... if the natural utilization of productive force is impeded by the property system, the increase in technical devices, in speed, and in the sources of energy will press for an unnatural utilization... (Walter Benjamin)[1]

Pendahuluan

Ada banyak pandangan terhadap teknologi modern. Pandangan dominan melihat teknologi modern sebagai cahaya terang yang akan membebaskan manusia dari jerat kelangkaan (scarcity) dan kemiskinan. Di kalangan Marxis, Lenin berpandangan optimis terhadap teknologi modern dan mengatakan bahwa komunisme tiada lain adalah kekuasaan Soviet plus kelistrikan. Karena keyakinan inilah kemudian Lenin, dan terutama di tangan Stalin, Uni Soviet memaksakan industrialisasi yang telah mengantar Uni Soviet ke jajaran negara-negara dengan teknologi maju terpenting di dunia[2]. Karl Marx sendiri pernah memuji borjuasi sebagai kelas revolusioner tidak hanya karena berhasil menumbangkan hegemoni feodalisme, tetapi juga karena mereka sanggup menghasilkan teknologi sebagai kekuatan produktif modern dengan kemakmuran yang dihasilkannya jauh melampaui prestasi peradaban-peradaban yang pernah ada sebelumnya[3].

Namun, di antara suara-suara optimis, ada juga keluhan-keluhan yang tidak hanya kritis, tetapi juga pesimis. Kaum kritis-pesimis[4] melihat pembebasan yang pernah diemban borjuasi dengan teknologi modernnya hanyalah bayangan maya dari wujud sebenarnya yang ternyata menindas. Teknologi modern dan perkembangannya di bawah dorongan akumulasi dan ekspansi kapital ternyata hanya mengabdi kepada kapital, bukannya demi kemaslahatan umat manusia. Dengan teknologi modern, Kapitalisme menjadi sistem yang kian totaliter dan berupaya mengendalikan manusia beserta kehidupannya. Tulisan ini akan mengulas dan mempertahankan pandangan kritis-pesimis tentang kedudukan teknologi di bawah formasi sosial Kapitalisme, khususnya dalam pembentukan tatanan totaliter yang menindas manusia bahkan hingga ke akar definisinya.

Paradoks Pembebasan Teknologi Kapitalis

Kapitalisme tidak hanya dibangun di atas pengusiran-pengusiran, kolonisasi, dan kokangan senjata. Ia juga dihidupi semangat pembebasan. Seruan terpenting revolusi borjuis ialah kemerdekaan, kesetaraan, persaudaraan. Demi pembebasan manusia dari penindasan ini, sebagai kelas tertindas di dalam formasi sosial feodal, borjuasi berjuang penuh semangat memenggal semua kepala naga feodal dalam perang panjang mereka. Mereka tebas leher Louis XIV dan mendirikan parlemen; mereka runtuhkan kuasa Paus dan mencetak Alkitab untuk umat awam; mereka lepaskan uang dan pasar dari kerangkeng perupetian kuno dan membiakkan ekonomi pasar-bebas; mereka juga berhasil ciptakan ilmu dan teknologi modern yang mengubah pandangan tentang bumi dan menjadikannya salah satu tumpuan proyek industrialisasi. Dihapuslah segala mitos tentang omong-kosong indahnya hirarkhi dan sucinya bumi. Semua manusia setara di hadapan Kapitalisme, dan bumi bukanlah Bunda Agung atau ladang semaian kasih Tuhan tetapi sekadar sumberdaya yang harus dikeruk demi produksi kekayaan. Pokoknya, Kapitalisme telah memberangus semua sumber derita dan cerita-cerita palsu yang pernah hidup di jaman sebelumnya[5].

