"Bumi bukanlah milik manusia, Manusialah yang dimiliki bumi.” – Green Anarchy


“Saat manusia mulai merasa memiliki bumi, maka ia telah kehilangan sisi alamiahnya.” – Taufan Ishmael

Seluruh kehidupan di atas planet yang semakin tak nyaman ini diatur oleh sistem ekonomi global yang mendasari dirinya pada uang, profit dan pertukaran–kapitalisme. Secara virtual, segala sesuatu memiliki harga–makanan, minuman, tanah, rumah, tumbuhan, binatang, kerja manusia. Mereka yang tak mampu membayar tak akan diperbolehkan mendapatkannya, bahkan apabila konsekuensi dari ketidakmampuan tersebut adalah kematian.

Bagi mayoritas manusia konsekuensinya adalah bahwa hidup menjadi didominasi oleh kerja, sekolah yang menghabiskan setengah usia seseorang, pabrik, kantor, pasar dan penjara. Bagi banyak orang ini berakibat pada kemiskinan, perang dan berbagai bentuk penindasan lainnya. Tetapi toh manusia bukan satu-satunya yang terjebak dalam jejaring mengerikan ini. Segala jenis spesies menjadi subyek pengaplikasian industri yang berujung pada kesengsaraan dan kematian alam liar, bahkan juga, kepunahan.

Telah jelas bahwa apa yang dialami oleh manusia, dialami juga oleh spesies lain yang hidup di atas bumi, semua juga terjadi atas sumber yang sama, sistem produksi dan pertukaran yang juga sama. Dalam tulisan berikut ini, akan berusaha dipaparkan bahwa sistem yang mengeksploitasi manusia saat ini adalah sistem yang sama yang lahir dari penghancuran atas spesies lainnya, atas ekologi secara keseluruhan. Dengan demikian, diharapkan gerakan yang berupaya mengabolisi kapitalisme akan menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah berarti juga mengubah relasi tak hanya antarmanusianya saja, tetapi juga antara manusia dengan alamnya.


Komunal Primitif

Saat kita berbicara mengenai relasi manusia dengan alam, adalah penting untuk tidak kehilangan pandangan atas fakta bahwa manusia adalah juga termasuk ke dalam genus mamalia. Sebagaimana kita bisa telusuri pada perjalanan hidup manusia. Hominid muncul sekitar 25 juta tahun lalu, darinya berevolusi berbagai spesies, termasuk kera, dan sekitar 250.000 tahun lalu, barulah muncul Homo Sapiens. Gigi geligi dan berbagai bentuk fisikal lainnya, memperlihatkan bahwa Hominid pada utamanya adalah vegetarian. Manusia tidak memiliki gigi yang tajam, cakar yang kuat atau sistem pencernaan yang umum seperti karnivora. Walaupun di era tersebut beberapa Hominid menjarah daging hasil buruan binatang lain, tetapi pola makan pada dasarnya terpaut pada tumbuhan–tetapi bukan dengan cara bercocok tanam secara khusus.

Perburuan binatang yang lebih besar untuk dimakan, hadir sejalan dengan semakin pentingnya daging untuk masuk ke dalam pola makan, yang menjadi signifikan saat manusia berhadapan dengan kondisi yang lebih dingin di mana tumbuhan semakin sulit ditemui, khususnya di era terakhir dari empat bagian besar Zaman Es. Perburuan besar yang dilakukan pada era tersebut, walaupun mulai menampakkan adanya divisi kerja, di mana perempuan masih turut berburu walaupun tidak dominan karena kebanyakan mengurus anak dan mengolah makanan, toh hal tersebut tidak terlalu kentara.

Tetapi bagaimanapun juga berburu memperlihatkan jejak awal transformasi aktivitas manusia yang bebas ke dalam sesuatu yang mirip kerja. Hal ini terjadi khususnya karena berburu membutuhkan usaha berlebih: “Pada sekitar 240 kalori di mana tumbuhan dapat dikumpulkan dalam waktu satu jam, sementara anggap saja kegagalan berburu yang tinggi. Diperkirakan satu jam berburu memroduksi hanya 100 kalori makanan” (Ehrenberg). Lebih pentingnya lagi, aktivitas memetik dan mengumpulkan makanan dari tumbuhan dapat dilakukan oleh seisi komuniti yang sepenuhnya terintegrasi dengan aktivitas sosial lain seperti bernyanyi, bercakap-cakap dan mengurus anak. Berburu di sisi lain, sangat bergantung pada pelacakan dan fokus tinggi, tenang dan cenderung menjadi tugas yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja.

