dolgoff, p. 100.

[12] Ibid., p. 334.

[13] Fanon, p. 23.

[14] Ibid., p. 51.

[15] Dolgoff, p. 202.

[16] Fanon, p. 202.

[17] Ibid., p. 110.