Tida Wilson
Analisis Sajak Pier Paolo Pasolini: Kondisi Imanen dalam Pembentukan Ideologi Fasisme
Anak-anak miskin di padang rumput yang tak terbebani waktu, melempar tubuhnya ke sungai berlomba memperebutkan hadiah.
Anak-anak miskin di padang rumput mengejar-ngejar orang gila, didorongnya dengan kedua tangan dibakar tubuhnya di tepian pantai.
Mari lekas, wahai gadis rembulan, wahai buah hati dari bintang pagi, segera karunai mereka dengan belaian surgawi.
Anak-anak miskin di padang rumput memburu kaum borjuis, mencincang kepala musuh dan sesiapa yang tak seiman.
Anak-anak miskin di padang rumput memungut ranting-ranting rosmarin menutupi lubang mata air demi memerangkap para gadis.
Anak-anak miskin di ladang mengolok-olok si pendeta, dipakaikan jubahnya lalu diseretnya ke alun-alun pasar.
— Pier Paolo Pasolini, “Anak-anak Miskin di Padang Rumput”[1]
Pier Paolo Pasolini adalah seorang multi-talenta; novelis, pelukis, dramatis, jurnalis, pembuat film, sekaligus penyair, yang lahir di Bologna, Italia, pada tahun 1922. Seorang intelektual total. Namanya sebagai seorang penyair tak begitu terdengar di Indonesia, bahkan di Barat sekalipun, kecuali bagi para kutu film yang menyimpan “Accattone” di barisan koleksinya. Ia memang lebih dikenal sebagai Pasolini si sutradara, ketimbang Pasolini si penyair. Bagi para pembencinya, Pier Paolo Pasolini adalah ‘komunis kotor’, ikonoklas, homoseksual yang mati dengan naas, dibunuh, digilas oleh Pelosi (teman kencannya) menggunakan mobil Alfa Romeo. Meskipun belakangan terungkap bahwa Pelosi ‘diancam’ dipaksa membunuh atas nama keluarganya oleh aktor-aktor tanpa nama. Fakta ini tetap tak menutupi tragedi dari kehidupan sang intelektual ini.
Ayah Pasolini adalah letnan, sementara Ibunya adalah seorang guru sekolah. Pasolini menggeluti pendidikan filologi di Universitas Bologna, sebelum akhirnya terpaksa terhenti karena pecahnya Perang Dunia kedua. Pasolini lantas diboyong sang Ibu ke Friuli (kampung halaman Ibunya), yaitu wilayah perbatasan Italia yang menghubungkan antara Austria dengan Yugoslavia. Semasa remaja, Pasolini menghabiskan sebagian besar waktunya di sana.
Pasolini dan keluarganya tiba di Casarsa pada tahun 1941, sebuah wilayah komune di Barat Laut Trieste, Friuli. Di sini, Pasolini pertama kali tertarik untuk memelajari dialek lokal dan mulai menceburkan dirinya lebih dalam ke permainan Bahasa puitik. Ia bereksperimen dengan menulis menggunakan Bahasa Friulian, Bahasa yang ia tidak pernah kuasai. Beberapa puisi di awal karirnya ia tulis di bawah pengaruh Friuli. Buku puisi dialek Friulian pertamanya Poesie a Casarsa diterbitkan pada tahun 1942.
Casarsa meninggalkan kesan yang teramat mendalam dalam bagi diri Pasolini. Pasolini kerap mengidentifikasikan dirinya dengan mereka yang terpinggirkan. Kesederhanaan dan geliat perjuangan para kaum miskin-tani Friuli saat menentang ketidakadilan kaumkaum pemilik tanah, turut mempengaruhi pandangan politik Pasolini sepanjang hidupnya. Sebagai seorang Katolik (dengan caranya sendiri), sekaligus Marxis-komunis yang kritis, lengkap dengan komitmen utuh terhadap elan kaum tertindas.