Walaupun corak produksi berburu telah mulai mapan kehadirannya, tidak secara langsung manusia awal itu hanya memakan daging saja. Imaji popular bahwa para primitif yang haus darah dan makan daging setelah membunuh buruannya dengan kejam jelas adalah omong kosong. Dugaan bahwa manusia adalah sepenuhnya pemburu di mana “makanan utamanya adalah daging dan pekerjaan utamanya adalah berburu” telah banyak dikritisi sebagai “sebuah refleksi di mana kebanyakan kepentingan serta prakonsepsi-prakonsepsi dari para antropolog lelaki Barat abad ke-19 dan status berburu sebagai pengisi waktu luang kelas atas di Eropa abad ke-19.” (Ehrenberg).

Bahkan juga menurut Margaret Ehrenberg, apa yang disebut sebagai masyarakat pemburu-peramu (hunter-gatherer) seharusnya lebih tepat disebut masyarakat pemetik sebagaimana pengumpulan makanan dari tumbuhan berupa dedaunan, umbi dan buah-buahan di banyak kasus jauh lebih fundamental dibanding dengan berburu.

Tetapi bagaimanapun juga, mayoritas rentang waktu di mana manusia eksis, manusia hidup dalam kelompok-kelompok yang terpisah dan relatif otonom, dalam keluarga-keluarga (dalam makna luas: keluarga sesuai garis keturunan), dalam suku-suku. Gaya hidup mereka secara esensial komunistik. Tak ada jual beli, tak ada kerja upahan, tak ada negara dan tak ada properti privat: “barang-barang tidak diproduksi untuk dikonsumsi setelah dipertukarkan atau setelah ditempatkan di pasar… Komunit mendistribusikan apa yang diproduksinya sesuai dengan aturan-aturan sederhana, dan setiap orang secara langsung mendapatkan apa yang diberikan. Berbagai aktivitas diputuskan (sesungguhnya diterapkan pada kelompok sesuai kebutuhan) dan dilakukan bersama-sama, dan hasilnya juga dibagikan bersama-sama.” (Gilles Dauvé & François Martin).

Dalam masyarakat demikian, relasi antara manusia dan alam secara keseluruhan sepenuhnya berbeda dengan masyarakat modern. Fakta paling signifikan adalah bahwa dalam masyarakat komunal primitif, binatang tidak menjadi milik siapapun. Tak ada properti privat atas tanah, tumbuhan ataupun binatang dan tak ada domestikasi. Walaupun beberapa binatang diburu, binatang-binatang tetap hidup bebas dan liar. Manusia hanya mengambil apa yang mereka butuhkan dari alam, binatang hanya diburu sesuai kebutuhan pangan atau sandang komuniti yang jelas terbatas. Tak ada gunanya bagi mereka untuk membantai binatang secara massal, sehubungan komuniti juga tak merasa perlu untuk memiliki atau menyimpan surplus, tak ada pasar untuk menjual surplus. Komuniti-komuniti secara tipikal hidup dalam sebuah relasi yang harmonis dengan lingkungan mereka; alam adalah rumah dan penyedia hidup bagi mereka, sehingga tak ada keinginan bagi mereka untuk menghancurkannya dan memunahkan spesies lain.

Binatang tidak dilihat sebagai komoditi, melainkan sebagai sebuah campuran dari kekaguman, keajaiban yang patut direspek dan ditakuti. Bukannya dianggap sebagai spesies yang lebih rendah dari manusia, binatang dilihat sebagai makhluk hidup yang berbagi alam dengan manusia. Tak jarang komuniti-komuniti mengadopsi binatang tertentu sebagai simbol mereka, dalam kasus lain binatang juga sering dianggap sebagai pelindung suku yang harus dihormati.


Domestikasi dan Dominasi

Relasi manusia dengan alam dan antar diri mereka sendiri, secara radikal tertransformasikan bersamaan dengan pengembangan agrikultur. Agrikultur menginstitusikan sebuah relasi baru dengan dunia alamiah: “tanah itu sendiri menjadi sebuah instrumen produksi dan spesies planet menjadi obyek-obyeknya.” (John Zerzan). Domestikasi, yang ditandai dengan pembudidayaan tumbuhan dan pengurungan binatang di tempat-tempat tertentu, adalah titik kunci awal penggantian yang berangsur-angsur dari gaya hidup nomadik dengan sistem yang melahirkan negara, kelas, kota, kerja dan properti privat. Dalam konteks ini, Zerzan berargumen, “saat mendomestikasikan binatang dan tanaman, manusia pada intinya mendomestikasikan dirinya sendiri.”

