Bagian 1


Anarki dan Penjarahan Pasca-Bencana di New Orleans: Festival Revolusioner Ataukah Festival Mega-Konsumsi di Atas Puing?

Beberapa saat lalu, setengah tahun lebih setelah Tsunami melanda Asia-Afrika, badai yang juga berkekuatan maha dahsyat, Katrina, memporakporandakan New Orleans, Amerika Serikat. Dan juga, persis seperti yang terjadi di Asia, sebenarnya bencana alam ini telah dideteksi beberapa saat sebelumnya. Hanya saja peringatan para ahli tersebut dikesampingkan, seperti biasa, kecuali daerah-daerah tersebut dihuni oleh mereka yang secara ekonomi tidak berada di bawah standar kemiskinan.

Sebagai badai yang juga telah terprediksikan, para ahli telah menyatakan bahwa semakin tahun badai semakin mengganas dan membesar. Kita semua telah menyaksikan bagaimana perubahan iklim terjadi tepat di depan mata kita semua, disajikan melalui berita di layar-layar televisi. Kepala Badan Penasehat Ilmu Pengetahuan Inggris berkata, pemanasan global mungkin yang harus disalahkan atas terjadinya Katrina. Persis seperti saat Tsunami terjadi, pemanasan global satu-satunya yang disalahkan. Para apologis kapitalisme seperti Bjorn Lomborg, seorang penulis asal Denmark yang menyusun buku berjudul Skeptical Environmentalist berkata bahwa tak ada bukti manusia yang harus disalahkan atas terjadinya pemanasan global. Mungkin ia benar, bukan manusia yang harus disalahkan, tetapi sistem ekonomi-sosial-politik-teknologi yang manusia bangun, yang bernama kapitalisme, yang harus disalahkan. Tetapi lantas membiarkan manusia tak bersalah sama sekali? Oh, tentu saja...

Saat kapitalisme menuntut agar kita mengabaikan perubahan iklim global dan konsekuensi logis yang timbul setelahnya, demi berjalannya bisnis kapital dan perputaran roda ekonomi, kita juga terus mengatakan bahwa kita, manusia, sama sekali tidak bersalah. Dalam artikel berikut ini kita akan menelusuri tentang bagaimana manusia memegang peranan penting dalam menentukan hidupnya sendiri dan kita tak dapat sekedar menyalahkan sistem untuk segala hal, walaupun sistem itu sendiri telah mempengaruhi manusia sedemikian rupa, sehingga kericuhan yang terjadi sebelum ataupun setelah bencana tak pernah lepas dari hasil pengaruh sistem itu sendiri.


Pasca Bencana

Seperti juga di lokasi bencana lain yang pernah terjadi, kepanikan melanda lokasi bencana, semua orang bermigrasi semampu mereka dan membawa apa pun yang mereka mampu. Beberapa saat setelahnya, kota terjerumus ke dalam rengkuhan kematian, baik bagi mereka yang datang ataupun bagi mereka yang masih tinggal—entah itu sengaja tinggal ataupun tertinggal. Pertanyaan yang timbul lantas adalah: siapa yang masih tertinggal? Saat semua yang memiliki kendaraan terbaik berhasil pergi; meninggalkan ribuan lainnya tak memiliki kendaraan apa pun, mereka yang miskin dan cacat, sakit dan lanjut usia. Tak ada rencana evakuasi bagi mereka. Undang-undang keadaan darurat diberlakukan di Misissipi, tetapi telah terlalu terlambat bagi mereka yang tak cukup beruntung dan ditinggalkan tersia-sia. Tidak seperti di New Orleans di mana evakuasi telah dilakukan dengan cukup cepat, di Misissipi negara menerapkan hukum tersebut untuk melindungi kasino-kasino dari tangan-tangan mereka yang berhasil bertahan hidup pasca bencana.

Bus berhenti beroperasi di New Orleans, pesawat terakhir telah lepas landas. Institusi resmi negara tidak berupaya untuk memberikan transportasi bagi mereka yang tertinggal. Tentu saja tidak, semenjak sebagian besar dari mereka yang bertahan hidup adalah mereka yang berkulit hitam.


