I. Majikan tanpa Budak

Perang Dunia Ketiga dan yang terakhir, berlangsung di seluk-beluk jiwa dan hati kita. Di satu sisi, Ia menjadi sebuah pertanyaan kepada keyakinan kita akan dunia serta berbagai keajaiban yang dapat kita lakukan di dalamnya: cinta dan impian kita terhadap kehidupan. Di sisi yang lain Ia berwujud ketakutan, ketidaknyamanan, dan inersia di dalam diri kita--yang di manfaatkan oleh korporasi dan pemerintah untuk memecah-belah masyarakat, mereduksi kompleksitas rumit dunia dan kehidupan dengan menyempitkannya menjadi perhitungan ekonomi. Apa yang dipertaruhkan oleh Perang ini, adalah pilihan antara pembebasan yang total dengan rutinitas dan isolasi. Kita diharapkan kalah dengan cara seperti ini: berperang dengan sesama demi memperebutkan secuil bagian dari dunia, daripada mengambilalih keseluruhannya demi kepentingan semuanya. Banyak yang terjebak--termasuk kita--ke dalam perangkap ini; aturan-aturan yang membuat kita saling berkompetisi, menghina, dan mencurigai satu sama lain.

Hasrat kekuasaan hirarkis, untuk menguasai yang lain, diciptakan dengan memutarbalikan hasrat yang ingin memiliki kontrol atas hidup. Di titik ini, di dunia yang sepenuhnya dipoles oleh budaya dan teknologi manusia, di mana tak ada lagi ruang-ruang yang tak terprivatisasikan, sangatlah lumrah kalau kita hanya bisa mempertahankan kehidupan individual kita melalui kerjasama. Takdir kita semua bersandar pada kemampuan kita mengatasi setiap ketidaknyamanan dan kepicikan diri kita masing-masing, juga bagaimana kita membangun sebuah cara berhubungan dengan sesama, agar dapat saling membantu satu sama lain, dan menjadi majikan tanpa budak: barulah dunia dapat kita rengkuh.


II. Untuk Diriku Sendiri

Dari semua yang telah diucapkan, Aku hanya ingin berkata: kamu diterima disini, tapi aku tak melakukan ini untukmu. Aku menjalani seumur hidupku memikirkan ‘kewajiban’ apa yang belum aku lakukan untuk dunia: apakah aku harus menolak keinginanku untuk melayani kepentinganmu, atau menolak kepentinganmu demi mengejar keinginanku. Kedua pilihan yang menjebak: Apabila aku menolakmu, aku akan kehilangan bagian dari diriku yang ada di dalam dirimu, dan apabila aku menyerahkan semuanya untukmu, aku tak memiliki apapun yang dapat ditawarkan kepadamu.

Pilihan-pilihan tersebut palsu, aku tak lagi mempercayainya. Sekarang aku melepasnya dan menyerahkan hidupku sepenuhnya untuk diriku sendiri, baru kemudian memberi diriku sepenuhnya kepada dunia. Karena hanya dengan menyadari siapa diriku, barulah aku dapat menjalani hidup sebagaimana mestinya, sehingga aku dapat memberi lebih pada dunia daripada sekedar moralitas amal kaum agamis dan borjuis liberal. Apa yang aku maksudkan, adalah kita berupaya memuaskan kebutuhan kita sendiri, dengan suatu cara di mana kebutuhan yang lainnya dapat terpuaskan juga, yakni dengan berjuang menghancurkan setiap kekuasaan yang berniat untuk mengeksploitasi dan menghancurkan sesama kita: alam dan mahkluk hidup. Mulai sekarang, aku melakukan semua ini untuk diriku sendiri, tanpa harus terilusi oleh kehormatan dan kewajiban. Seperti ucapan seorang penyair: 'Apa yang Aku cari di dalam diri orang lain adalah pemenuhan dari diriku yang tersembunyi di dalamnya. Karena itu, mereka yang sadar bahwa hidup mereka sangat bergantung kepada sesamanya, masih harus menemukan diri mereka sendiri dulu. jika tidak, mereka tidak akan menemukan apapun di dalam diri orang lain selain hanya negasi dari diri mereka sendiri.'

