t-k-tim-katalis-anarki-jauh-dari-kematian-id-1.jpg

      Aktivitas- Aktivitas Revolusioner

      Deportasi

      Keterangan Tambahan

      Catatan:

Galleani menjadi anarkis pada usia remaja, saat mempelajari hukum di University of Turin. Dia meninggalkan sekolah sebelum menyelesaikan sarjananya dan mengalihkan perhatiannya untuk mempromosikan ide-ide anarkis. Anarkis yang lahir di Vercelli ini, terpaksa hengkang ke Prancis untuk menghindari prosekusi yang mengancam di Italia, tapi kemudian diusir dari Prancis karena terlibat sebuah demonstrasi Mayday.

Galleani kemudian pindah ke Swiss, di mana dia mendatangi University of Geneva sebelum kembali diusir karena dianggap sebagai agitator berbahaya yang mengatur perayaan penghormatan terhadap para martir Haymayket. Dia Kembali ke Italia di mana kemudian ditangkap dengan tuduhan konspirasi. Di awal 1894, dia menghabiskan lebih dari lima tahun di penjara dan eksil internal, terutama di pulau Pantelleria, di luar daratan Sisilia.

Melarikan diri dari Pantelleria pada 1900, Galleani hengkang ke Mesir. Kemudian, di bawah ancaman ekstradiksi, dia melarikan diri lagi ke London, lalu ke Amerika Serikat pada 1901. Di sana, anarkis yang lahir di tengah-tengah orangtua kelas menengah ini, datang sebagai seorang imigran yang tidak punya uang sepeser pun.

Dengan cepat Galleani menarik perhatian lingkar-lingkar anarkis radikal sebagai seorang orator karismatik yang mempercayai bahwa kekerasan diperlukan untuk melawan kapitalis yang menindas kelas pekerja. Dengan tegas dan bangga, Galleani mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seorang subversif, seorang propagandis revolusioner yang mendedikasikan dirinya untuk merongrong pemerintahan dan institusi yang mapan, dengan menyebarkan sebuah filosofi politik yang berdasarkan aksi-langsung. Dilihat dari berbagai aspek, Galleani adalah seorang pembicara yang benar-benar berpengaruh dan seorang penganjur kebijakan lewat kekerasan revolusioner. Carlo Buda, saudara dari Mario Buda—pembuat bom yang terinspirasi Galleani—berkata, "Dengarkan Galleani bicara, dan kamu siap untuk menembak polisi pertama yang kamu temui."

Galleani pertama kali menetap di New Jersey, tapi didakwa menghasut orang-orang agar melakukan kerusuhan. Dia pun kabur ke Kanada, dan dengan segera dideportasi. Kemudian dia pindah ke Vermont, di mana dia dikenal sebagai seorang penganjur propaganda-dengan-tindakan (propaganda by the deed). Galleani adalah juga seorang pendiri dan editor dari Cronaca Sovversiva (Kronik Subversif), sebuah newsletter anarkis yang dipublikasikan oleh Galleani selama 15 tahun sebelum pemerintah Amerika membredelnya di bawah Sedition Act of 1918[1].

Setiap isu dari Kronik Subversif biasanya tidak lebih dari 8 halaman. Newsletter tersebut menawarkan perspekstif dengan topik-topik radikal yang bervariasi, termasuk argumen-argumen tentang ketiadaan tuhan, kebutuhan akan cinta-yang-bebas, pidato yang berisi kritik tajam dan penuh kemarahan melawan tirani negara baik secara historis dan kontemporer, maupun kehinaan dan sikap yang terlalu pasif dari para sosialis. Newsletter yang pada satu waktu dinyatakan memiliki 5000 pelanggan ini, secara berkala mempublikasikan daftar alamat-alamat dan hubungan yang detail dari para bisnismen, mata-mata kapitalis, penghalau aksi mogok, dan berbagai macam musuh masyarakat. Isu-isu terakhir dari newsletter ini mengangkat sebuah iklan yang menjual sebuah manual tidak berbahaya berjudul "The Health is in You!" (Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!) seharga 25 sen (dollar), yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap keluarga proletar. "Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!" adalah sebuah manual pembuatan bom. Beberapa buku-buku yang dikarang Galleani terdiri dari essai-essai Kronik Subversif. Salah satu essainya adalah La Fine dell'anarchismo? (Akhir dari Anarkisme?) di mana Galleani mendeklarasikan bahwa anarki jauh dari kematian dan masih relevan sebagai sebuah pergerakan politik.