Penjarahan Sebagai Proses Bertahan Hidup dan Pengambilalihan Hidup

Sementara itu, reportase pertama dari situasi pasca bencana Katrina adalah tentang penjarahan. Penjarahan? Orang-orang yang ditinggalkan dan dibiarkan tanpa bantuan tersebut mengumpulkan air-air mineral dari toko-toko, pakaian kering, dan makanan awetan yang mulai rusak apabila dibiarkan tak tersentuh. Orang-orang saling tolong-menolong, bahkan reporter CNN mengabarkan bahwa penjarahan tersebut adalah sesuatu yang esensial. Mereka tidak menjarah; mereka bertahan hidup.

CNN dan stasiun berita lainnya telah diterjunkan di tengah badai dan setelahnya, dan masih, bantuan resmi dari pemerintah tak kunjung datang. Para reporter melihat bencana tersebut dalam visi yang sama dengan para korban yang bertahan hidup: kapan dan dimana operasi penyelamatan akan hadir? Tak ada laporan resmi untuk menolong mereka yang bertahan hidup, selain sebuah rencana untuk mengevakuasi mereka yang mampu pergidari lokasi bencana. Pasukan National Guard dikirim kesana tidakuntuk menolong mereka yang tertinggal; mereka dikirim untuk mempertahankan sisa-sisa properti korporasi yang selamat. Kuba juga telah mendapat serangan badai yang sama parahnya dalam waktu dekat ini, tetapi angka korban yang meninggal jauh lebih sedikit karena disana, pemerintah mengevakuasi semua orang. Tapi New Orleans adalah New Orleans, dimana mayoritas penduduknya adalah kulit hitam dan lebih dari sepertiganya hidup di bawah garis kemiskinan.

Katrina telah membuka tabir perang kelas yang sebelumnya tak pernah tampak di tubuh Amerika sendiri.

Para penjarah yang mayoritas berkulit hitam mengisi tong-tong sampah logam dengan pakaian, perhiasan dan apapun yang bisa mereka dapatkan. Dalam beberapa kasus, penjarahan bahkan juga dilakukan di hadapan barisan polisi dan National Guard. Menurut laporan the Associated Press, di sebuah toko obat orang-orang mengumpulkan susu bayi, air mineral botol, soft drink, makanan kaleng, snack dan popok. Toko telah menjadi lokasi yang dapat diakses oleh semua orang. Seperti yang dikatakan oleh seorang pria dengan beberapa potong celana jeans yang disampirkan di lengannya tentang dari toko milik siapa ia mendapatkan pakaian itu, saya mendapatkan ini dari toko milik semua orang.

Para penjarah juga mengisi tempat sampah-tempat sampah ukuran industri, penuh dengan pakaian mahal dan perhiasan dari toko-toko perhiasan mewah, lantas mengapungkannya di jalan-jalan utama dengan beberapa kayu, dengan tujuan memecah konsentrasi para anggota National Guard yang menghalangi mereka dari aksi penjarahan toko. Tentu saja, para National Guard yang bukan berasal dari New Orleans tersebut berebut untuk bisa mengantongi perhiasan, sementara para penjarah terus mengumpulkan bahan-bahan makanan, obat atau pakaian kering.

Mike Franklin, seorang penjarah berkata pada CNN, "Kami miskin di tempat kami sendiri hidup sepanjang hidup kami, dan kini adalah kesempatan untuk mengambil alih kembali masyarakat kami yang terebut dari tangan kami selama ini."

Seorang pasangan suami istri yang menggendong sekeranjang makanan berkata juga, "Ini bukan penjarahan, ini masalah bertahan hidup. Kami punya anak-anak untuk diberi makan. Kalau bukan kami, siapa yang akan memberi mereka makan? Pemerintah? Seumur hidup kami, tak pernah sekalipun pemerintah memberi kami makan."

Seorang komandan polisi lokal bahkan memerintahkan anak buahnya untuk membiarkan orang-orang melakukan penjarahan di toko-toko, karena ia pikir hal tersebut adalah permasalahan krusial. "Kami tidak berkata bahwa kami menerima hal seperti ini. Tapi situasi memang seperti ini, kalau tidak dengan hal tersebut, bagaimana mereka akan dapat bertahan hidup?"