Jadi aku menulis ini untuk diriku sendiri. Bukan untuk menjual ide-ideku, atau mencoba mengamalkan waktuku untuk mencerahkan orang-orang, atau, bahkan lebih buruk, mencoba meninggikan statusku menjadi seorang intelektual—namun untuk sebuah latihan berekspresi, untuk kenikmatan bermain-main dengan bahasa, logika, dan puisi, untuk sebuah kesempatan menulis tentang dunia serta hidupku sendiri, di dalam bentuknya yang baru.

Tulisan ini mungkin saja akan memberimu pengalaman yang berbeda. Kata-kata, terkadang, bisa menggerakan emosi, memberimu sensasi yang bebas, bahkan menggerakan dirimu melakukan sesuatu. Atau, kebalikannya, kata-kata hanya akan membuatmu terpaku, lumpuh tak berdaya. Di situasi seperti ini, kamu adalah si pembaca yang membaca tulisanku, kamu hanyalah sekadar pembaca. Terlepas dari fakta, misalnya, ada sesuatu yang penting yang aku utarakan disini, ada poin-poin yang bisa menjelaskan beberapa hal, halaman-halaman dingin ini dapat menjadi sesuatu yang kosong, suatu konfirmasi dari ketidakberdayaanmu.

Aku menulis deklarasi ego ini untuk menantangmu, untuk terus memperjelas posisi, siapa disini yang mengambil manfaat dan siapa yang tidak—dan juga, untuk mengajakmu bergabung denganku, untuk kepentingan dirimu sendiri. Kamu tidak perlu menjadi seorang penulis, teoritisi atau seniman atau akivis, ataupun setiap peran yang menghalangi dirimu menjadi seseorang yang bebas. Kamu hanya perlu berjanji pada dirimu, untuk merengkuh dunia atau tidak sama sekali. Ada banyak jalan menuju kebebasan seperti ada banyak ragam orang di dalam dunia; untuk kepentingan setiap orang, temukanlah dirimu sendiri.


III. Untuk Kita Semua

Bagi mereka yang berada di dalam situasi seperti diriku, tantangan terbesarnya adalah bagaimana bertindak tidak acuh pada potensi orang lain. Kita hidup di dalam masyarakat—yang ekonominya timpang--di mana ke-diri-an dipandang sebagai sumberdaya yang terbatas: tak banyak yang bisa dibagi-bagi, karena semuanya dipusatkan kepada segelintir bintang rock dan selebritis--dengan cara yang sama kapital dimiliki oleh segelintir pemilik modal dan investor, yang mengambilnya dari hasil keringat setiap orang. Bentuk-bentuk ekspresi diri yang ada sekarang ini, adalah hambatan bagi aktualisasi diri setiap manusia: untuk membuat satu orang tampil di televisi, dibutuhkan ribuan orang duduk dirumahnya menonton, dan cara yang sama berlaku bagi permainan olahraga, penulis dan pembaca, pelaku scene dan pengagumnya, politisi dan pendukungnya, seniman dan patron-patronnya. Bahkan pemberontakan kita terstrukturisasi seperti ini: vokalis punk dan tokoh radikal berada diatas audiens, suara mereka disokong oleh amplifier dengan volume besar, kondisi yang membuat orang-orang menjadi penonton pasif.