Pasolini sempat melalui wajib militer di tahun 1943, sebelum resimennya tertangkap oleh unit militer Jerman. Ia berhasil kabur dari tahanan dengan menyamar sebagai petani, dan menemukan jalannya kembali ke Casarsa. Dalam periode ini, perkembangan artistik dan politik Pasolini sudah jauh berkembang. Ia mulai menekuni ideide Marx dan Gramsci, teoretisi Marxis Italia terdepan. Ia semakin militan dalam keyakinannya, dan wataknya pun semakin keras dalam menghadapi gelombang fasisme yang menyapu seluruh Italia (dan Eropa).
Pasolini bergabung dalam Partai Komunis Italia di usia yang amat belia, ia meraih gelar doktor dan bekerja sebagai guru sekolah menengah pertama di sepanjang tahun 1943 sampai 1949. Sajak “Anak-anak Miskin di Padang Rumput” ia tulis saat periode kebangkitan ekonomi Italia pasca Perang Dunia kedua, usai kematian Perdana Menteri sekaligus pemimpin partai fasis Partito Nazionale Fascista (disingkat PNF) Benito Mussolini. Sajak ini lahir di masa krisis identitas melanda Italia. Dalam sajak itu, Pasolini berbicara soal tendensi imanen fasis dalam tahapan perkembangan psikologis manusia, yang bahkan sudah dimulai semenjak masih kanak-kanak:
Anak-anak miskin di padang rumput
yang tak terbebani waktu,
melempar tubuh ke sungai
berlomba memperebutkan hadiah.
Penggambaran yang dituliskan Pasolini di stanza pertamanya ter sebut, sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda bahwa ia memang sedang berbicara soal fasisme, baik itu dilihat dari dimensi ideologisnya, maupun sisi psikologis subjeknya.
Ada anak-anak miskin, bermain di padang rumput, menjalani kehidupan tanpa sejarah, melalui keceriaan muda yang lugu, yang lupa atau bahkan tak menghiraukan jalannya waktu sepenuhnya. Sekilas pandang, tak ada yang aneh dari penggambaran tersebut. Tapi dalam bait terakhir, Pasolini menyinggung soal “hadiah” yang diperebutkan.
Hasrat untuk memperebutkan sesuatu dan mendapatkan imbalannya adalah pertanda simbolis kebangkitan ego, atau kehendak dalam makna Nietzschean i.e. manusia-super (ubermensch). Ini adalah aspek pertama yang bisa terbaca mengenai tendensi fasistik dalam psikologi manusia: absolutisme terhadap angan-angan (metafisik) mengenai imbalan sebagai kunci menuju pencapaian, seolah datangnya dari tangan Tuhan.
Aspek yang kedua yang mesti dicermati dari sajak ini adalah keluguan psikologis (bukan moral) atas tindakan membunuh mereka yang dianggap sebagai makhluk paling rendah:
Anak-anak miskin di padang rumput
mengejar-ngejar orang gila,
didorongnya dengan kedua tangan
dibakar tubuhnya di tepian pantai.
Membunuh makhluk rendahan (e.g. orang-orang yang termarjinalkan: orang gila, orang dengan ras/etnis/kasta yang berbeda, kelas pekerja, dll) tanpa menggunakan senjata apapun selain kedua tangannya sendiri, seperti apa yang di deskripsikan Pasolini di stanza kedua tersebut, adalah gambaran gamblang mengenai keluguan psikologis manusia dalam tahap dini. Seperti seorang anak kecil yang membunuh serangga, tanpa benar-benar berniat atau memahami tindakan membunuh itu sendiri. Impulsnya bekerja secara spontan, tidak direncanakan. Mengejar-ngejar orang gila—orang rendahan, sebagai kegiatan yang menyenangkan dan terkesan ‘alami’, bercanda dan bergerumul dengan tangan kosong, sampai dirasa keterlaluan—selugu perilaku anak yang beradu gulat di kasur: si anak-anak miskin tak berpikir lebih dari tirani spontanitas yang mengontrolnya. Dan mereka membakar tubuh orang gila, seperti mereka membakar bangkai tikus, ular, atau cacing tanah di halaman rumah, hanya karena mereka bisa.
