Glosarium

      Melawan Reformisme

      Melawan Purisme

      Membangun Kekuatan dan Mengembangkannya

      Maju ke Depan

Kita akan melakukan semua reformasi yang mungkin dilakukan dengan semangat pasukan yang maju ke depan sembari mengambil alih wilayah yang diduduki musuh sepanjang jalur yang dilaluinya.” – Errico Malatesta[1]

Glosarium

Reformasi: Perbaikan-perbaikan kondisi dan lingkungan dalam cangkang sistem saat ini.

Kekuatan Populer: Kekuatan rakyat, massa, kelas pekerja, komunitas, orang sepemukiman, dan lainnya. Arus Populer berseberangan dengan Arus Otoritarian, yaitu kekuatan yang berusaha membuat kelas populer patuh dan tunduk pada organisasi terpusat (contohnya: Partai Politik, Negara).

Demokrasi Langsung: Keadaan di mana setiap orang bisa memberikan pendapat dan memiliki kendali atas hidup dan keadaannya; Keadaan di mana tiap orang mampu mengatur hidupnya secara langsung. Demokrasi Langsung bertentangan dengan Demokrasi Perwakilan, dimana perwakilan atas nama rakyat mengatur dan menentukan kehidupan rakyat.


Sebagai anarkis komunis, kita melawan reformisme. Namun kita hadir untuk reformasi. Kami percaya bahwa secara mendasar seluruh sistem kapitalisme, negara, dan segala sistem hierarki, dominasi, penindasan, dan eksploitasi manusia atas manusia lain harus dihapuskan dan diganti dengan demokrasi langsung, hubungan sosial yang egaliter, dan ekonomi tanpa kelas, yang berdasarkan pada kontribusi sesuai kemampuan dan distribusi sesuai kebutuhan. Namun revolusi sosial semacam itu hanya bisa terjadi melalui kekuatan kelas populer sendiri, dari bawah-ke-atas. Dalam mewujudkan revolusi sosial semacam itu dan menuju masyarakat yang merdeka dan setara, kita harus membangun kekuatan dalam rangka mempersiapkan transformasi mendasar dunia. Kita membangun perjuangan-perjuangan sepanjang jalan hingga akhirnya tuntutan kita akan menjadi benar-benar mengancam kelas elit, dan kita pun tidak lagi mampu menolerir penolakan-penolakan mereka atas hasrat kita akan kebebasan.

Melawan Reformisme

Kami melawan reformisme. Reformisme adalah kepercayaan bahwa sistem seperti yang ada sekarang ini akan tetap bertahan namun perlu sedikit diperbaiki. Bagi reformis, reformasi adalah tujuan akhir. Mereka tidak melawan sistem. Mereka menentang apa yang mereka anggap sebagai “perbuatan melampaui batas” dari sistem. Bagi kami, kerusakan yang dibuat sistem bukanlah “perbuatan yang melampaui batas” semata, namun sebuah perwujudan sifat mendasar sistem itu. Kita melihat para reformis mencoba menahan tutup panci air yang sedang mendidih, atau membiarkan uap keluar dari panci mendidih, tetapi mereka tidak menyentuh masalah mendasarnya.

Contohnya, masalah-masalah dalam sistem kapitalisme bukanlah karena beberapa kapitalis bersikap serakah atau tidak adil (kapitalis memang serakah dan tidak adil). Akar masalahnya terletak pada sistem kapitalisme itu sendiri. Secara historis, kemakmuran global kita tercipta dari tenaga kerja buruh, sumber daya, dan tanah di seluruh dunia. Ada unsur-unsur seperti kejeniusan teknologi, inovasi, dan kerja keras manusia di dalamnya. Namun ada pula unsur-unsur perbudakan, eksploitasi, monopoli, dan pencurian di dalamnya. Terlepas dari sejauh mana penindasan atau kejeniusan manusia memainkan perannya masing-masing dalam penciptaan kemakmuran, tidak ada keraguan bahwa setiap kemajuan ini sepenuhnya berakar dalam relasi-relasi sosial dan kondisi lingkungan sosial, serta proses historis.