Tetapi walaupun begini, sebaiknya kita tidak lantas menuduh bahwa agrikultur-lah dosa utama manusia, yang menyebabkan ketidakberuntungan hidup manusia di atas bumi dan ditendangnya kita dari taman firdaus primitif-anarkistik. Perkembangan negara dan kelas adalah sebuah proses yang kontradiktif, kompleks sepanjang sisa waktu perjalanan hidup manusia di atas bumi, sehingga tak bisa sekedar semua itu dipersalahkan pada agrikultur semata. Saat pendomestikasian tumbuhan dan binatang (dan pada akhirnya juga manusia) memainkan peran penting dalam keseluruhan kisah hidup kita, itu semua bukan kisah keseluruhan.

Beberapa arkeolog mengatakan bahwa kelahiran elit-elit sosial adalah asal muasal lahirnya agrikultur, dan bukan sebaliknya. Menurut Ian Hodder (1990), “ada kemungkinan bahwa domestikasi dalam makna sosial dan simbolis terjadi lebih dahulu pada pendomestikasian dalam makna ekonomis.” Di mana aktivitas memetik menawarkan akses langsung pada makanan (saat memang tersedia), terdapat sebuah “jeda untuk kembali pada investasi kerja agrikultural”: tanaman pangan harus ditumbuhkan, binatang diberi makan dan ditumbuhkan sebelum makanan kembali tersedia. Dengan demikian, “pengadopsian teknik-teknik produksi yang lebih intensif, mengarah pada agrikultur, melayani berbagai kepentingan kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat di mana rezim ekonomi baru yang menjerat orang-orang dalam struktur sosial dan ekonomi di mana mereka menjadi tergantung padanya.” Dalam pengertian inilah maka “domestikasi binatang liar untuk diternakkan adalah sebuah metafora dan mekanisme kontrol masyarakat.”

Beberapa bentuk agrikultur eksis selama ribuan tahun tanpa secara khusus menimbulkan perubahan sosial yang radikal. Transisi dari memetik ke bertani diyakini dimulai di daerah yang disebut daerah Bulan Sabit yang Subur (kini menjadi negara Irak, Iran, Turki, Syria, Israel dan Jordania) di sekitaran 10.000 SM dan benar-benar mapan di sekitaran 6000 SM. Bagaimanapun juga, hanya sejumlah kecil binatang yang dikandangi, sedangkan sebagian besar daging masih didapatkan dari hasil berburu. Fokus utama pertanian terletak pada bagaimana menumbuhkan tanaman pangan dengan menggunakan teknologi sederhana, bukan dengan membajak tanah; para arkeolog kadang menyebutkan bahwa kala tersebut digunakan teknik hortikultura.

Perubahan yang besar baru hadir di era akhir Neolitikum (sekitar 3000 SM) dengan dikembangkannya agrikultur secara lebih intensif. Binatang mulai digunakan untuk diambil susunya dan produk wool selain dagingnya, serta mulai digunakan untuk menarik bajak dan kereta. Untuk pertama kalinya, manusia mulai mengurung sejumlah besar binatang dalam sebuah peternakan. Secara sistematis, binatang-binatang itu dipisahkan dari kehidupan liarnya dan dikembangbiakkan dengan selektif, sehingga binatang-binatang domestik pertama itu secara berangsur-angsur menjadi berbeda secara fisik dari saudara-saudara mereka yang hidup di alam bebas.

Dampak sosial dari hal ini sangat menakjubkan. Dari praktek “binatang sebagai properti”, Camatte berargumen, “lahir pulalah properti privat dan nilai tukar” serta “kelahiran awal patriarki.” Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam masyarakat secara dramatis meningkat pesat dengan sejumlah besar bidang kerja: pembukaan hutan untuk lahan pertanian, memberi makan dan mengurus binatang ternak, memerah susu, memroses produk-produk yang dihasilkan dari susu, mengambil dan memintal wool, dan seterusnya hingga “bertani dan memroduksi makanan… berubah dari sebuah tugas yang sederhana di mana seorang perempuan, atau sekelompok perempuan, dapat melakukannya dengan peralatan sederhana, menjadi sebuah operasi yang kompleks di mana dibutuhkan sebagai pekerjaan penuh waktu bagi seluruh populasi.” (Ehrenberg)