Kebencian terhadap peradaban dan ketidakadilan sosial juga bisa dirasakan di bait-bait yang terkandung di stanza keempat:
Anak-anak miskin di padang rumput
memburu kaum borjuis,
mencincang kepala
musuh dan sesiapa yang tak seiman.
Anak-anak miskin “mencincang kepala” musuh: sebuah pemberontakan mental melawan pikiran lemah para “kaum borjuis.” Bagi anak-anak miskin di padang rumput, ‘memburu’ borjuis itu bisa disamakan seperti bermain-main dengan mainan dekoratif yang mereka temui di keseharian: si anak-anak miskin tidak mengidentifikasikan kemanusiaan mereka (yang mereka representasikan sendiri), dengan kemanusian yang direpresentasikan oleh kaum borjuis. Kaum borjuis adalah objek tak-gerak yang tak bermakna apa-apa. Mereka hanya digelitik rasa penasaran, seperti anatomis amatir yang membedah otak lalu berharap menemukan pikiran. Kebencian anak-anak miskin adalah kebencian lugu, dan memiliki potensi yang berbahaya.
Di lingkungan tempat Pasolini tumbuh, kaum tani miskin (khususnya di daerah Selatan Italia) memiliki sentimen terhadap kaum borjuis: para feodal (pemilik tanah) dan industrialis (pemilik modal). Sentimen ini lekat dengan mentalitas relijius ajaran gereja Katolik yang banyak diyakini oleh mayoritas penduduk Selatan Italia seperti di Friuli; fenomena yang menurut Pasolini, spesifik dengan kondisi ekonomi-budaya di Italia.
Kondisi itu sebagian besar disebabkan oleh ketidakmerataan pembangungan akibat ledakan ekonomi selepas Perang Dunia kedua. Di daerah pedesaan seperti Friuli, budaya yang dihasilkan oleh industrialisasi, modernisasi dan konsumerisme seperti di kotakota Utara Italia (Milan, Bologna, Veron, dll) belum mengakar. Kehidupan di Friuli, menurut Pasolini, tidak jauh berbeda dengan kehidupan agraria di negara-negara Dunia Ketiga. Ini lah sebabnya mengapa Friuli adalah salah satu daerah di Italia yang kental dengan tradisi pemberontakan. Jurang pemisah antara kaum proletariat (buruh-tani) dengan kaum borjuis begitu eksplisit. Ketika terjadi ledakan ekonomi yang berdampak pada migrasi besar-besaran penduduk Selatan ke Utara, jurang ini semakin menganga. Prejudis dan stereotip budaya pun tercipta, dikotomi antara penduduk Selatan Italia yang proletar dan penduduk Utara Italia yang borjuis terbentuk; istilah-istilah peyoratif seperti “terrone” (i.e. penduduk Selatan Italia yang udik) dan “polentone” (i.e. penduduk Utara Italia yang konsumeris, dingin dan tak berbudaya) terus disematkan oleh kedua belah pihak sehingga menciptakan tegangan-tegangan yang tak terelakkan.
Kontradiksi frontal semacam ini secara konsekuen melahirkan reaksi yang keras, seperti terbentuknya organisasi misterius berhaluan Kiri radikal NTA (Nuclei Territoriali Antimperalisti) yang dibentuk di Friuli. NTA adalah organisasi teroris yang secara terang-terangan menggunakan kebencian dan ketakutan sebagai alat propaganda serta metode perjuangan untuk melawan imperialisme dan ekonomi kapitalisme-industrial. Maka dari itu, ada hal yang mesti digarisbawahi dan diwaspadai di sini. Tidak semua kebencian itu bisa dipukul sama rata. Kebencian seseorang dengan ideologi fasis (yang penuh dengan ketakutan terhadap yang-lain) berbeda dengan kebencian seseorang dengan psike fasis.