Aktivitas- Aktivitas Revolusioner

Semakin hari Galleani semakin membangkang terhadap kekuasaan pemerintah dan polisi. Dengan segera, dia menarik perhatian sebuah grup dari lingkar radikal dan para sohib yang kemudian dikenal sebagai Galleanis. Dalam grup Galleanis ini terdapat Frank Abarno, Gabriella Segata Antolini, Pietro Angelo, Luigi Bacchetti, Mario Buda alias Mike Boda, Carmine Carbone, Andrea Ciofalo, Ferrucio Coacci, Emilio Coda, Alfredo Conti, Roberto Elia, Luigi Falsini, Frank Mandese, Riccardo Orciani, Nicola Recchi, Giuseppe Sberna, Andrea Salsedo, Raffaele Schiavina, Nestor Dondoglio alias Jean Crones, Carlo Valdinoci, dan yang paling terkenal, Nicola Sacco dan Bartolomeo Vanzetti.

Aktifitas-aktifitas dari Galleani dan grupnya berpusat di sekitar promosi bentuk-bentuk radikal dan penuh kekerasan dari anarkisme, yang dilakukan dengan pidato, newsletter, agitasi pekerja, protes politik, dan pertemuan-pertemuan rahasia. Bagaimanapun, banyak dari sohib Galleani yang menggunakan bom dan cara-cara kekerasan lainnya. Para Galleanis juga mempraktekkan apa yang selama ini digalakkan oleh anarkis yang lahir pada tahun 1861 tersebut, tapi Galleani sendiri tidak pernah terlibat langsung di dalamnya. Dengan bantuan dari seorang ahli kimia dan ahli ledakan yang bersahabat, Profesor Ettore Molinari, Galleani menulis buklet "Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!", sebuah buku kecil 46 halaman yang berisi panduan eksplisit tentang membuat bom. Regu Bom New York City (The New York City Bomb Squad) menganggap buklet tersebut akurat dan praktis, padahal Galleani membuat sebuah kesalahan, yang dikoreksi pada tahun 1908, yang menghasilkan satu atau lebih bahan peledak yang prematur.

Anjuran Galleani akan kekerasan adalah pemikiran yang pertama kali diletakkan ke dalam aksi oleh para sohibnya pada tahun 1914. Para Galleanis terlibat setidaknya dalam dua pengeboman di New York setelah polisi dengan membabi buta membubarkan sebuah aksi protes di rumah John D Rockefeller di Tarrytown, New York. Setelah beberapa bulan berikutnya, terjadi pengeboman di wilayah yang berbeda di New York City. Tempat-tempat yang menjadi sasarannya adalah kantor-kantor polisi, gereja, dan paviliun. Pada 14 November 1914, sebuah bom diletakkan di bawah kursi hakim Campbell dari pengadilan militer Tombs. Campbell telah memvonis seorang anarkis muda atas tuduhan memprovokasi kerusuhan. Pada bulan Januari 1915, polisi mempublikasikan sebuah persekongkolan untuk meledakkan Katedral St Patrick di New York. Polisi juga menemukan salinan "Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!" di rumah salah seorang tersangka.

Seorang Galleanis asal Chicago, Nestor Dondoglio, meracuni sekitar 200 tamu di sebuah perjamuan pada tahun 1916 sebagai penghargaan terhadap Archbishop Mundelein. Dari keduaratus tamu yang diracuni tersebut, tak ada seorang pun yang mati dan Dondoglio sendiri tak pernah tertangkap. Setelah meninggalkan serangkaian olok-olok bagi polisi, Dondoglio melarikan diri ke Pesisir Timur (East Coast), di mana dia disembunyikan oleh para Galleanis lainnya sampai dia meninggal pada tahun 1932. Pada tanggal 6 Desember 1916, seorang Galleanis lainnya, Alfonso Fagotti, tertangkap karena membacok seorang polisi dengan pisau jagal selama kerusuhan di Boston North Square. Dalam usaha balas dendam, para Galleanis meledakkan sebuah bom di jalan utama dari kantor polisi pelabuhan Boston di hari berikutnya. Pada akhirnya, Fagotti dideportasi ke Italia.