Sekarang, kita harus menemukan suatu cara bersuara yang dapat memberi suara bagi yang lain, sebuah cara bertindak yang merangsang orang-orang untuk aktif, sebuah cara hidup yang memungkinkan kita untuk berbagi kehidupan dengan orang lain tanpa harus melepaskan kehidupan kita sendiri. Aku tidak akan pernah melepaskan kehendak untuk mengekspresikan diriku sendiri, atau kenikmatan yang aku reguk dengan melakukannya. Aku cukup sadar, bahwa dengan mengekspresikan diri, aku beresiko mereplikasi sistem yang memanfaatkan pemiskinan relasi antara individu; namun yang aku upayakan disini, adalah untuk menemukan suara yang mematikan, yang dapat menjadi sebuah wabah dashyat untuk menghancurkan setiap penyelubung kesadaran diri manusia serta setiap inersianya yang masih menghantui kita sampai sekarang.

Ingat, jangan pernah mencoba menakut-nakuti orang-orang agar mereka bertindak. Semua orang sudah cukup lelah dengan ketidakberdayaan, dengan segala kekasaran dunia yang barbar. Secara instingtif, semua orang tahu, bahwa ada yang tidak beres dengan dunia. Tak ada yang menyukainya, sekalipun status sosial dan pekerjaan mereka mencoba membuat mereka berpikir sebaliknya. Satu-satunya cara memotivasikan mereka adalah dengan menunjukan bahwa tindakan yang bebas masih mungkin. Keburukan dunia bukanlah sesuatu yang baru bagi mereka yang menonton berita, sekalipun berita tersebut tidak luput dari sensor; satu-satunya daya tarik untuk memotivasikan mereka adalah dengan menggiring keindahan ke permukaan.

Apabila kita berkeinginan untuk membuat orang-orang aktif, maka tugas kita adalah seperti ini: Untuk membuat dan menjalani sebuah keindahan yang baru, yang sepenuhnya berbeda dengan “kontes kecantikan” yang sering diselenggarakan oleh mereka yang bermentalitas budak—untuk mengusahakan keajaiban di tengah dunia yang tidak lagi percaya pada keajaiban dan kejutan—untuk menghidupkan yang mati, seperti ketika kita akan meruntuhkan setiap bangunan-bangunan kerajaan.

Apabila kita berhasil menciptakan satu keajaiban, maka darah kita akan menjadi barisan malaikat-malaikat tertinggi, yang hadir untuk memulihkan yang letih dan menyembuhkan mereka yang sengsara akibat maladi kematian—yang menghampas seperti angin sebelum badai datang memporak-porandakan pekuburan sunyi, merombak jalan-jalan, membebaskan setiap jiwa tersesat yang dilaluinya. Mari menemukan masa depan baru, dan menggemakannya melalui sebuah propaganda hasrat yang belum pernah diketahui oleh dunia ini. Siasat para praktisi periklanan tidak lagi mengilusi kita, dan mereka yang berada di sisi dunia lama, akan di lahap api.

Kami menyerahkan segalanya agar kami tidak berhutang pada siapapun, agar dunia menjadi milik kami. Engkau melahap semuanya sehingga semuanya habis, tiada sesisapun. Kau adalah kehampaan, yang melahap semuanya—lihat apa yang telah engkau lakukan kepada dunia.

Tapi kami adalah karma peradabanmu. Bagi kami, pencurian itu tidak pernah ada, adalah adil untuk mengambilalih apa yang menjadi miliki kita, dan setiap pelanggaran adalah pembebasan.

Bagi kalian yang menyimpan keluh kesah: kalian mungkin salah satu dari kami. Beritahu apa yang kalian rasakan. Tiada yang lebih tragis dan hampa, selain ketidakhadiran kalian ketika dunia harus kita rebut. Berciumanlah dengan setiap liur di dalam mulutmu, berjuang dengan jiwa di lengan dan darah di matamu.

Mulai sekarang, perdagangan akan sirna di dalam kehidupan, tak ada bisnis seperti biasa. Hancurkan dan sembuhkan. Sirna dan mengada. Terima dan beri. Hidup, lalu mati; melawanlah, maka kamu akan hidup.


Armed to the teeth and dressed to kill,