Relasi gender mulai tertransformasikan. Permintaan akan tenaga kerja membutuhkan perempuan untuk memiliki lebih banyak lagi anak (dalam masyarakat pemetik, kelahiran anak cenderung memiliki jeda cukup panjang, antara tiga atau empat tahun). Intensifikasi kerja perempuan dalam mereproduksi tenaga kerja membuat mereka disisihkan dari tugas-tugas lain. Sebagaimana kebutuhan berburu semakin menurun, lelaki semakin banyak yang bekerja di lahan pertanian yang sebelumnya menjadi bagian para perempuan. Posisi sosial perempuan juga semakin menyusut hingga “mereka tak lagi banyak berkontribusi bagi produksi makanan harian, yang sebelumnya menjadi faktor krusial dalam memapankan kesetaraan status yang sebelumnya mereka miliki.” (Ehrenberg)

Ada sebuah pendapat yang berkata bahwa, “manajemen ternak atas binatang-binatang domestiklah yang menimbulkan sebuah konsepsi hidup politik yang intervensionis dan manipulatif. Domestikasi dengan demikian menjadi sebuah pola arketipikal bagi berbagai jenis subordinasi sosial lainnya. Model yang hadir adalah keberadaan seorang penggembala yang menjadi seorang pemimpin, seperti pendeta di tengah staf kependetaannya. Binatang-binatang yang loyal, patuh, menuruti kehendak tuannya adalah contoh bagi struktur majikan dan pekerja.” (Keith Thomas)


Binatang sebagai Kemakmuran

Setelah pendomestikasian, binatang-binatang, atau setidaknya beberapa spesies, tak lagi hidup liar dan bebas. Mereka kini menjadi milik dari seseorang; Adam Smith mencatat bahwa bersamaan dengan tanaman pangan, sejumlah binatang adalah menjadi bentuk paling awal dari properti privat. Properti ini tidak hanya digunakan untuk memroduksi makanan dan pakaian; tapi juga sebagai sebuah bentuk kemakmuran. Dari tahap awal domestikasi “konsumsi daging adalah unjuk penampakan akan kekuasaan penguasa dominan. Semakin banyak ternak yang disembelih, dimasak dan dimakan, semakin besar seseorang tersebut.” (Colin Spencer)

Binatang-binatang domestik adalah sebuah bentuk fundamental dari kemakmuran “yang dapat diakumulasi dan diberikan dari satu generasi ke generasi berikutnya… sebagaimana satu keluarga mengakumulasi lebih banyak lagi binatang ternak atau memiliki alat bajak yang lebih baik, jenjang antara kemakmuran mereka dan tetangga-tetangga mereka akan semakin meningkat secara progresif… perbedaan antara kaya dan miskin, yang tidak tampak di tengah masyarakat pemetik, kini mulai berkembang.” (Ehrenberg)

Sebagaimana binatang dikembangkan sebagai penentu kemakmuran, binatang yang tidak dibutuhkan secara langsung untuk dikonsumsi dapat dipertukarkan dengan pemilik properti lain dan bahkan juga bisa digunakan sebagai alat tukar. Di tahap awal munculnya pasar ini, sebagaimana yang diteliti oleh Marx dalam Kapital, “bentuk uang dilekatkan pada obyek kemakmuran, sebagai contohnya binatang ternak.” Dengannya, binatang menjadi properti bagi kelompok atau individu-individu, tidak hanya dapat diperjualbelikan tapi juga dapat dicuri dan diperebutkan. Saat pengembangan perburuan membutuhkan organisasi sebagian masyarakat sebagai mesin pembunuh, transformasi dari para pemburu menjadi sebuah mesin perang yang secara sistematis membunuh manusia lain juga mulai hadir “saat untuk pertama kalinya manusia memiliki sebuah sumber daya yang sangat berharga sekaligus cukup mudah untuk dicuri.” (Ehrenberg)


Perbudakan

Banyak dari mereka yang bekerja di awal peradaban adalah budak. Saat binatang mulai diperlakukan sebagai sekedar obyek yang dapat digunakan demi kepentingan manusia, bukan lagi sesuatu yang hidup berdampingan di alam, pengenalan perbudakan juga menjelaskan bagaimana beberapa kelompok manusia tertentu memiliki status yang sama dengan binatang: sebagai obyek. Sebagaimana yang dicatat oleh Marx (1867), “di bawah perbudakan, pekerja tak dapat dibedakan sekedar sebagai instrumentum vocale (alat yang bisa berbicara) dari binatang, yang mana berarti juga instrumentum semi-vocale (alat yang semi-bisu) dan dari alat tak hidup, yang berarti juga instrumentum mutum (alat bisu).”