Beberapa penulis juga mencurigai para Galleanis berpartisipasi pada Persiapan Hari Pengeboman (Preparedness Day Bombing) di San Francisco tahun 1916. Meskipun tak pernah didakwa ataupun dijatuhi hukuman secara resmi di pengadilan atas keterlibatan dalam serangan tersebut, beberapa sejarawan telah mencatat bahwa Persiapan Hari Pengeboman tersebut telah menjadi sebuah komponen dari serangan bom para Galleanis, secara spesifik aktifitas pengeboman dari Mario Buda.

Pada 24 November 1917, di Milwaukee, Mario Buda berpikir untuk mengkonstruksikan sebuah bom bubuk hitam besar[2] dengan air keras sebagai penunda detonator yang meledak pada kantor polisi Milwaukee di mana bom bubuk hitam besar tersebut baru saja dipindahkan setelah penemuannya di dalam lantai dasar sebuah gereja. Ledakan dari bom tersebut membunuh sembilan orang polisi dan seorang perempuan sipil. Kejadian bom tersebut adalah insiden kekerasan teroris terburuk di Amerika Serikat sampai waktu itu. Bom tersebut sebenarnya dirancang bukan untuk polisi, tapi ditanam di sebuah gereja Katolik Italia kiranya untuk membunuh patriotis, pembantu pendeta sayap-kanan. Terdapat insiden-insiden yang morat-marit dari keberhasilan dan kegagalan pengeboman di New York City, San Francisco, Washington DC, Boston, dan Milwaukee, yang mengacu pada para sohib Galleani. Meskipun begitu, tak ada pengaduan kriminal yang mengiringi. Pada waktu tersebut, Kongres dan publik secara luas telah memulai aksi tuntutan melawan anarkis-anarkis militan dan para penganjur kekerasan fisik lainnya.

Pada tanggal 17 Januari 1918, seorang gadis Galleanis berusia 19 tahun, Gabriella Segata Antolini, ditangkap karena mengantarkan sebuah tas kecil yang penuh dijejali dengan dinamit. “Oleh-oleh” itu ia peroleh dari Carlo Valdinoci dalam rangkaian kereta Chicago[3]. Ketika diinterogasi, ia menyebutkan nama palsu dan menolak untuk bekerjasama dengan penguasa ataupun menyuplai mereka dengan informasi apa pun; dia pun dikirim ke penjara selama 14 bulan sebelum akhirnya dilepaskan. Selama di penjara, Antolini bertemu dengan anarkis tersohor Emma Goldman, yang dengannya lah Antolini menjalin persahabatan.

Bulan Februari 1918, para penguasa Amerika Serikat menggerebek kantor “Kronik Subversif”. Mereka membredel terbitan dan memenjarakan editor-editornya. Daftar pelanggan telah disembunyikan oleh para staff, tapi penguasa mendapatkan lebih dari 3000 nama dan alamat para pelanggan dari isu yang akan diterbitkan, yang telah dibundel untuk dikirimkan.

18 Oktober 1918, Kongres menerbitkan sebuah peraturan baru yang bertujuan untuk melarang penduduk terlibat dalam gerakan anarkis ataupun organisasi politis revolusioner, yakni Anarchist Exclusion Act[4]. Untuk merespon itu, Galleani dan para sohibnya mendeklarasikan perang terhadap Pemerintah Amerika Serikat dan dengan sengaja mengabarkan tujuan mereka melalui publikasi flyer: “Deportasi tak akan mampu menghentikan badai yang sedang menghampiri. Badai ini tertanam dan dengan segera akan menerjang, menyerang dan membinasakan dirimu dalam darah dan api... Kami akan meledakkanmu!” Serangan mereka diikuti oleh sebuah pengeboman berantai terhadap bisnismen dan pegawai terkemuka, termasuk sebuah bom yang ditaruh di rumah Hakim von Moschzisker, yang telah memvonis empat anarkis Italia dengan hukuman penjara yang sangat lama pada tahun 1908.