Dan juga menarik saat membaca laporan dari Associated Press, tentang bagaimana sekelompok orang malah bermain-main di tengah air yang menggenang setinggi pinggang sebagaimana layaknya anak-anak kecil bermain air di pantai.


Penjarahan Sebagai Bentuk Kontra-Revolusioner

Penjarahan adalah hal yang menjadi lumrah dalam situasi pasca bencana, terlebih lagi apabila dilihat dari sudut pandang dimana lokasi bencana nyaris selalu dihuni oleh mayoritas masyarakat miskin. Bahkan dalam kasus penjarahan di Jakarta tahun 1998 sekalipun, ia menjadi tragedi yang membuka tabir perang kelas yang tersembunyi. Tetapi, bagaimanapun juga, menilik bahwa seluruh tragedi tersebut (dari hadirnya perubahan iklim global yang menimbulkan bencana alam dahsyat, hingga pengabaian mereka yang selamat, hingga penjarahan dan kerusuhan yang terjadi setelahnya) adalah bermula dari persoalan properti. Dan dalam kasus penjarahan, pertanyaan yang timbul setelahnya adalah: apakah ia hadir sebagai akhir sistem ekonomi atau ia hanya menjadi sebuah pembenaran atas hukum kepemilikan?

Saat seorang pria bergerak di antara puing-puing toko yang rusak akibat banjir dan penjarahan, dengan membawa 12 pasang celana, pertanyaan yang muncul adalah: apakah ia akan mendistribusikannya. Semuauntuk dirinya sendiri ataukah juga untuk para tetangganya yang bermukim di atap-atap bangunan? Persis seperti yang terjadi dalam penjarahan di Jakarta tahun 1998, kaum miskin menjarah toko-toko perhiasan, televisi dan mega-bass-audio system di tengah krisis ekonomi yang mencapai titik puncaknya. Apa guna benda-benda di tengah kerusuhan dan kebutuhan untuk bertahan hidup? Ataukah ia hanya menjadi semacam korban dari komodifikasi? Luapan keinginan karena ketidak mampuan mereka menikmati apapun yang ditawarkan oleh iklan-iklan di hari-hari mereka sebelum kerusuhan?

Apakah memang penjarahan menempati bentuk krusial dari tatanan ekonomi baru? Ataukah penjarahan tersebut hanyalah sebuah cara lain untuk memindahkan barang, sebuah lahan pendistribusian komoditi tanpa label harga?

Sebuah stasiun televisi mengajukan pertanyaan kepada Sherrif di New Orleans tentang apakah benar penjarahan yang terjadi adalah bagian dari proses bertahan hidupia mengatakan bahwa memang sebagian adalah taktik bertahan hidup, tapi nyaris sebagian besar hanyalah benar-benar tindak kriminal dan mengganggu para pekerja penyelamat untuk bergerak di jalanan kotamaksudnya kanal, karena tak ada jalanan yang kering. Tentu saja, kapital hanya peduli pada properti, bukan pada hidup manusia. Dan seluruh situasi di New Orleans adalah sebuah ilustrasi yang sempurna tentang atomisasi dan separasi massa. Bukannya bekerja sama untuk saling bantu membantu, mereka melakukan apa yang selama ini telah diprogramkan di kepala mereka: mengakumulasikan produk konsumer (seperti orang gila). Maka dengan demikian, apakah benar bahwa penjarahan adalah aksi frustrasi dari orang-orang yang tertindas?

Media-media massa menyatakan bahwa banyak orang-orang yang selamat kini berada di bawah bayang-bayang ketakutan bahwa diri mereka akan menjadi sasaran perampokan atau bahkan orang-orang yang mereka sayangi akan diperkosa. Bagaimana dengan hal-hal seperti ini? Penjarahan barang-barang yang sama sekali tidak diperlukan dalam proses bertahan hidup, perkosaan, penyerangan rasial terhadap kaum kulit putih, perampokan alat-alat transportasi yang membawa bantuan, pembunuhan. Ada sesuatu yang perlu dibenahi disini.