Dalam periode modern, ideologi rasis mendefinisikan manusia berkulit hitam dan berwarna lebih sebagai binatang ketimbang sebagai manusia, semakin gelap warna kulit seseorang, semakin ia sederajat dengan binatang, itu jugalah yang melegitimasi perbudakan. Budak diperlakukan seperti binatang ternak, harus mampu bertahan di bawah kondisi-kondisi mengerikan saat ditransportasikan, diambil anak-anaknya dan dipisahkan dari keluarganya, dicap dengan besi panas, mengenakan rantai besi dan bahkan juga untuk eksperimentasi medis. Budak dijual di pasar, diuji ketahanan fisiknya dan kekuatannya, serta lainnya. Budak yang tak patuh akan dikirim ke tempat penjinakkan sebagaimana kuda liar dijinakkan. Mirip dengan “domestikasi binatang yang membutuhkan teknik-teknik untuk berurusan dengan para pembangkang: kekang bagi perempuan yang membantah; kurungan, rantai bagi orang gila.” (Thomas). Kita dapat menambahkan penjara dalam daftar ini sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Michel Foucault.


Akumulasi Primitif

Industri binatang, khususnya ternak, telah menjadi titik pusat pengembangan relasi sosial kapitalis ke seluruh dunia, dari pusat-pusat awalnya di Eropa Barat hingga ke negeri-negeri lain. Marx mengajukan argumen bahwa demi pengembangan kapitalisme, harus dilakukan sebuah proses pelucutan properti secara brutal, yaitu apa yang ia sebut sebagai “akumulasi primitif… proses historis dari penceraian produsen dengan alat produksinya.” Kapitalisme membutuhkan seluruh alat produksi (termasuk tanah) untuk menjadi kapital, dan mayoritas populasi direduksi menjadi proletarian–orang yang hanya dapat bertahan hidup dengan cara menjual tenaga kerjanya untuk dipertukarkan dengan upah.

Dalam masyarakat pra-kapitalis, walaupun tidak sepenuhnya terjadi di seluruh dunia, banyak para petani yang memiliki tanah, bekerja di atas tanahnya dan tak perlu mengumpulkan uang untuk membeli makanan. Termasuk di beberapa daerah feodal seperti di Indonesia pra-kapitalis, mereka yang bekerja di atas tanah milik seseorang, biasanya mendapatkan jatah hasil panen dalam jumlah tertentu yang setidaknya tidak akan membuat keluarga mereka kelaparan–kondisi ini telah berubah sehingga para petani tak bertanah tak lagi mendapat jatah panen, melainkan tenaga kerja mereka dibayar dengan uang untuk membeli makanan. Untuk terjadinya perubahan ini, para petani yang bertanah harus dipaksa untuk melepaskan kepemilikan atas tanahnya melalui “penaklukan, perbudakan, perampokan dan pembunuhan”–“sejarah ini, sejarah penjarahan mereka, ditulis dari tahun ke tahun dalam darah dan api kemanusiaan.” (Marx)

Kolonisasi berdarah atas daratan Amerika juga menampilkan penggantian masyarakat adat dengan binatang-binatang komoditi, dimulai dengan Kolumbus yang pertama kali membawa binatang ternak dan kuda ke “Dunia Baru” di tahun 1494. Mitos Hollywood tentang perjuangan antara koboi (cow-boy, ‘cow’ artinya sapi; dan cowboy adalah istilah bagi para peternak) dengan indian memang tidak akurat secara historis, tetapi setidaknya mitos tersebut mengekspresikan sebuah kebenaran dasar yang terjadi. Dinamika pelucutan kepemilikan dan pemusnahan masyarakat adat seringkali demi upaya untuk menggantinya dengan peternakan. Ironisnya, beberapa korban pertama dari pelucutan tersebut justru juga menolong penyempurnaan proses ini. Misalnya di Patagonia di mana indian Araucanian dikepung dan dibantai di tahun 1870, beberapa yang selamat justru juga mulai beternak. Mereka “terasing di daerah mereka sendiri, dipisahkan secara kejam dari komunitasnya dan dipaksa mengelana di lautan, mereka mendarat di Falkland, yang mana mereka kemudian menjadi bagian aktif dalam pelucutan brutal di sana, di sisi lain dunia.” (Hank Wangford)

Pembukaan lahan peternakan memang bukan satu-satunya aspek industri binatang terpenting bagi kolonisasi. Di Amerika Utara khususnya, perdagangan bulu binatang adalah hal penting. Merunut pada Fredy Perlman, di akhir abad ke-18, “Bulu adalah minyaknya Eropa. Kekaisaran Perancis di Amerika hadir di sekitaran perdagangan bulu binatang, sementara kekaisaran Russia di Siberia adalah juga kekaisaran para penjerat bulu binatang.”