Sehari setelah mendengarkan orasi Galleani yang berapi-api, yang sedang menunggu keputusan deportasinya, pada tanggal 27 Februari 1919, empat orang Galleanis tewas ketika bom dinamit yang rencananya mereka pasang di Franklin, Massachusetts, meledak secara prematur mengenai wajah mereka[5].

Di akhir bulan April tahun 1919, sekitar 30 paket bom berisi dinamit dikirimkan melalui surat kepada para politikus, pegawai pengadilan, dan pemodal (termasuk John D Rockefeller). Satu bom bahkan ditujukan pada seorang agen FBI yang ditugaskan untuk mencari beberapa Galleanis yang sedang diburu, termasuk Carlo Valdinoci. Para Galleanis merancang bom mereka untuk dikirimkan pada Mayday, sebuah hari internasional bagi solidaritas para komunis, anarkis, dan sosialis revolusioner. Hanya beberapa paket saja yang terkirim, karena komplotan tersebut lalai memasang perangko yang memadai. Salah satu paket bahkan terdeteksi, dan tanda-tanda yang berbeda dari paket tersebut memungkinkan sergapan terhadap mayoritas dari mereka. Tak ada seorang pun yang terbunuh dengan paket bom yang telah dikirimkan tersebut, tapi ada kecelakaan yang terjadi. Seorang pelayan dari Senator Hardwick (salah seorang pendukung Anarchist Act) tangannya meledak ketika membuka paket yang dikirimkan ke rumah sang Senator di Georgia.

Para Galleanis merencanakan untuk meledakkan delapan bom ukuran besar yang secara simultan berdekatan di beberapa kota berbeda di Amerika Serikat, di bulan Juni 1919. Target-targetnya termasuk rumah para hakim, bisnismen, walikota, inspektur imigrasi, dan sebuah gereja. Rupanya mereka menyadari bom pertama mereka tidaklah berkekuatan memadai, karenanya bom baru yang mereka siapkan menggunakan dinamit sampai dengan 20 pon, dibungkus dengan besi dari serpihan granat yang telah meledak. Di antara korban-korban yang menjadi target, terdapat para politisi yang mendukung Undang-Undang Anti-Subversi (Anti-Sedition Law) dan deportasi, atau hakim yang telah mengirimkan para anarkis Galleanis ke dalam penjara. Rumah Walikota Cleveland Harry L Davis, Hakim WHS Thompson, Perwakilan Negara Bagian Massachusetts Leland Powers, Jaksa Agung A Mitchell Palmer (sebelumnya telah menjadi target dari bom surat para Galleanis), semuanya diserang oleh para Galleanis. Tak ada seorang pun dari para petinggi tersebut yang terbunuh. Tapi bom tersebut memakan korban seorang penjaga malam, seorang wanita yang melewati rumah salah satu korban, dan seorang Galleanist, Carlo Valdinoci, yang juga mantan editor Kronik Subversif. Meskipun tak terluka, Palmer dan keluarganya sangat terguncang akibat ledakan tersebut.

Carlo Valdinoci, yang juga teman dekat Galleani, terkena ledakan hingga tubuhnya terceraiberai tepat di depan rumahnya Palmer, yang merupakan target dengan kerusakan terparah. Valdinoci terbunuh entah karena tersandung bom yang dia bawa, atau bomnya meledak secara prematur ketika dia meletakkannya di beranda rumah Palmer. Semua bom tersebut dikirimkan bersama sebuah flyer, yang berjudul Kata-Kata Sederhana (Plain Words). Kata-Kata Sederhana memperingatkan: “Perang, Perang Kelas, dan kamu merupakan bagian pertama yang melaksanakan hal itu di bawah selimut dari institusi kekuasaan yang kamu sebut tatanan, dalam kegelapan hukum-hukummu. Hal tersebut akan menjadi pertumpahan darah; kami tidak akan menghindar; harus ada yang menjadi pembunuh: kami akan membunuh, karena hal tersebut penting; harus ada penghancuran; kami akan menghancurkan untuk mengeliminasi dunia dari insitusi-institusi kejam milikmu.”