Kropotkin menggambarkan hal ini dari perspektifnya dalam The Conquest of Bread.[2] Jika memang penciptaan kekayaan berakar dalam relasi dan lingkungan sosial, mengapa ada beberapa orang yang diizinkan untuk memiliki dan menguasai tanah, kekayaan, dan alat-alat produksi? Bukankah hal-hal tersebut seharusnya juga menjadi milik sosial–milik bersama semua orang? Bukankah segala hal tersebut adalah warisan dan sumbangan sejarah manusia yang berasal dari proses sosial yang kompleks dan saling berinteraksi hingga memberikan kepada kita segala kekayaan yang kita miliki sampai saat ini? Jadi bagaimana kita bisa membenarkan sebuah sistem yang memberi manfaat hanya kepada segelintir orang sementara semua kemakmuran tersebut dikembangkan secara historis dan dipelihara secara sosial? Dan bagaimana bisa kita hanya menyerukan reformasi bagi sistem seperti itu?

Kondisi ini seperti duduk di jamuan makan malam keluarga, lalu kakak laki-laki Anda mengklaim kepemilikan dapur meskipun yang memasak makan malam tersebut adalah Anda dan orang tua Anda. Kakak laki-laki Anda kemudian menerima semua makanan yang Anda dan orang tua Anda hasilkan, lalu memberi Anda dan orang tua Anda masing-masing 10% dari makanan tersebut sementara dia menyimpan 70% dari makanan tersebut sebagai pemilik dapur. Seorang reformis akan mengatakan bahwa jika saja setiap anggota keluarga bisa mendapatkan 15% atau 20% (dan kakak laki-laki Anda mendapat 55% atau 40% sebagai “pemilik”), semua orang akan baik-baik saja dan tidak kelaparan.

Tanggapan kami: ini bukanlah masalah redistribusi jika cara distribusinya itu sendiri cacat. Demikian pula dengan sistem kepemilikan dan tanggung jawab kerja keluarga tersebut. Kita mesti menciptakan sebuah sistem yang benar-benar baru di mana orang-orang berbagi produk hasil kerja bersama, yang dikerjakan sesuai dengan kemampuan masing-masing orang.

Melawan Purisme

Jadi jika kita melawan reformisme, atau reformasi sebagai satu-satunya tujuan, bukankah seharusnya kita menentang reformasi itu sendiri? Tidak. Kami ingin mendapatkan manfaat, dan kami menentang posisi yang menyatakan bahwa manfaat-manfaat tersebut tidak ada gunanya. Purisme adalah kecenderungan beberapa orang untuk mencoba bersikap begitu murni dalam posisi ideologis mereka sehingga mereka tidak dapat mengatasi naik turunnya realitas. Menyamakan reformasi dengan reformisme adalah kesalahan. Seorang puris menolak posisi apapun yang tidak secara persis mencerminkan posisi ideologisnya. Menyisakan sedikit ruang untuk dialog dan membangun bersama orang lain, dan malah terjebak dalam posisi yang terus-menerus menyerukan hanya visi jangka panjang tanpa ada usulan yang jelas mengenai bagaimana cara menuju ke sana, atau cara yang jelas untuk membangunnya bersama orang-orang di sepanjang jalan itu. Purisme sering menyebabkan sempitnya ruang bagi kegiatan-kegiatan lain selain tulis menulis agitasi yang tidak membumi dan teori-teori abstrak dari kejauhan. Pendekatan “idealnya begini atau tidak usah sama sekali” seperti ini menyisakan sedikit ruang untuk pembangunan situasi revolusioner. Pendekatan ini hanya berfokus jangka panjang dan mengabaikan bagaimana tujuan jangka pendek dan menengah dapat terhubung ke visi jangka panjang.