Di Indonesia, proses akumulasi primitif ini banyak dilakukan dalam kampanye transmigrasi di era Suharto, di mana di beberapa daerah seperti Kalimantan, hutan-hutan yang sebelumnya menjadi lahan hidup para masyarakat adat dibuka untuk dijadikan kawasan pertanian bagi para transmigran. Binatang-binatang yang sebelumnya menjadi penunjang hidup masyarakat adat dan dihormati, juga mulai dijadikan obyek komoditi. Sementara masyarakat adat sendiri semakin didorong untuk tinggal ke daerah-daerah hutan pedalaman yang tinggal menunggu waktu untuk dipunahkan apabila tidak diasimilasikan ke dalam kehidupan modern. Sementara di Papua Barat, proses modernisasi memaksa para anggota masyarakat adat yang kehidupan awalnya adalah sebagai pemburu-peramu (sebagiannya malah masih masyarakat pemetik) ditransformasikan ke dalam kerja-kerja pabrikan di tambang-tambang pengolahan mineral setelah ruang hidup mereka dipersempit, hidup mereka yang dekat dengan alam dilucuti dan sungai-sungai yang menjadi sumber hidup mereka dicemari.

Akumulasi primitif tidak hanya terjadi sebagai sebuah insentif dari hasil menyingkirkan manusia dari keterikatannya atas alam dan tanah, ini juga terjadi dengan mengakumulasi profit dari eksploitasi binatang dan pengenalan pola agrikultur modern. Dalam pemahaman ini, pelucutan manusia dari alam dan penransformasian manusia kepada pola pikir penguasa alam semesta adalah juga motor penggerak akumulasi primitif, yang mana tanpanya kelas penguasa tak akan dapat menciptakan proletariat, tak akan mendapatkan akses pada kemakmuran mineral, dan mempertahankan posisinya.


Peternakan dan Asal Mula Sistem Pabrik

Kapitalisme berusaha untuk menyedot hingga ke titik akhir kehidupan manusia, mengintensifkan proses kerja untuk mengeliminasi seluruh gerak yang tak produktif. Ia berusaha untuk menyapu bersih setiap gerakan tangan yang tak dapat dikontrol, setiap gerakan mata yang tak produktif, setiap penjelajahan pikiran yang tak diinginkan. Mirip dengan yang terjadi pada binatang, tujuannya adalah mengeliminasi apapun yang tak ada kontribusinya bagi produk akhir, sehingga mengubah mereka ke dalam mesin yang mengonversi daging sebagai komoditi.

Sebagaimana binatang di peternakan, di bawah sistem pabrik, manusia dibatasi gerak tubuhnya untuk memaksimalkan profit. Pabrik peternakan telah dikembangkan di era kekaisaran Romawi; Plutarch menulis bahwa “adalah sebuah praktik umum untuk menjahit mata bangau dan angsa hingga tertutup dan mengurung mereka di tempat gelap, agar mereka menjadi lebih gemuk.” Di Inggris abad ke-17, babi dan domba digemukkan dengan cara dikurung di tempat gelap. “Angsa diyakini akan bertambah gemuk apabila kaki mereka dipakukan ke lantai.” (Thomas). Gerakan binatang dibatasi karena dapat membakar kalori yang menyebabkan penggemukan menjadi terhambat.


Teknik-teknik dasar yang sama masih digunakan dalam pabrik peternakan modern, dengan penambahan metoda baru pengekangan seperti kandang individual bagi beberapa binatang tertentu seperti babi. Dirunut lebih lanjut, tampak bahwa pengembangan pabrik bagi manusia dalam periode modern dipengaruhi oleh sejarah panjang pabrik peternakan. Tujuan dari sistem pabrik adalah untuk mengonsentrasikan tubuh manusia di satu tempat untuk meningkatkan kontrol atas gerakan mereka. Perbedaan utama dengan pabrik peternakan adalah bahwa manusia hanya menjadi bagian mekanisme pabrik di sebagian hari hidupnya; kapitalisme membutuhkan tubuh mereka agar bisa bertahan selama mungkin dalam upaya memaksimalkan profit. Sementara bagi binatang, tujuannya adalah menggemukkan mereka untuk disembelih dalam waktu sesingkat mungkin—ayam broiler, di mana waktu hidup ayam secara alamiah adalah tujuh tahun, dimanipulasi hingga dapat menghasilkan daging sebanyak mungkin hanya dalam waktu hidup selama tujuh minggu.