Pasolini menunjukkan bagaimana dimensi kebencian yang berfungsi sebagai emosi, bisa saja dialami oleh dua faktor berlawanan, lalu membaur secara dinamis. Dan dalam bait itu, Pasolini memeringatkan bahwa bahkan anak-anak miskin pun (dipengaruhi oleh psike lingkungan tempat tinggal) mampu mengeksploitasi kebencian; bahwa kebencian bisa melompat dari satu objektif ke yang lain, sehingga meleburkan garis antara kawan dan lawan: anak-anak miskin yang justru punya kualitas fasistik, atau fasis/borjuis yang justru punya kualitas miskin.
Diksi yang digunakan Pasolini terbilang sederhana, ia tak banyak bermain dengan gaya, bentuk, atau metafora bombastis, tapi selalu kompleks dalam penggunaan simbolismenya. Salah satunya yang ditemukan di stanza kelima:
Anak-anak miskin di padang rumput
memungut ranting-ranting rosmarin
menutupi lubang mata air
demi memerangkap para gadis.
Bait “menutupi lubang mata air / demi memerangkap para gadis” sebaiknya tidak dibaca secara harfiah, sebagai dominasi seksual primitif laki-laki terhadap perempuan belaka. Apa yang sedang digambarkan oleh Pasolini di sini jauh lebih subtil dan sarat makna. Perangkap “mata air” yang ditutupi “ranting-ranting rosmarin” di sini bisa diartikan sebagai hiasan jubah yang diperuntukkan bagi gadis sebagai objek estetis. Adegan ini bisa ditangkap sebagai bentuk penggambaran dari adat borjuis, yakni cinta superfisial (dan manipulatif ) yang penuh santun, fenomena yang tradisinya terbilang masih baru.
Sementara pada kenyataannya, seksualitas regresif dengan konotasi yang cenderung primitif adalah hal intrinsik dalam diri setiap manusia (insting “kebinatangan” dari kegiatan seksual sebagai cara reproduksi). Tradisi semacam ini juga yang biasa digunakan untuk memalsukan hubungan—yang mestinya dilandaskan pada ketertarikan dan keterikatan yang bersifat emosional atau seksual—sebagai kamuflase terhadap perjanjian/kontrak finansial atau bahkan yang bersifat oligarkis/feodal sekalipun, seperti keturunan, kelas, pangkat, dan kasta.
Pasolini seolah-olah mengatakan, seberapa banyak ‘hiasan’ pemberian dari peradaban, tetap tak mampu menutupi motif-motif busuk yang melatarinya; seberapa pun banyaknya bunga ditebar, bau tahi akan tetap tercium. Stanza tersebut adalah gambaran akurat mengenai kecenderungan seksualitas seseorang dengan psike fasistik dan pengabdiannya terhadap nilai dan adat (manipulatif ) yang hanya bisa mengaktualkan dirinya lewat paparan budaya.
Antagonisme Pasolini terhadap budaya-budaya atau peradaban warisan borjuis sebagian besar terilhami dari kedekatannya dengan ide-ide Gramsci. Ide-ide Gramsci mengenai hegemoni budaya terefleksikan secara jelas dari pandangan Pasolini terhadap budaya Italia secara keseluruhan, seperti yang terlihat di banyak puisinya. Menurut Gramsci, hegemoni budaya adalah sebuah konsep di mana kondisi masyarakat dengan kebudayaan majemuk didominasi oleh ideologi kelas penguasa melalui konsensus dan kontrol. Ideologi tersebut biasa dipandang sebagai hal yang sifatnya universal, saat pada kenyataannya hanya menguntungkan kelas penguasa.