Membangun Kekuatan dan Mengembangkannya

Lalu apa solusi bagi anarkis komunis? Kami berusaha membangun kekuatan menuju sebuah revolusi. Kami merasa bahwa hanya gerakan massa kelas tertindas, tereksploitasi, dan terdominasilah yang mampu mengakhiri penindasan, eksploitasi dan dominasi. Sebagai anggota kelas ini, kami berusaha berkontribusi pada gerakan ini. Dalam jangka pendek, kita mencari hasil dari pembangunan kesadaran, kapasitas, keterampilan, solidaritas, dan organisasi. Dari perspektif revolusioner, ini semua melibatkan apa yang FARJ sebut sebagai kerja sosial dan penyisipan sosial.[3] Pada awalnya, kita berpartisipasi dalam gerakan sosial–atau kerja sosial. Seringkali pandangan-pandangan kita tidak berdaya tarik bagi orang lain di gerakan tersebut. Melalui partisipasi yang konsisten, berprinsip, dan efektif, kita dapat membangun hubungan dengan orang lain, membangun kepercayaan dan rasa hormat, dan berdialog dengan orang lain mengenai pandangan dan posisi kita. Setelah beberapa saat, kita berharap dapat mencapai beberapa langkah penyisipan sosial, yaitu mempengaruhi pergerakan sosial ke arah yang lebih demokratis secara langsung, lebih agresif, lebih sadar kelas, lebih anti-hierarki, lebih diresapi dengan kesadaran revolusioner jangka panjang, dan seterusnya.

Dalam jangka pendek, kami juga ingin memenangkan reformasi. Kalah dalam perjuangan reformasi dapat menurunkan semangat partisipan dalam proses perjuangan yang mungkin membuahkan hasil. Namun kemenangan juga dapat melumpuhkan partisipasi dan energi karena orang merasa bahwa mereka telah berhasil. Demikian pula kemenangan dalam perjuangan reformasi dapat membangun kepercayaan diri, organisasi, kapasitas, solidaritas, keterampilan, dan kekuatan. Kekalahan dalam perjuangan reformasi dapat memperkuat tekad dan menajamkan strategi. Intinya, meskipun kita menginginkan reformasi untuk memperbaiki kehidupan kelas tertindas dan rakyat sebab kita adalah bagian darinya, hal yang lebih mendasar bagi perjuangan–entah menang atau kalah–adalah mengembangkan kekuatan gerakan. Perkembangan ini dapat muncul baik dari kemenangan ataupun kekalahan dalam perjuangan-perjuangan reformasi.

Beberapa elemen penting dalam perjuangan reformasi adalah:

  1. Memperjuangkan reformasi secara langsung menggunakan kekuatan kolektif dari bawah ke atas melawan kekuasaan elit. Tidak terjebak dalam “solusi” legal, seperti pemilu atau lainnya, yang bersifat dari atas ke bawah. Perjuangan dari bawah ke atas akan membangun kekuatan dan tidak menambah ketergantungan pada segelintir “juru selamat”

  2. Selalu menyadari sejak awal perjuangan bahwa akan ada resiko kekalahan dan bersiap untuk menghadapinya, juga selalu menekankan pentingnya perjuangan yang melampaui reformasi tertentu. Apakah reformasi tersebut dimenangkan atau kalah, perjuangan berlanjut hingga situasi yang tidak adil berubah.

  3. Selalu melakukan refleksi, selalu mengakui bidang-bidang mana yang harus ditingkatkan kualitasnya, dan selalu berupaya untuk memperbaiki hal ini bersama-sama. Jika kita tidak mendasarkan perjuangan kita pada praksis–kombinasi tindakan dan refleksi–maka kita akan terlibat dalam teori kosong yang tidak membumi dan jauh dari kenyataan, atau malah terjebak dalam aktivisme yang tidak efektif dan tidak dipikirkan dengan baik.

Dalam jangka menengah, kita ingin membangun kekuatan. Tentu saja kita ingin mengurangi eksploitasi, penindasan, dan dominasi di mana pun jika memungkinkan. Namun dalam jangka menengah–terlepas dari apakah kita memenangkan reformasi atau tidak–perjuangan itu sendiri harus berfungsi untuk memperkuat gerakan sosial dan organisasi-organisasi berbasis kelas sehingga gerakan dan organisasi ini mampu tumbuh menjadi lebih efektif di perjuangan masa depan. Kami ingin menciptakan sebuah dinamika di mana kekuatan berbasis kelas, kekuatan dari bawah-ke-atas, demokrasi langsung, yang bersifat kolektif, anti-hierarki, dan anti-penindasan tumbuh semakin kuat seiring berjalannya waktu. Kekuatan ini adalah hasil dari peningkatan kesadaran bersama akan penyebab eksploitasi, dominasi, dan penindasan, juga kemudian bagaimana cara untuk melawannya dan mengakhirinya. Ia adalah hasil dari organisasi yang berfungsi lebih baik, lebih banyak solidaritas, berkurangnya penindasan internal antar anggota; komitmen bersama semua anggota untuk secara bersatu dan tersentral menantang berbagai manifestasi penindasan institusional, sistemik dan budaya; lebih banyak pengembangan keterampilan mau pun distribusi pengembangan keterampilan yang lebih merata; komitmen yang lebih besar untuk berjuang; realisasi cara-cara yang lebih efektif untuk berjuang, dan seterusnya.