Asal-usul penggunaan ban berjalan dalam proses produksi pabrik juga diawali dalam pabrik pengepakan daging di Amerika di abad ke-19. “Pabrik pengepakan daging adalah industri Amerika pertama yang menciptakan ban berjalan, karena tak mampu berurusan dengan arus konstan dari ternak yang didatangkan setiap hari.” (Jeremy Rifkin). “Henry Ford menjelaskan bahwa ide ban berjalan dalam pabrik mobil muncul dari para pengepak daging di Chicago.” (Carol Adams)


Pengembangbiakan: Intensifikasi Genetik pada Produksi

Jacques Camatte berkata bahwa “kapital menjadi otonom dengan mendomestikasikan manusia. Setelah menganalisa-memilah-membelah manusia, kapital merekonstruksi manusia ke dalam sebuah fungsi khusus dalam prosesnya.” Dengan manusia, proses ini dilengkapi tidak hanya melalui ideologi, tetapi juga dengan menerapkan pada tubuh manusia sejumlah rezim disiplin: sekolah, penjara dan pabrik.

Pada binatang, hal-hal tersebut jauh lebih pelik dengan memberikan modifikasi fisikal untuk membuat mereka semakin produktif. Terdapat sebuah sejarah panjang tentang pengembangbiakan binatang, sebagaimana yang dideskripsikan oleh Zerzan, “pendomestikasian binatang… mengesampingkan seleksi alamiah dan mengembangkan kembali dunia kontrol organik ke dalam sebuah tingkat artifisial.

Ditransmutasikan dari sebuah alam kebebasan ke dalam bentuk parasit yang tak tertolong, binatang-binatang tersebut sepenuhnya menjadi tergantung pada manusia untuk dapat bertahan hidup. Pada mamalia domestik, ukuran otak menjadi relatif lebih kecil atas semakin berkurangnya aktivitas. Tenang, tak berkembang, menjadi tipikal yang terjadi pada domba, binatang yang paling banyak didomestikasi; intelejensia yang terdapat pada domba liar sepenuhnya lenyap. Relasi sosial antarbinatang domestik direduksi pada segi esensial paling mendasar saja. Bagian-bagian dari lingkaran hidup yang tak reproduktif diminimalisir, dan kapasitas binatang untuk mengenali spesiesnya sendiri semakin berkurang.”

Di abad ke-20 sejumlah upaya untuk mengaplikasikan teknik pengembangbiakan binatang pada manusia telah dimulai, sebagaimana yang dipromosikan oleh gerakan eugenik. Sterilisasi paksa dan upaya lain dilakukan untuk menghentikan kelahiran bayi cacat. Saat hal ini diaplikasikan secara intensif oleh partai Nazi Jerman, program eugenik juga diimplementasikan di negeri sosial demokrat seperti Swedia. Di Inggris, eugenik memang tidak secara sistematis diaplikasikan, tetapi ide-idenya menjadi sangat berpengaruh pada beberapa politisi.

Pengembangbiakan selektif atas binatang kini diperbaharui melalui pengembangan sejumlah besar metoda teknologi biogenetik. Spesies-spesies binatang dimanipulasi secara genetiks untuk mengembangkan xenotransplantasi (tranplantasi organ antarspesies), farmasi (produksi obat-obatan dan berbagai produk lain dari binatang-binatang yang dimutasi secara genetik) dan peningkatan produktivitas makanan. Sebagai langkah lanjut dari komodifikasi kehidupan, beberapa parlemen Eropa telah memilih untuk mematenkan binatang dan tumbuhan yang telah dimutasi secara genetik. Perusahaan-perusahaan bioteknologi seperti Monsanto kini dapat mengajukan klaim bahwa beberapa tanaman hasil biogenetik adalah properti privat mereka.

Camatte meramalkan bahwa pada perkembangan jangka panjang mendatang, kapitalisme dapat menjadi “mutasi manusia atau pengubahan spesies: produksi sebuah makhluk yang sepenuhnya dapat diprogram dan kehilangan seluruh karakteristiknya sebagai spesies Homo Sapiens.” Critical Arts Ensemble mengatakan bahwa hal tersebut sebenarnya telah dimulai di mana “individu dari berbagai kelompok dan kelas sosial dipaksa untuk menyerahkan tubuh mereka untuk direkonfigurasi sehingga mereka dapat berfungsi dengan lebih efektif di bawah operasi yang terobsesi secara rasional dari pankapitalisme (produksi, konsumsi dan perintah).” Dalam masa depan yang tak terlalu jauh, mekanisme utamanya berupa penggabungan antara organisme dan substansi kimiawi seperti obat-obatan yang dapat mengontrol mood. Kloning, cyborg dan replika adalah materi bagi pembuatan karya fiksi-ilmiah, tetapi eksperimentasi pada binatang dan tumbuhan dan upaya untuk pengontrolan sepenuhnya atas alam beserta seluruh organisme yang eksis di dalamnya adalah juga tanda awal bahwa penerapannya pada manusia telah begitu dekat dan menjadi realisasi karya-karya fiksi-ilmiah di tengah masyarakat kelas.