Orang-orang yang dirampok oleh para bajingan memiliki pola yang sama seperti bagaimana para gelandangan di kota-kotabesar sering menjadi sasaran perampokan. Psikopat dan sosiopat eksis dimana-mana dan di setiap level kehidupan. Bajingan melukai orang-orangtak peduli ia kaya, miskin, tua, muda, hitam, putih, lelaki ataupun perempuan. Bagi mereka, ini semua hanya sebuahpiknik dalam pengakumulasian properti. Kejahatan tetap akan eksis walaupun properti telah melenyap. Ia juga hadir di tengah-tengah komune dan zona otonom. Kita harus menghadapi ini semua, ini bukan sekedar kapital, spectacle atau[un peran sosial yang jadimenyebalkan. Beberapa orang juga demikian, dan ini tidak karena mereka kaya atau miskin. Dan hanya karena seseorang itu miskin, tidak lantas berarti bahwa segala yang ia lakukan dapat dibenarkan. Contoh kasus adalah saat seorang pengemudi truk diserang dan dipukuli kepalanya berulang kali hanya karena ia berkulit putih. Hal ini lebih disebabkan karena kehidupan harian di New Orleans yang memarginalkan kaum kulit hitam. Tapi sekedar menyalahkan rasisme, tidak menyelesaikan apa-apa. Kata kuncinya adalah jugabahwa sang penyerang tersebut tak pedulian, brutal dan bajingan yang bodoh dan patut dikasihani. Saran pertama kami adalah bahwa kita tidak seharusnya bagitu saja terjebak dalam jebakan yang mengatakan bahwa semua kata media massa adalah salah dan semua kata media independen itu benar. Tak ada absolutisme disini. Amat sangat berbahaya untuk segera menuduh bahwa laporan media massa tentang tindak perkosaan dan rasisme serta penjarahan komoditi itu adalah sesuatu yang berlebih-lebihan dan menekankan bahwa disana hanya ada sekedar penjarahan sebagai proses bertahan hidup. Kita harus belajar untuk melihat dari seluruh sisi, sebanyak mungkin sisi yang kita mampu dapatkan.

Penjarahan masih sulit untuk disebut sebagai sebuah tindakan yang revolusioner. Ia seringkali menghancurkan nilai-guna, tetapi ia juga tak jarang mendapatkan skuadron cheerleader nihilisnya sendiri. Ingin mengubah relasi sosial? Jendela memiliki sebuah nilai guna dalam sebuah bentuk bangunan, mengapa tidak menendang nilai-tukar gedung itu sendiridengan mendudukinya sebagai sebuah teritori yang bebas, yang dapat digunakan untuk lokasi penampungan bagi mereka yang selamat dan tempat tinggal baru bagi semua orang. Penjarahan dan perampokan barang untuk lantas ditimbun di lokasi penimbunan pribadi atau hanya sekelompok orang saja, hanyalah sebuah aksi yang tak lebih dari sebuah kontinuitas mentalitas hasil kapitalisme. Penjarahan saja, itu bukan sebuah aksi revolusioner apabila ia tak dibarengi dengan pembangunan komunitas dari mereka yang selamat dan pendudukan zona-zona yang masih dapat diambil alih dan ditransformasikan menjadi zona otonom.

Tanpa itu semua, kekacauan dan ketiadaan hukum negara hanya berperan sebagai sebuah bukti bahwa negara memang masih dibutuhkan. Ia hanya mendorong kontinuitasrezim hirarkis, kebodohan dan kekerasan. Para penjarah itu seharusnya membangun komunitas dari mereka yang selamat, sebuah komunitas tanpa perampok, polisi dan setumpuk komoditi yang tak berguna seperti televisi dan perhiasanmaka kami akan tunjukkan sebuah aksi yang lebih revolusioner daripada sekedar sekelompok orang beraksi penuh kekerasan menjarah toko-toko dan mengakumulasikan komoditi di sebuah tempat tersembunyi yang dijaga ketat secara eksklusif dan diperuntukkan bagi kepuasan diri mereka sendiri.