Kapitalisasi pertanian dan sistem pabrik di Inggris di akhir abad ke-18 telah membebaskan para petani-hamba dari belenggu upeti dan ikatan-ikatan perhambaan[6]. Keluarga-keluarga petani kini lepas dari kewajiban-kewajiban hina untuk menghamba pada tuan tanah. Tuan-tuan tanah bebas memerdekakan hamba dan menjual atau menyewakan tanah-tanahnya. Para hamba yang telah bebas ini betul-betul bebas untuk bekerja atau tidak; bebas untuk hidup atau mati. Perempuan-perempuan di dalam keluarga mereka juga bebas untuk bekerja ataupun tidak. Para tuan feodal tidak lagi punya hak untuk meniduri mereka tanpa membayar. Di dalam Kapitalisme, lepas sudah derita panjang perempuan sebagai makhluk nista. Sejak matahari cerah sistem pabrik dan industrialisasi menyingsing di Inggris dan kemudian menyebarkan kehangatannya ke penjuru dunia lewat kolonisasi dan imperialisme, perempuan menjadi setara dengan laki-laki. Perempuan boleh bekerja dan menjual dirinya bila menghendaki. Bila pun tidak, itu bukan soal. Pilihan ada pada perseorangan. Tapi mesti diingat, satu-satunya sumber kehidupan bagi siapa saja yang tidak memiliki kapital atau tanah ialah menjual tenaganya kepada yang punya.

Pertanyaannya: dari mana Kapitalisme mendapat kekuatannya membentuk masyarakat baru yang ‘membebaskan’ sekaligus menciptakan bentuk penindasan baru itu? Karl Marx, dalam Das Kapital[7], menjelaskan bahwa penghisapan nilai-lebih, akumulasi kapital, dan ekspansi kapital hanya dimungkinkan dengan peningkatan kekuatan produktif. Meski bukan satu-satunya, teknologi adalah kekuatan produktif yang memungkinkan munculnya sistem pabrik, kolonisasi, dan akhirnya, pasar dunia. Tujuan akhir pengembangan teknologi adalah meningkatkan serta melindungi akumulasi dan ekspansi kapital. Teknologi menghapus semua batas-batas, geografis maupun mitologis. Ruang, waktu, dan psikologi dipampatkan sedemikian rupa sehingga pengekang gerak kapital sepenuhnya (atau paling tidak hampir seluruhnya) ditumbangkan. Teknologi modern adalah agen pembebas. Semuanya dibebaskan, terutama kekang kapital. Hanya melalui gerbang nilai paling mulia dalam Kapitalisme inilah segalanya lewat. Tidak ada kartu pas untuk tujuan lain.

Teknologi modern yang perkembangannya didorong hasrat akumulasi dan ekspansi kapital punya satu ciri pokok: ia tidak akan berhenti berkembang. Hanya tuhan dan siluman yang bisa menghentikannya. Selama keduanya tidak turut campur, teknologi kapitalis akan terus-menerus berkembang. Mengapa? Bukan karena fitrahnya ia berkelakuan demikian. Ia hanya ‘sesuatu’ buatan manusia. Akarnya tidak berada dalam teknologi itu sendiri. Segala hal di dunia ini sejak peradaban Jericho hingga sekarang, ialah pantulan dari tatanan dan dinamika masyarakat, dan kalbu terdalam tatanan dan dinamika masyarakat adalah produksi-distribusi-pertukaran; ringkasnya ekonomi-politik. Copernicus tidak diperlukan sejarah selama pandangan dunia masyarakat melihat bumi itu datar seperti meja sehingga eksplorasi sumber-sumber kekayaan terhalang oleh naga-naga penjaga tepi bumi. Ia dilahirkan sejarah ekonomi-politiknya. Begitu pula sistem kredit dan ekonomi spekulasi beserta Internetnya sekarang ini. Jadi, dari mana teknologi memiliki daya linuwih mengembangkan dirinya terus-menerus?

Bagi kaum pesimis, teknologi memanggul kutukan ketika ia pertama kali disentuh tangan Kapitalisme. Ruh Absolut Kapitalisme atau nilai pemandu gerak kehidupannya ialah akumulasi dan ekspansi kapital. Seperti bocah manja yang dilahirkan dari keluarga kaya yang boros, Kapitalisme akan selalu meminta lebih dan lebih tanpa pembatas selain kematiannya sendiri. Akumulasi kapital hanya mungkin dengan ekspansinya. Ekspansi kapital hanya mungkin lewat akumulasi penghisapan nilai-lebih. Akumulasi penghisapan nilai-lebih hanya mungkin dengan memeras tenaga kerja. Pemerasan tenaga kerja hingga tetes terakhirnya tidaklah mungkin. Tenaga kerja tidak boleh diperas sampai kering sebab kematiannya akan merusak semua roda mesin Kapitalisme. Lalu apa yang bisa dilakukan? Peningkatan produktivitas kerja, tentu saja. Caranya ialah meningkatkan efektivitas dan efisiensi dengan meningkatkan teknik dan perkakas.