Pasolini melihat budaya konsumeris yang dominan di Italia pasca Perang Dunia kedua, sebagai ideologi kelas penguasa yang kerap menindas budaya sub-proletariat (kaum melarat dari yang miskin). Konsumerisme adalah norma yang diterima mayoritas. Alih-alih menerima nilai atau norma terberi sebagai hal yang natural—sudah semestinya—setiap orang harus mampu untuk mengevaluasi dan menyelidiki nilai, norma atau peran institusi yang menghasilkannya. Di sinilah letak pendirian Gramsci yang juga diamini oleh Pasolini.
Pasolini cenderung skeptis terhadap peran institusi-institusi pendidikan (sekolah), atau institusi agama (gereja), yang ia anggap hanya bekerja untuk “menormalisasi” ideologi kelas penguasa. Selain itu, ia juga mempunyai hubungan konfrontatif dengan institusi dan lingkaran ‘intelegensia’ Italia yang menurutnya aristokratik—tempat di mana ia semestinya (boleh) bersandar—dan lebih memilih untuk berada di jalan, berbecekan-becekan dan menghirup asap-asap pabrik bersama kaum proletar dan lumpen-prolet seperti germo, pelacur, gigolo, pencopet, mantan napi, dst.
Ia sendiri adalah pribadi yang relijius, tapi di saat yang bersamaan, juga menentang eksistensi klerik-klerik gereja yang menurutnya telah ‘terinstitusionalisasi’. Sentimennya tersebut bukan berasal dari moral humanitarian yang bersifat mesianis. Semuanya timbul dari kecintaannya yang tulus terhadap budaya non-hegemonik dan kesejahteraan kaum proletar untuk menciptakan kebiasaan yang baru, pula mandiri—di luar dari kebiasaan-kebiasaan borjuis yang menurutnya justru menodai kemurniannya.
Seperti halnya kisah tragedi Yunani, Pasolini percaya bahwa takdir dari seorang anak adalah untuk mengemban tanggung jawab dari dosa-dosa yang diperbuat oleh sang ayah[2]. Motif pendamping di balik tindakan “mengayomi” Pasolini dipengaruhi oleh kesadaran yang tumbuh di dalam dirinya. Ia pun kian merasa dirinya adalah juga termasuk dalam bagian generasi sang ayah. Pasolini bersiteguh bahwa penyakit yang dialami generasi muda Italia pasca perang adalah kenyataan bahwa mereka terpaksa harus menghidupi dosadosa yang diperbuat generasinya. Dosa seperti apa? Pasolini tidak menganggap era kebangkitan fasisme di Italia sebagai dosanya; tapi apa yang terjadi setelahnya lah yang membuat Pasolini begitu malu. Budaya konsumerisme; penerimaan sejarah borjuis sebagai satu-satunya narasi dalam sejarah, yang sama sekali tak memiliki karakteristik dan kisah mengenai perjuangan orang-orang yang menolak tunduk dan jatuh ke dalam kelas penguasa yang hegemonik. Itu sebabnya, di stanza terakhir sajaknya, Pasolini mewaspadai tendensi yang dihasilkan oleh keluguan kognitif generasi muda yang tercerabut dari akar sejarahnya, dan kaitannya dengan pemurnian akal sehat:
Anak-anak miskin di ladang
mengolok-olok si pendeta,
dipakaikan jubahnya
lalu diseretnya ke alun-alun pasar.