Para penguasa menangkap seorang tukang set huruf cetak, Andrea Salsedo dan Roberto Elia, seorang perakit. Mereka tertangkap karena salah satu flyer tertinggal bersama sebuah paket bom, dan penguasa berhasil melacak flyer tersebut ke percetakan di mana Salsedo bekerja. Salsedo diinterogasi secara intensif (beberapa mengatakan sambil disiksa juga) oleh agen federal. Tapi setelah memberi beberapa informasi, ia semakin murung. Salsedo tewas setelah lompat (atau didorong keluar) dari lantai 14 sebuah gedung di mana dia ditangkap. Walaupun Salsedo mengakui dirinya seorang anarkis dan dia mencetak flyer bom, tak ada seorang pun yang ditangkap atau divonis dalam pengeboman berikutnya, sehubungan dengan kurangnya bukti-bukti dan penolakan para Galleanis lainnya untuk memberikan informasi kepada penguasa. Elia kemudian dideportasi. Merujuk pada pengacaranya, dia menolak sebuah tawaran yang memperbolehkan dia tetap tinggal di Amerika Serikat jika dia dapat memutuskan hubungannya dengan para Galleanis.

Setelah kematian Valdinoci, Ferrucio Coacci dan Nicola Recchi muncul untuk mengambil peran yang menonjol dari grup tersebut; keduanya adalah perakit bom. Nicola Recchi sendiri telah kehilangan tangan kirinya karena ledakan prematur, tapi dia tetap merakit bom.

Di bawah undang-undang sebelumnya, Departemen Kehakiman yang dikepalai oleh Jaksa Agung Palmer tidak memiliki kekuasaan untuk mendeportasi penduduk asing; hanya Departemen Imigrasi yang dapat melakukannya. Sampai pada titik tersebut, para anarkis tergugat dapat dan telah melakukan penundaan deportasi mereka dengan permohonan legal secara terus menerus. Dengan publik dan media mainstream yang mengeluhkan pemerintah untuk mengambil tindakan, Palmer dan pegawai pemerintah lainnya memulai rangkaian investigasi menggunakan penyadap telepon tanpa garansi, mengulas catatan langganan dari publikasi-publikasi radikal, dan cara-cara lain untuk menginvestigasi ribuan anarkis, komunis, dan radikal-radikal lainnya. Dengan bukti-bukti di tangan, dan setelah kesepakatan bersama Departemen Imigrasi, Palmer dan Departemen Kehakiman mulai membulatkan jumlah dan mendeportasi sebanyak mungkin para radikal yang dapat dikenai Anarchist Act—sebuah gelombang penangkapan dan deportasi besar-besaran yang dikenal sebagai Palmer Raids (Penggerebekan Palmer)[6].

Deportasi

Luigi Galleani dan delapan sohib karibnya dideportasi ke Italia pada bulan Juni 1919, tiga minggu setelah pengeboman gelombang 2 Juni. Meskipun penguasa tidak memiliki cukup bukti untuk menyangkutkan Galleani, mereka tetap mendeportasi Galleani sebagai seorang penduduk asing yang secara terang-terangan menganjurkan kekerasan untuk meruntuhkan pemerintah dan pernah menulis sebuah buku panduan membuat bom. Setelah sampai di Italia, dengan segera Galleani mendapatkan perhatian dari penguasa, yang memaksa dirinya eksil ke sebuah pulau di luar Italia. Pasca Mussolini berkuasa, Galleani mendapat pengawasan ketat dari polisi pemerintah Fasis. Kemudian, dia diperbolehkan untuk kembali ke daratan Italia, tapi pengawasan polisi tetap berlanjut. Galleani wafat karena serangan jantung di usia 70 pada 4 November 1931. Insureksioner satu ini adalah seorang anarkis abad 20 yang paling terkenal dalam menginspirasi dan mengadvokasi rangkaian pengeboman di Amerika Serikat pada tahun 1919. Galleani dapat dideskripsikan sebagai salah seorang anarkis-komunis dan anarkis-insureksioner terbaik.