Peningkatan produktivitas atau dengan istilah lain ‘pembebasan kapital dari halangan untuk terakumulasi dan berekspansi’ ternyata seperti Marduk yang telah membebaskan peradaban Babilonia dari sopan-santun terhadap Bunda Bumi Tiamat. Ia meminta korban. Tidak tanggung-tanggung, korban yang diminta adalah manusia. Di dalam Discipline and Punish, Michel Foucault mengajukan pandangan bahwa di bawah kapitalisme, teknologi produksi saja tidak cukup untuk menjaga akumulasi kapital. Kapitalisme memerlukan metoda baru untuk menata proses akumulasi kapital ini dengan teknik akumulasi manusia sebagai sumberdaya atau apa yang disebut Foucault sebagai ‘teknologi pendisiplinan’[8]. Akumulasi kapital dan akumulasi manusia tidak bisa dipisahkan. Tidaklah mungkin pemecahan masalah akumulasi manusia dibereskan tanpa pertumbuhan perangkat produksi yang memungkinkan keberlangsungan hidup dan pemanfaatannya. Sebaliknya, teknik-teknik yang memungkinkan akumulasi kapital didukung oleh pemanfaatan teknik-teknik pelangsungan dan pemanfaatan manusia. Dengan kata lain, mutasi-mutasi teknologis perangkat produksi, pembagian kerja, dan penerapan teknik-teknik pendisiplinan merupakan satu kesatuan yang memungkinkan Kapitalisme tetap hidup sebagai sebuah sistem totaliter.

Teknik pendisiplinan seperti apa yang (harus) berkembang dalam Kapitalisme? Yaitu yang meresapkan pengawasan sampai ke tulang sum-sum atau Foucault menyebutnya dengan Panoptisisme. Teknik ini jauh lebih manusiawi, halus, elegan, dan canggih ketimbang teknik-teknik jaman feodal. Tubuh tidak dikurung secara fisik, tidak dilecut, dicambuk, atau dihancurkan, tetapi ia disusupi miliaran menara pengawas gaib yang menuntun tubuh untuk patuh bahkan sebelum ia menyadarinya. Tubuh di sini bukanlah badan wadag semata. Ialah tubuh-berkesadaran, kesadaran-menubuh, tubuh-tubuh populasi, dan dinamika kuasa atasnya disebut Foucault sebagai biopolitik. Mengapa harus demikian? Senjata ideologis yang dulu digunakan borjuasi melawan tirani feodal tentu tidak bisa dilenyapkan. Ideal kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan malah menjadi salah satu ikatan nilai pokok dalam kebudayaan borjuis. Tentu tidak istiqomah bila nilai-nilai mulia ini hanya untuk mereka. Bukankah mereka berjuang sebagai wakil umat manusia di muka bumi?

Dalam persoalan pendisiplinan tubuh, teknik ‘manajemen sumber daya manusia’ yang dikembangkan di universitas-universitas dan diterapkan di perusahaan-perusahaan hanya salah satu teknik pendisiplinan. Sekolah, media massa, persekutuan agama, partai politik, keluarga, bahkan serikat-serikat buruh adalah aparatus-aparatus pendisiplinan yang penting. Bukan hanya proletariat yang didisiplinkan, tetapi semua. Bukan hanya mereka yang di pabrik yang didisplinkan oleh Kapitalisme, tetapi semua orang, semua golongan, baik di kafe, sekolah, lembaga penelitian, kampus, pos ronda, rumah, parlemen, pengadilan, atau markas serikat buruh. Merekalah pengawas-pengawas tata tertib dan semua orang adalah kadet-kadet siap perang demi akumulasi dan ekspansi kapital. Seperti Mungkar dan Nakir, aparatus pendisiplinan mencatat dan melaporkan segalanya kepada Kapitalisme. Saluran catatan dan laporan ini salah satunya ialah ilmu (pengetahuan).