Dalam jangka panjang, kita menginginkan kekuatan dari bawah-ke-atas yang populer ini tumbuh ke titik di mana ia dapat secara efektif mengakhiri semua sistem penindasan, dominasi dan eksploitasi, lalu menggantinya dengan sistem sosial dan ekonomi yang kooperatif politis, anti-hirarkis, egaliter, dan demokrasi langsung. Kami melihat situasi revolusioner ini dapat terjadi setelah beberapa dekade pertempuran–melalui banyak kemenangan dan kekalahan–di mana kelas populer terus meningkatkan kekuatan mereka dan terus menuntut lebih dan lebih lagi hingga tuntutan mereka terlalu banyak untuk dapat diberikan oleh kelas elit. Hingga kekuatan kelas populer cukup besar untuk melakukan revolusi secara efektif.

Revolusi meliputi pelenyapan negara dan semua bentuk pemerintahan yang mendikte dari atas, yang kemudian diganti dengan pengambilan keputusan yang dilakukan secara demokratis, langsung oleh rakyat, pengambilalihan lahan dan alat-alat produksi dari kelas kapitalis, dan swamanajemen dari bawah-ke-atas oleh pekerja dan komunitas. Revolusi juga termasuk pembentukan ekonomi global tanpa kelas. Ekonomi yang egaliter dan kooperatif, di mana kontribusi sesuai dengan kemampuan dan distribusi sesuai dengan kebutuhan. Lenyapnya semua sistem penindasan dan menggantinya dengan sistem sosial, praktik budaya, dan relasi yang menghargai dan menghormati semua orang dalam kemanusiaan dan individualitas mereka sepenuhnya. Pelenyapan sistem nasional yang hanya menghargai segelintir orang saja dan menggantinya dengan pemberian martabat, penentuan nasib sendiri, dan kebebasan kepada semua manusia serta menghargai semua manusia di seluruh dunia secara setara. Revolusi juga berarti mengakhiri kerusakan lingkungan dan menggantinya dengan praktik lingkungan yang berkelanjutan dan lestari.

Maju ke Depan

Singkatnya, kita harus menolak mentalitas reformisme, yang melihat adanya perbaikan jangka pendek, atau bahkan serangkaian reformasi, sebagai tujuan akhir dalam perjuangan kita. Kita juga harus menolak mentalitas purisme, yang menolak semua gerakan reformasi karena menyamakannya dengan reformisme, sehingga dianggap kontraproduktif, dan tidak berguna. Sebaliknya, kita harus terlibat dalam perjuangan reformasi sebagai program jangka pendek. Perjuangan reformasi ini harus menjadi sarana untuk membangun kekuatan populer dari bawah-ke-atas dengan pengorganisasian secara horizontal sebagai program jangka menengah. Program jangka menengah ini termasuk juga peningkatan kesadaran, keterampilan, solidaritas, kapasitas, dan organisasi. Kita tidak boleh berhenti membangun kekuatan ini. Kita terus tumbuh, berkembang, dan maju–bahkan jika kita terkadang bimbang atau kalah sementara waktu–menuju kemungkinan situasi revolusioner di mana kita menghancurkan penyebab mendasar dari eksploitasi, dominasi dan penindasan itu sendiri, dan bukan hanya menghancurkan gejalanya saja.

[1] Malatesta, Errico. The Anarchist Revolution: Polemical Articles 1924- 1931, Pg 81.

[2] Kropotkin, Peter. The Conquest of Bread, Chapter 1: Our Riches.

[3] “Especifismo in Brazil: An Interview with the Anarchist Federation of Rio de Janeiro (FARJ)” by Johnathan Payn.