Keterangan Tambahan

Para sohib Galleani tidak mengikuti deportasinya dengan baik, maupun berita bahwa temannya, Sacco dan Vanzetti didakwa untuk kasus pembunuhan. Sebuah gelombang pengeboman mengiringi pengadilan mereka. Satu atau lebih sohib Galleani, terutama Mario Buda, dicurigai sebagai pelaku pengeboman Wall Street[7] pada tahun 1920, yang menyebabkan 33 orang meninggal. Pengeboman para Galleanis berlanjut setelah vonis bersalah dan eksekusi dari Sacco dan Vanzetti pada tahun 1927. Sejumlah pengadilan dan pegawai penjara secara spesifik menjadi target, termasuk hakim pengadilan, Webster Thayer, dan juga pengeksekusi, Robert Elliott.

Setelah Galleani dan para sohibnya kembali ke Italia, Ferrucio Coacci dan Nicola Recchi kemudian menyusul pindah ke Argentina. Di sana, dengan cepat Coacci bergabung bersama seorang anarkis Argentina yang mempromosikan kekerasan, Severino Di Giovanni. Dideportasi dari Argentina setelah eksekusi Di Giovanni, Coacci kembali ke Argentina setelah Perang Dunia Dua. Mario Buda juga kembali ke Italia lebih cepat setelah pengeboman Wall Street, di mana dia hidup sampai kematiannya di tahun 1963.

Catatan:

[1] Undang-undang Makar 1918 (The Sedition Act of 1918) adalah undang-undang yang dibuat oleh kongres Amerika Serikat, yang disahkan ke dalam hukum oleh Presiden Woodrow Wilson pada tanggal 16 Mei 1918. Undang-undang tersebut melarang penggunaan bahasa yang mengungkapkan "ketidaksetiaan, vulgar, kasar, atau makian-makian” terhadap pemerintah Amerika Serikat, benderanya, atau tentara atau yang menyebabkan orang-orang memandang jelek pemerintah Amerika atau institusi-institusinya. Lahirnya undang-undang ini memicu lahirnya undang-undang spionase di tahun yang sama, dan beberapa undang-undang yang secara khusus dibuat untuk menghambat gerakan anarkis.

[2] Balousek, Marv, dan Kirsch, J. Allen, 50 Wisconsin Crimes of the Century, Badger Books Inc. (1997).

[3] Avrich, Paul, Anarchist Voices: An Oral History of Anarchism in America, Princeton: Princeton University Press (1996).

[4] The Anarchist Exclusion Act adalah undang-undang yang mengatur pengusiran orang-orang asing yang menetap di Amerika Serikat pada tahun 1906. Undang-undang ini dibuat segera setelah pembunuhan Presiden William McKinley oleh Leon Czolgosz, seorang anak imigran Polandia yang lahir di Amerika. Pasca undang-undang ini disahkan, banyak anarkis dan para militan radikal yang diusir dari Amerika karena aktifitasnya. Beberapa di antaranya adalah John Turner, anarkis Skotlandia, yang merencanakan mimbar bebas untuk memperingati para martir Haymarket; para anarkis militan yang berasal dari beberapa negeri seperti Italia dan lainnya; juga para imigran radikal yang tidak mengklaim dirinya anarkis. Emma Goldman, sang anarkis-feminis, pernah mengorganisir Liga Mimbar Bebas (Free Speech League) untuk menentang undang-undang ini dan deportasi para imigran. Liga yang diorganisir Emma Goldman ini secara khusus diorganisir untuk membela Turner.

[5] Avrich, Paul, Sacco and Vanzetti: The Anarchist Background, Princeton University Press (1991).

[6] Penggerebekan Palmer (The Palmer Raids) adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh Departemen Kehakiman Amerika untuk menangkap dan mendeportasikan para radikal sayap kiri, terutama para anarkis, dari Amerika Serikat. Penggerebekan dan penangkapan berlangsung dari bulan November 1919 sampai bulan Januari 1920 di bawah kepemimpinan Jaksa Agung A Mitchel Palmer. Penggeberekan ini berhasil mendeportasi lebih dari 500 warga asing, termasuk para pemimpin terkemuka gerakan kiri.

[7] Pengeboman Wall Street terjadi pada tanggal 16 September 1920 di distrik keuangan kota New York. Ledakan ini mengakibatkan 38 orang meninggal dan 143 orang mengalami luka serius. Pengeboman ini lebih mematikan dari pengeboman gedung Los Angeles Times pada 1910.