Henri Lefebvre, dalam the Survival of Capitalism, mengajukan dua kesimpulan terkait dengan peranan ilmu dalam Kapitalisme. Ilmu ialah kepanjangan tangan dari teknik akumulasi dan ekspansi kapital. Ilmu sosial, misalnya, menjadi alat kendali politik dari ibadah Kapitalisme ini[9]. Hal ini berlaku bagi ekonomi, politik, psikologi, sosiologi, dan tentu saja antropologi. Ada pembauran antara ilmu ideologis dan siasat akumulasi kapital. Contohnya, di dalam babak Kapitalisme-lanjut dari 1950 hingga 1970-an, sosiologi menjadi alat kendali kehidupan sosial secara tak langsung, terutama lewat dominasi teori-teori fungsionalisme dan interaksi simbolik-nya yang masyur itu[10]. Secara langsung, ilmu-ilmu sosial menjadi pemasok data (terutama yang dibangun lewat statistik) yang dijual ke pengguna melalui media bank datanya. Ilmu-ilmu kealaman bahkan berada dijantung akumulasi itu sendiri. Ilmu kealaman secara langsung menyatu ke dalam produksi lewat teknologi dan pengembangan permesinan demi akumulasi. Akhirnya Lefebvre menyimpulkan bahwa Kapitalisme tidak lagi soal akumulasi sederhana kekayaan atau peningkatan kinerja perkakas-perkakas produksi, tapi juga soal akumulasi teknik, informasi, serta pengetahuan pada umumnya untuk mengendalikan manusia dan kehidupannya.

Di luar ilmu, media massa, terutama televisi yang merupakan anak kandung perkembangan teknologi elektronika modern dan disebut Lefebvre tiada lain sebagai ‘piranti produksi tontonan’, memeragakan atau menjelaskan nilai-nilai dan norma Kapitalisme melalui tampilan ‘sederhana’[11]. Media massa bukan saluran jutaan informasi demi memenuhi kebutuhan pemirsa, tapi lebih sebagai podium ‘pengkhotbahan’ yang mewartakan Kabar Baik, menuntun, dan merekayasa kebutuhan pemirsa. Media massa menempatkan pemirsa sebagai umat awam yang pasif menerima curahan berkah dari kerangka pikir dan cara hidup yang selaras dengan kebudayaan Kapitalisme.

Dalam pandangan Herbert Marcuse, kebudayaan Kapitalisme ialah kebudayaan komoditi; kebudayaan yang berbasis pengejaran laba. Di bawah kebudayaan ini semua nilai ditakar dengan takaran komoditi atau laku-atau-tidaknya di pasar. Tujuan kehidupan bermasyarakat seperti kerja, produksi barang, produksi budaya dan penciptaan seni, pendidikan, dan lain-lain berada di bawah pengawasan hukum besi komoditi yang tidak untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sebenarnya, tetapi kebutuhan semu yang direka-reka. Segala tujuan diarahkan dan diperjuangkan sepanjang ‘laba’ menghendaki. Produksi umum bukan untuk memenuhi kebutuhan manusiawi tetapi agar terjual. Kebutuhan manusiawi yang sebenarnya, terutama komunikasi dan kebersamaan, malah tidak terpenuhi[12]. Dalam kebudayaan komoditi, “manusia tidak (perlu) lagi saling berhubungan sebagai sesama manusia. Benda-benda material telah mengambil alih hubungan antarmanusia yang seharusnya manusiawi itu”[13].

Bagi Marcuse, teknologi bermain penting dalam pengendalian dan rekayasa keinginan; menggiring manusia seperti seorang gembala menggiring domba-domba patuhnya ke dalam kerangkeng yang menjadikan dimensi-dimensi manusia yang beraneka itu cuma tinggal satu: sebagai komoditi belaka. Manusia yang dipandang sebagai benda akhirnya ikut memandang dirinya (tanpa disadarinya) tak lebih dari sekadar benda. Ketika sedang mengkritisi teknologi kepatuhan rezim-rezim otoriter, F. Budi Hardiman menyimpulkan bahwa “Dalam era industrialisasi dan teknologisasi masyarakat, manusia mengadaptasi dirinya dalam dunia teknis dan memperlakukan dirinya sendiri sebagai suatu komponen dalam sebuah sistem produksi”[14]. ‘Individu-individu bebas’ ditempatkan oleh dan menempatkan dirinya sebagai sekrup mesin raksasa produksi kekayaan. Di dalam keadaan seperti ini, akhirnya, mengambil perumpamaan Theodore Adorno, manusia di bawah rezim kebudayaan Kapitalis berperilaku “... seperti narapidana yang mencintai kerangkengnya karena tidak ada hal lagi yang bisa dicintai”[15].