Usulan Pertanyaan Bagi Semua Orang Saat Menghadapi Krisis

Mengetahui bahwa menurut laporan para ahli badai dan bencana alam masih terus berlanjut di berbagai belahan bumi, dan mengetahui juga bahwa selalu ada kemungkinan bagi kita untuk dapat bertahan hidup setelah kita mengalami bencana, maka akan ada pertanyaan serius yang patut direnungkan.


Kuis no 01: Apakah televisi dapat digunakan untuk rakit?
Kuis no 02: Apakah snack dapat membuat tubuh kita kuat di saat krisis?
Kuis no.03: Apakah Levis atau Prada akan membuat kita kedap air?
Kuis no.04: Apakah kita benar-benar mengambil alih hidup kita yang tercuri?
Kuis no.05: Ataukah kita hanya sekedar konsumer yang tak melihat label harga?
Kuis no.06: Apakah hal itu adalah sebuah video game soal bencana?
Kuis no.07: Apakah kita adalah pemeran video game yang dimainkan oleh orang lain?
Kuis no.08: Siapakah pemeran sesungguhnya dalam permainan ini?
Kuis no.09: Siapakah yang telah tahu bahwa badai di Asia adalah pre-season game?
Kuis no.10: Apakah kita memang spesies yang layak untuk terus hidup?
Kuis no.11: Apakah bertahan hidup adalah satu-satunya level terakhir dalam game ini?


Akankah perang kelas ini harus berakhir dengan mayat-mayat manusia miskin berikutnya yang akan mengambang, tetapi kali ini dalam kostum high-fashion, remote dan menggenggam snack? Penjarahan yang sesungguhnya adalah sebuah penjarahan atas apapun dan dimanapun, untuk merebut kembali hidup kita yang tercuri. Sebuah penjarahan dengan konsekwensi dan perhitungan jangka panjang. Tanpa itu semua, ini memang hanya sebuah kontinuitas kapitalisme belaka, sebuah imitasi kehidupan harian pra-bencana.


Penjarah, kalian butuh satu langkah sosial lagi untuk menjadi revolusioner!


Bagian 2

Anarki dan Penjarahan Pasca-Bencana di New Orleans

Harapan kami hanya dapat lahir dari mereka yang tak memiliki harapan
—Grafiti di tembok kota Paris saat revolusi 1968

Kurang dari setengah mil, di New Orleans Convention Center, Sadique Jabbar menyantap sarapan pertamanya Jumat ini dengan sebungkus Cheetos yang seseorang berikan padanya sekitar pukul 11 AM. Kalian tahu bagaimana aku bisa mendapatkan makanan? Ujar Jabbar, Beberapa orang yang kabur dari penjara menjebol ke dalam beberapa gedung, mengumpulkan makanan untuk kami dan membawanya kemari.
—Koran San Fransisco Chronicle, 3 September 2005

Seperti yang pernah kami tulis dalam artikel awal kami, memang sesungguhnya selalu ada harapan yang muncul dari ketiadaan harapan. New Orleans, adalah sebuah daerah di Amerika Serikat yang dianggap paling dekaden karena angka kemiskinan yang sangat tinggi sebanding dengan angka kriminalitas dan dihuni oleh mayoritas penduduk kulit hitam. Ini juga menjadi salah satu lokasi yang dihantam badai Katrina dan dibiarkan luluh lantak tanpa bantuan sama sekali dari pemerintah. Salah satu kasus di mana pemerintah secara sistematik melakukan genosida terhadap kaum kulit hitam yang walaupun perbudakaan secara resmi telah dihapuskan, tetapi mereka tetap ditempatkan sebagai warga negara kelas dua.


Pupusnya Harapan Terakhir

Lebih banyak korban meninggal daripada tragedi WTC 11 September. Tapi bahkan tak ada liputan media besar-besaran dan perhatian publik yang layak. Juga tak ada pengibaran bendera setengah tiang tanda berkabung. Media massa resmi hanya melaporkan kasus penjarahan, perampokan dan pemerkosaan. Tak ada liputan khusus mengenai bagaimana para pengungsi kulit hitam yang ditampung di Superdome dibiarkan sendiri tanpa bantuan air bersih, makanan dan toilet yang memadai, sementara polisi bersenjata menjaga di luar Superdome untuk mencegah para pengungsi keluar dari lokasi penampungan.