Dengan “mengolok-olok si pendeta”, anak-anak miskin bukan mengolok-olok kepercayaan si pendeta; tapi mengolok kebiasaan para pendeta yang menjual imamatnya demi “karir” duniawi, sehingga gereja tak ubahnya seperti arena pasar di mana komoditas bisa diperjualbelikan. Tetapi di saat yang bersamaan, Pasolini juga menggambarkan perilaku anak-anak miskin seperti sekumpulan fasis yang tak punya otak, yang tak tahu aturan dan yang gemar main asal ganyang. Stanza penutup ini memberikan pembaca dilema moral: mana yang lebih baik, si pendeta, atau anak-anak miskin yang berperilaku seenaknya? Untuk menjawabnya, maka perlu dicermati bahwa ada perbedaan intrinsik antara apa yang dinamakan fasisme psikologis dan fasisme ideologis. Perilaku kasar anak-anak miskin terhadap si pendeta ini tidak bisa kita kategorikan sebagai tindakan ideologis yang didasari pada motif sosio-ekonomi. Apa yang mereka lakukan lebih kepada keluguan psikologis sebagai dampak struktural dari alienasi dan represi seksual: rasa terlantar dari sistem “demokrasi” di era konsumerisme, serta reaksi dari menguatnya struktur keluarga konservatif yang paternalis, represif dan otoriter. Dampaknya, mereka semakin teralienasi, tanpa adanya pembimbing “moral” yang mengajari atau memberi mereka tujuan untuk mempunyai adab dan kemampuan untuk berpikir dengan akal sehat.
Di stanza ketiga, Pasolini juga tidak lupa mengungkapkan “doanya” secara puitik mengenai kealpaan spiritual (dan intelektual) para anak-anak miskin:
Mari lekas, wahai gadis rembulan,
wahai buah hati dari bintang pagi,
segera karunai mereka
dengan belaian surgawi.
Fasisme psikologis dalam tahapan dini (yang lugu, imanen, dan “organik”) tidaklah sama dengan fasisme dalam tahapan ideologis yang teratur, yang mencoba untuk membangun ideologi hingga masuk ke wilayah administrasi, atau despotisme militer yang tidak punya tujuan lain selain untuk menetapkan supremasi geo-politik di seluruh dunia. Apa yang Pasolini coba sampaikan dalam sajaknya ini adalah, fasisme ideologis bisa jadi merupakan konsekuensi lanjutan dari ketiadaan pedagogi bagi para anak-anak miskin (masyarakat kelas bawah i.e. kaum proletar), yang sama sekali tercerabut dari pedagogi ‘budaya tinggi’[3]. Apabila Pasolini menulis “gadis rembulan” sebagai simbol/pedagogi dari keutuhan emosional manusia (moral-intelektual), dan “buah hati dari bintang pagi” sebagai simbol/pedagogi dari kelembutan jiwa manusia (empati), maka ketidakhadiran dari keduanya membuat fasisme dalam tahap psikologis menjadi tak tertanggulangi, dan yang secara konsekuen, membuat fasisme ideologis menjadi tak terelakkan.
Fasisme yang bersifat ideologis/politis tidak akan dengan mudah mengakar dalam situasi kehidupan keseharian apabila dalam suatu Negara, kesejahteraan pendidikan (yang berasaskan pada nilai-nilai humanis) yang menyeluruh itu tersedia, dan dibiayai secara penuh untuk memenuhi hak dan kebutuhan masyarakatnya. Pendidikan ideal yang mengacu pada pengenalan terhadap ‘budaya tinggi’, tidak hanya mengorientasikan dirinya pada penyebarluasan ilmu dan informasi semata, tapi juga sekaligus berorientasi pada penanaman benih perilaku yang hanya bisa berkembang dengan pemaparan masyarakatnya terhadap teks-teks atau imej yang sublim, baik itu yang fiksional atau ilmiah, puitik atau banal; baik itu berupa karya seni atau berupa materi hiburan budaya-massa dalam ruang lingkup keseharian, agar terciptanya masyarakat yang terpelajar.
Anak-anak miskin berlarian di atas padang rumput, bermimpi tentang keabadian hidup, di tepian pantai, memungut ranting-ranting rosmarin, anak laki-laki merayu para gadis—ini semua adalah gambaran lanskap indah namun banal dari kehidupan seharihari di sekeliling Pasolini. Tetapi di balik semua aktivitas yang ada, tidak ada ruang bagi mereka untuk meniti perkembangan psikologis, untuk terus merangsang kematangan emosi dan intelektualnya, selain dari nilai-nilai konservatif yang dijejali oleh orang tua mereka secara turun temurun. Setiap bentuk aktivitas kehidupan manusia, apabila tidak dibarengi dengan taraf pendidikan yang baik dan eksposisi pedagogis atas apa yang bekerja di luar alam dan di luar kehidupan manusia itu sendiri (i.e. budaya tinggi yang bertujuan untuk melampaui sifat alamiah manusia), maka ia ditakdirkan untuk musnah.