Di dalam sistem teknofasis kapitalisme ini, seperti dalam agama-agama totaliter, keluar jalur berarti murtad dan hukumnya jelas: pembasmian. Di dalam pandangan Marcuse dan kaum pesimis lainnya, tidak ada sekam menyala sepercik pun yang bisa menerangi kegelapan dalam kebudayaan kapitalis. Semua bara telah dipadamkan. Semua pintu telah terkunci. Kita yang berada di dalamnya haruslah terbiasa dengan dan mencintai kegelapan. Ideal revolusi proletariat yang pernah menjadi bara pembakar kini telah padam. Ia telah menjadi sejarah abad ke-20; sudah menjadi mitos serta dongeng sebelum tidur yang hanya cocok untuk meredakan lelah setelah sepanjang hari menjadi sekrup mesin Kapitalisme. Walter Benjamin, seorang pesimis lainnya, tidak sedang bernubuat ketika menulis:

Pertentangan-pertentangan yang ditimbulkan oleh modernitas melawan bakat-bakat kreatif manusia [...] melampaui batas kekuatan-kekuatan manusia. Dapatlah dimengerti kalau manusia menjadi lelah dan mencabut nyawanya sendiri”[16] (dikutip dari Hardiman 2007, 88-9).

Otomatisasi Teknologi, Ilusi Pembebasan, dan Kelanjutan Penindasan

Dalam kepustakaan Marxis, ada Grudrisse, buku setebal kitab suci yang isinya ancangan kasar, komentar-komentar, dan catatan-catatan terkait dengan penulisan buku tentang ekonomika. Grundrisse menyimpan gagasan tentang munculnya tatanan masyarakat jenis baru di dalam Kapitalisme yang berlandaskan perkembangan teknologi paling maju yang disebutnya tahap otomasi (automation)[17].

Menurut Marx, otomasi akan meluas sehingga mesin-mesin canggih berswadaya sanggup menggantikan tenaga manusia. Produksi tidak lagi bertumpu kepada manusia, tetapi kepada teknologi sebagai porosnya. Bila di masa sebelumnya mesin hanya bisa ‘bekerja’ di bawah kendali manausia, maka dalam tahap otomasi teknologi, mesin-mesin bisa ‘bekerja’ sendiri dan manusia sekadar membantunya. Mesin dan teknik-teknik produksi modern memungkinkan produksi yang efisien dan sedikit saja membutuhkan tenaga kerja manusia sehingga banyak waktu luang yang dihasilkan. Dalam keadaan seperti ini manusia (kelas pekerja) tidak lagi diperbudak oleh ekonomi dan bisa meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup. Namun sayangnya kekuatan produktif baru yang membebaskan manusia dari kerja-fisik tersebut ternyata tidak untuk kemaslahatan semua orang. Tujuan pokok dalam pengembangan teknologi bukanlah meringankan beban manusia, tetapi semata-mata untuk meningkatkan daya hisap kegiatan produksi atas nilai-lebih. Bagi kelas pekerja, waktu kerja bukannya menjadi semakin berkurang, tapi malah bertambah, dan waktu luang yang dihasilkan teknologi otomasi hanya dimanfaatkan untuk akumulasi dan ekspansi kapital lebih lanjut. Meminjam istilah Anthony Giddens[18], ekonomi kapitalis adalah ‘ekonomi tunggang-langgang’ yang terus berlari mengejar bayangan kepalanya sendiri, dan di dalam sistem ekonomi seperti ini perkembangan teknologi seperti apapun justru merupakan malapetaka ketimbang juru selamat.

Selain itu, tahap otomasi juga diiringi oleh terbentuknya kelas-kelas pekerja baru yang lebih terampil, berpendidikan, dan akrab dengan teknologi tinggi. Kelas pekerja baru ini akan menggeser kelas pekerja tradisional. Kelas pekerja lama ini pada akhirnya akan menjadi setumpuk cadangan industrial yang ‘berguna’ untuk mempertahankan rata-rata pengeluaran kapital-kerja di masa-masa krisis. Kebutuhan akan jenis pekerja baru yang berpendidikan tinggi pada ujungnya mengharuskan kapitalis memperdulikan persoalan pendidikan yang selama ini masih menjadi ‘eksternalitas’ dalam perhitungan ekonomi mereka. Paling tidak, kapitalis harus mendesak Negara sebagai lembaga yang dikhayalkan otonom itu untuk mengerjakan pekerjaan kapitalis menghasilkan tenaga-tenaga kerja jenis baru ini. Tentu saja, proses menghasilkan tenaga-tenaga kerja jenis baru ini tidak boleh dilepaskan dari rancangan untuk menghasilkan ‘sumberdaya manusia’ yang patuh karena reproduksi kapital harus selaras dengan reproduksi sumberdaya manusia seperti yang disinyalir Foucault.