Juga tak ada liputan mengenai bagaimana jembatan utama yang dapat digunakan untuk meninggalkan kota yang luluh lantak akibat bencana, dijaga ketat oleh polisi bersenjata api. Mereka ditugaskan untuk mencegah mereka yang selamat agar dapat keluar dari New Orleans. Ada sebuah password bagi para polisi yang menjaga jembatan, bila engkau miskin dan berkulit hitam, maka engkau dilarang menyeberangi sungai Mississippi dan tak diperbolehkan keluar dari New Orleans. (Get Off the Fucking Freeway: The Sinking State Loots Its Own Survivors, Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky)

Tak ada liputan juga mengenai bagaimana Palang Merah dilarang secara resmi untuk memasuki lokasi bencana. Departemen Pertahanan Dalam Negeri negara telah meminta dan terus meminta agar Palang Merah Amerika tidak kembali lagi ke New Orleans. Kehadiran kami dianggap hanya akan mendorong orang untuk melakukan evakuasi dan mendorong bantuan lain untuk datang ke kota tersebut. (situs resmi Palang Merah Amerika)

Banyak orang muda kehilangan akal karena beberapa helikopter terus menerus terbang di atas kami dan tak mau berhenti sama sekali. Kami berdiri di tempat terbuka, melakukan sinyal SOS, kami melakukan segalanya. Hingga sampai pada satu titik, di mana anak-anak muda tersebut benar-benar frustasi sehingga mereka mulai menembakkan senapannya ke udara. Mereka tidak menembak helikopter seperti yang diberitakan oleh media. Mereka menembak dengan harapan pilot helikopter melihat mereka. Tetapi itu juga tidak membantu sama sekali. Tak ada satu pun helikopter yang membantu kami. (dari transkript interview video dengan Neville)


Hadirnya Bibit Harapan akan Dunia Baru

Di sebuah lokasi di French Quarter, dataran tinggi kota New Orleans yang tak terendam air, dua orang paramedis lokal membangun hotel sebagai rumah sakit dan pusat komunitas. Kami membentuk sebuah tempat yang diprioritaskan bagi yang sakit, manula dan bayi-bayi yang belum lama lahir. Kami saling bantu membantu agar kami semua bisa dapat tetap bertahan hidup di sini, karena bantuan yang dijanjikan oleh negara federal, pusat dan institusi lokal tak pernah termaterialkan sama sekali. Kami harus mulai belajar untuk bekerjasama tanpa membutuhkan campur tangan pemerintah. (Get Off the Fucking Freeway: The Sinking State Loots Its Own Survivors, Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky)

Sadar dalam ketiadaan informasi dan asistensi dari luar, kelompok-kelompok baik yang kaya maupun miskin saling bergabung bersama di French Quarter, sebuah tempat di dataran tinggi New Orleans yang tidak terendam air, membentuk kelompok tribal mereka sendiri dan membagi-bagi pekerjaan yang harus dilakukan untuk dapat bersama bertahan hidup.

Beberapa turun ke sungai untuk mencuci di saat yang lainnya menjaga peralatan dan tempat tinggal mereka. Dalam sebuah bar, seorang bartender berusaha keras dan dengan hasil yang nyaris sempurna beralih peran menjadi seorang dokter.

Saat kekerasan antar mereka yang bertahan hidup dan alienasi justru semakin menjadi-jadi, di kota yang nyaris terlupakan ini, sesuatu justru lahir di tengah-tengah lingkungan penduduk yang sebelumnya adalah tempat paling dekaden di Amerika Serikat: kemanusiaan.

Membangun tempat tinggalnya di antara bangunan-bangunan yang telah ditinggalkan di daerah-daerah dataran tinggi dan diperlengkapi dengan sambungan listrik bawah tanah yang masih berfungsi, para penduduk yang ditinggalkan tanpa penyelamatan menganggap tempat-tempat tersebut sebagai tempat paling aman yang bisa didapatkan.