Anak-anak miskin, mengejar-ngejar orang gila, mendorongnya sampai terjatuh, mencekiknya dengan tangan mereka sendiri dan lalu membakar tubuhnya di tepian pantai. Anak-anak miskin, menyerang musuhnya, mencincang kepalanya menjadi beberapa bagian, dan menyerang sesiapa saja yang berbeda iman dengannya. Anak-anak miskin, memerangkap para gadis, mengolok-olok pendeta yang berlari ketakutan sampai pucat pasi. Semua mereka lakukan sambil bercanda gurau dan berpelukan, karena bagi mereka, itu adalah hal yang “natural”—hal yang lumrah dan pantas. Mereka tidak pernah belajar atau diajarkan, bahwa orang lain adalah sesama manusia, sama seperti mereka anak-anak miskin, meskipun orang lain tidak terlihat sama seperti mereka. Mereka tidak pernah belajar atau diajarkan, untuk menyamakan diri mereka sendiri dan orang lain, untuk satu tujuan yang lebih luhur—untuk tercapainya ‘budaya tinggi’ kaum proletariat, seperti apa yang Pasolini impikan sampai akhir khayatnya.
Dalam sajaknya, Pasolini menunjukkan kepada kita semua bahwa sifat manusia tidaklah pernah “netral”. Kita selalu memiliki potensi yang amat besar untuk melakukan tindak kejahatan, sebagaimana kita memiliki potensi yang besar untuk melakukan begitu banyak kebaikan. Pertanyaannya adalah, manusia seperti apa yang diri kita sendiri kehendaki? Manusia egois merangkap bigot yang tak mampu melampaui perbedaan dan yang buta terhadap dominasi dan kekerasan, atau manusia yang justru ingin memahami lebih jauh tentang bagaimana dunia bisa dibuat bekerja menjadi lebih baik, bersama-sama? Yang justru ingin memahami lebih jauh tentang bagaimana cara melindungi kehidupan ini yang telah lama kita cintai?
Sajak Pasolini Anak-anak Miskin di Padang Rumput merupakan sebuah pengantar untuk pedagogi anti-fasis. Sebuah kritik dan otokritik yang tajam dan rupawan dari seorang intelektual yang dikhianati oleh orang-orang yang sepanjang hidupnya ia bela sendiri. Di dalamnya terkandung pemahaman universal mengenai kompleksitas sifat manusia dan hubungan lintas-sejarah yang amat penting untuk dijadikan pelajaran bagi siapapun juga.
[1] Pier Paolo Pasolini, “The Urchins Down in the Meadow”, diterjemahkan oleh penulis.
[2] Pasolini, Pier. “Lutheran Letters”. United Kingdom: Carcanet New Press Ltd, 1983. hal. 11
[3] Budaya tinggi (high culture) di sini harus dipahami melalui kacamata Gramscian. Menurut Gramsci, dalam sebuah upaya mencapai perubahan sosial, diperlukan adanya penyusunan dan pengorganisiran suatu lapisan intelektual yang mengekspresikan pengalaman aktual masyarakat dengan keyakinan dan bahasa yang terpelajar. Lapisan-lapisan intelektual ini nantinya akan menghadirkan suara-suara kepentingan masyarakat kelas bawah dengan bahasa budaya tinggi, sehingga pandangan dunia, nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan kaum proletariat meluas ke seluruh lapisan masyarakat dan menjadi bahasa yang universal. Tahapan ini dipercayai Gramsci bisa melebarkan jalan bagi kaum proletariat untuk melakukan perubahan revolusioner.