Di sisi lain lembaga-lembaga pendidikan bukan lagi sekadar lembaga kebudayaan dengan ideal-ideal borjuasi lama yang bertujuan meningkatkan martabat manusia di dunia modern ini. Dengan meningkatnya ketergantungan kapitalisme kepada pengoperasian teknologi canggih, maka lembaga-lembaga pendidikan lebih merupakan lembaga produksi jasa penghasil komoditi yang bernama pengoperasi teknologi. Ilmu pengetahuan menjadi semakin terkomodifikasi dan terkena langsung oleh hukum pasar kapitalis. Ilmu menjadi semakin teknis dan ilmu-ilmu yang semakin dekat dengan proses sirkulasi kapital akan semakin berkembang, sementara ilmu-ilmu yang jauh dari sirkulasi kapital semakin surut. Sejak akhir dasawarsa 1980-an, jenis ilmu terapan baru, teknik informatika, muncul dan berkembang pesat. Tentu saja bukan karena kurikulum, kualitas pengajar, dan sumbangsihnya bagi kemanusiaan yang membuat teknik informatika, administrasi niaga, hukum, manajemen bisnis, dan psikologi industri lebih berkembang ketimbang arkeologi, antropologi, filologi, sastra, atau filsafat. Sebabnya jelas terkait dengan perubahan moda sirkulasi kapital dan keterkaitan ilmu-ilmu tersebut dengannya.

Selain itu, dengan berubahnya sirkulasi kapital berupa kecenderungan ekonomi dunia yang bergerak ke arah ekonomi spekulasi finansial berbasis internet atau yang dalam istilah Giddens disebut ekonomi elektronik global (global electronic economy/GEE)[19], teknik-teknik manajemen sumberdaya manusia juga harus berubah. Tidak lagi untuk mengendalikan tubuh-tubuh pekerja upahan di pabrik-pabrik, tetapi untuk mengontrol pikiran sehingga di mana saja mereka bekerja, maka mereka bekerja sesuai dengan kepentingan kapital.

Sekali lagi, perkembangan teknologi hingga pada tahap otomasi yang semestinya banyak membebaskan manusia dari beban kerja fisik dan menyumbang pada peningkatan waktu luang yang dihasilkan peningkatan produktivitasnya, ternyata tidak untuk manusia, tapi untuk kepentingan berhala kapital yang kini semakin mirip dengan Marduk, tuhan yang diciptakan peradaban Babilonia yang telah membebaskan manusia dari penghambaan terhadap batas-batas alamiah Bunda Bumi. Seperti juga Marduk, kapital dipuja. Doa-doa dan kurban bakaran dipanjatkan. Kurban itu adalah manusia sendiri.

Penutup

Dari sudut pandang pesimis, di dasar kotak Pandora Kapitalisme tidak ada lembar harapan[20]. Kelangsungan formasi sosial Kapitalisme tidak cukup dengan terpenuhinya kebutuhan akan bahan baku, pasokan tenaga kerja murah, dan pasar dunia yang terbuka lebar, tetapi jauh lebih dalam lagi terkait persoalan penyeragaman-kesadaran melalui berbagai aparatus ideologis yang menyusupkan ke dalam tubuh satu generasi ke generasi berikutnya tentang segala kewajaran dunia sosial dalam Kapitalisme. Teknologi tidak hanya berperan sebagai alat dalam mewujudkan kesuraman nasib manusia ini. Ia mungkin satu-satunya pemeran paling penting. Ia telah mengangkut manusia dari kedudukan sebagai pencipta menjadi sekadar ciptaan. Ia mengasingkan manusia dari perannya sebagai pelaku dan pembentuk kehidupan menjadi sekadar wayang-wayang bisu yang bergerak kesana-kemari mengikuti tangan dalang gaib yang mahakuasa: Kapital. Seperti tersurat dari pernyataan Walter Benjamin di muka, di bawah naungan Kapitalisme, peningkatan teknologi lebih berperan sebagai malaikat petaka ketimbang juru selamat, entah bagi manusia ataupun bagi lingkungan.