Bahkan tempat-tempat tersebut menjadi jauh lebih baik daripada mereka yang pergi menyelamatkan diri dan dibiarkan hidup berdesakan tanpa bantuan yang layak seperti air bersih dan listrik di tempat penampungan resmi pemerintah seperti Superdome dan Convention Center.

Para penduduk yang ditinggalkan dan diabaikan tanpa dikirimi bantuan, yang kemudian membangun sendiri komunitas dari mereka yang selamat tanpa mengharapkan lagi bantuan apa pun dari pemerintah ataupun badan bantuan resmi lainnya, adalah contoh terbaik di mana publik dapat bekerja sama tanpa instruksi atasan ataupun para spesialis dan intelektual.

Yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah bar bernama Johnny White, yang terkenal tak pernah tutup, bahkan setelah badai, tetap tak mau mengunci pintunya. Hanya saja, ada sebuah transformasi pasca bencana. Ia tak lagi menjadi sekedar bar. Di antara bir hangat, bartender menyediakan biskuit-biskuit dan air mineral bagi siapapun yang dapat membantu para pengusahanya untuk bekerja sama membangun komunitas di antara reruntuhan dan kekacauan.

Ia menjadi semacam pusat kegiatan komunitas, yang bagi beberapa lainnya ia adalah juga berfungsi sebagai rumah sakit. Semua orang saling bantu, menyediakan jasa mereka secara gratis dan sukarela. 12 orang menjalankan pusat komunitas Johnny White dengan baik dan teratur walaupun tak memiliki pemimpin. Kelompok tribal tersebut terdiri dari seorang dokter, kasir dan seorang pedagang. Mereka saling bertukar pikiran tentang pengembangan taktik bertahan hidup bersama orang-orang lainnya dalam kelompok mereka.

Saat pada akhirnya ada sebuah bus yang dikirimkan oleh lembaga bantuan internasional dan menawari kelompok tersebut untuk pergi, hanya empat orang anggota kelompok tribal tersebut yang memilih untuk pergi. Sisanya memilih untuk tetap tinggal dan terus membangun komunitasnya.

Seperti apa yang dikatakan oleh seorang anggota kelompok tersebut, Mark Rowland, “Hatiku akan sangat hancur apabila harus meninggalkan tempat yang kucintai ini. Tidak seharusnya semuanya berakhir seperti ini. Kita dapat membangun dunia baru disini, saat ini.”

Beberapa kelompok radikal di luar New Orleans merayakan penjarahan yang terjadi sebagai sebuah praksis anarkisme karena dalam pola penjarahanlah si miskin dapat merebut kembali hak hidupnya selain bahwa penjarahan berarti pula runtuhnya dunia jual-beli yang dimapankan kapitalisme. Tetapi penjarahan tanpa pembangunan komunitas, adalah sebuah hal yang setengah-setengah, ia bukanlah sebuah tindak revolusioner karena ia tak menawarkan sebuah tatanan dunia baru. Justru apa yang dilakukan oleh Larry Bradshaw dan Lorrie Beth Slonsky, dua paramedis yang membangun pusat komunitas di French Quarter, serta kelompok tribal Johnny White itulah anarkisme melebur ke dalam praksis dan meninggalkan label utopianya. Dan itulah sebuah bukti bahwa dunia baru adalah sesuatu yang mungkin. Ia telah lahir di tengah puing dan kehancuran.

Problem bagi mereka di sana sekarang adalah bagaimana mereka dapat memapankan relasi sosial baru yang mulai terbentuk di sana, sementara bagi kita di luar New Orleans adalah bagaimana kita mulai mengubah relasi sosial kita sehari-hari di manapun kita tinggal, demi dunia baru yang mulai menampakkan sinarnya di reruntuhan New Orleans. Terakhir, alangkah pantasnya apabila artikel ini ditutup dengan sebuah kutipan dari Durrutti, seorang anarkis yang hidup di era perang sipil Spanyol 1936, “Setidaknya, kami tidak pernah takut lagi pada kehancuran, semenjak kami membawa dunia baru di hati kami.”