Melampaui Humanisme

Dominasi manusia atas alam telah dijustifikasi oleh beberapa agama, banyak ideologi termasuk humanisme, yang mana kesemuanya menempatkan manusia sebagai pusat penciptaan, raja dunia, atas alam dan bukan di tengah alam. Batas antara manusia dan binatang dikokohkan dengan absolut dan jelas. Konstruksi “manusia” dalam imaji ini telah melibatkan penolakan dan represi atas kebutuhan dan hasrat manusia. Dengan demikian keseluruhan kategori hidup manusia, sebagaimana seks, tarian dan ketelanjangan, oleh para moralis dituduh sepanjang sejarah sebagai sifat yang liar dan “kebinatangan”.

Sang sosialis Italia, Antonio Gramsci, dalam karyanya Prison Notebooks menulis bahwa “sejarah industrialisme selalu berarti perjuangan yang berkelanjutan… melawan elemen kebinatangan dalam diri manusia. Ia selalu proses yang tak terinterupsi, seringkali menyakitkan dan berdarah dalam menundukkan insting-insting alamiah ke dalam norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih kompleks dan jelas akan aturan, kepastian dan kepresisian yang mana dapat membuat mungkin semakin meningkatnya bentuk-bentuk kehidupan kolektif yang kompleks yang mana adalah konsekuensi yang dibutuhkan dalam perkembangan industrial.”

Tetapi dalam kultur-kultur di mana penetrasi nilai-nilai kapital masih kurang kentara, kebinatangan justru menjadi sesuatu yang direngkuh dengan hati terbuka, bukannya malah dianggap sebagai degradasi. Seorang tetua suku Dogon di Mali, sesuai yang dicatat oleh Museum Horniman (1999) berkata, “Binatang-binatang lebih superior daripada manusia karena mereka menjadi milik semak belukar dan tak perlu bekerja. Banyak binatang yang memenuhi kebutuhan makanannya dengan apa yang oleh manusia ditumbuhkan dengan kerja yang menyakitkan.”

Pada faktanya kehidupan liar memang menyediakan sebuah kritik yang implisit atas masyarakat manusia, sebagai sebuah inspirasi dan sangat kontras dengan masyarakat yang terdomestikasi. Mengesampingkan potret kehidupan sosial binatang sekedar sebagai sebuah perang permanen demi mempertahankan hidup, setiap orang tahu betul bahwa anjing dan kucing (termasuk yang liar sekalipun) mengisi hidupnya hanya dengan bermalas-malasan dan bermain-main apabila tidak sedang makan atau mencari makan.

Sebagaimana yang Fredy Perlman perlihatkan, aktivitas binatang adalah sebuah oposit dari kerja yang teralienasi. Aktivitas manusia dalam masyarakat-masyarakat komunal primitif berlaku sebagai berikut: “sebuah pengatur gerak dan waktu yang mengamati seekor beruang di dekat pohon berry… beruang tak membedakan antara bekerja dan bermain. Apabila sang pengatur waktu memiliki sebuah imajinasi, ia mungkin akan berkata bahwa beruang tersebut mengalami keriangan dari momen di mana buah berry menjadi merah gelap dan tak ada satupun gerak sang beruang yang dapat dibilang sebagai kerja.”

‘Liar’ adalah sebuah istilah peyoratif yang diterapkan pada apapun yang bebas (dan mereka yang berniat untuk menjadi bebas), sebagaimana perempuan yang menolak ditundukkan oleh aturan masyarakat dilabeli perempuan liar. Tetapi apabila kita membalikkan ide tentang keliaran ini sebagai sebuah kebebasan, maka justru itulah yang justru menjadi nilai kebajikan. Lantas juga apabila kita merunut pada Martin Luther saat di tahun 1530 berkata, “kepemilikan properti privat adalah sebuah esensi yang membedakan antara manusia dan binatang” (Keith Thomas) dan menilik ucapan Proudhon bahwa “properti adalah pencurian”, sebagaimana kita kini paham bahwa akibat keberadaan properti privat-lah maka hidup di dunia menjadi sedemikian menyengsarakannya, maka berbahagialah mereka yang dianggap binatang, karena ia hidup lebih murni, alami dan lebih dekat pada kebebasan.