Zorosastro Wardoyo,
Perhimpunan Muda


Bacaan Lanjutan:

  1. Benjamin, Walter, The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, dalam Continental Philosophy: An Anthology (disunting W. McNeill dan K.S. Feldman), Massachusetts dan Oxford: Blackwell Publishers, 1998, hlm. 244-252.

  2. Farid, Hilmar, Masalah Kelas dalam Ilmu Sosial Indonesia, Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia (V.R. Hadiz dan D. Dakhidae, ed.), hlm. 187-217, Jakarta: Equinox Publishing Indonesia, 2006.

  3. Foucault, Michel, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, terjemahan Alan Sheridan, New York: Pantheon, 1978.

  4. Giddens, Anthony, Dunia yang Lepas Kendali: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, Jakarta: Gramedia, 2004.

  5. Hardiman, F. Budi, Tubuh dan Mesin: Mengurai Teknologi Kepatuhan, dalam Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, hlm. 114-146, Jakarta: Penerbit Kompas, 2005.

  6. Hardiman, F. Budi, Filsafat Fragmentaris, Jogjakarta: Kanisius, 2007.

  7. Hoadley, Mason, Toward a Feudal Mode of Production West Java 1680-1800, Singapore: ISEAS, 1994.

  8. Kahn, Joel, Merchantilism and the Emergence of Serville Labour in Colonial Indonesia, The Anthropology of Pre-capitalist Society (Joel Kahn ed.), hlm. 185-213, London: Macmillan, 1984.

  9. Kuntowijoyo, Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa. Jogjakarta: Ombak, 2005.

  10. Lefebvre, Henri, The Survival of Capitalism, New York: St. Martin’s Press, 1976.

  11. Magnis-Suseno, Franz, Teknologi dalam Tayangan Filosofis, Pijar-pijar Filsafat, hlm. 25-39, Jogjakarta: Kanisius, 2005.

  12. Marcuse, Herbert, One Dimensional Man, Boston: Beacon Press, 1964.

  13. Marx, Karl, Grundrisse: the Foundations to the Critique of Political Economy, terjemahan dan pengantar oleh M. Nicolaus, Harmondsworth: Penguin Books dan New Left Review, 1973.

  14. Marx, Karl, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik, Buku I, terjemahan Oey Hay Djoen, Jakarta: Hasta Mitra, 2004.

  15. Marx, Karl dan Frederick Engels, The Communist Manifesto, New York: International Publishers, 2004.

  16. Sitorus, Fitzgerald K. Menuju Dunia yang Filosofis: Rekonstruksi Historis Lukacs atas Roh Absolut Hegel, Jurnal Filsafat Driyarkara, XXVII No. 2, hlm. 63-77, 2004.

Daftar Pustaka:

[1] W. Benjamin, The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, dalam Continental Philosophy: An Anthology (disunting W. McNeill dan K.S. Feldman), Massachusetts dan Oxford: Blackwell Publishers, 1998, hlm. 250.

[2] F. Magnis-Suseno, Teknologi dalam Tayangan Filosofis, Pijar-pijar Filsafat, Jogjakarta: Kanisius, 2005, hlm. 26.

[3] lihat K. Marx dan F. Engels, The Communist Manifesto, New York: International Publishers, 2004.

[4] Di dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan kaum kritis-pesimis terutama merujuk kepada Herbert Marcuse dan mereka yang melihat semata-mata keburukan sistem teknologi modern di bawah Kapitalisme.

[5] Borjuasi berasal dari istilah burg (kota-benteng) dan burgher (penduduk kota benteng yang hidupnya dari sektor perdagangan, keuangan, dan industri di akhir jaman feodal Eropa). Tentang peran borjuasi dalam perjuangan pembebasan dari penindasan feodal dan membangun basis tatanan sosial modern, lihat Kuntowijoyo, Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa, Jogjakarta: Ombak, 2005.

[6] proses kapitalisasi pertanian ini berlangsung berbeda-beda masa di berbagai tempat, namun pada dasarnya dimulai di Inggris akhir abad ke-18 lalu merembet ke Jerman dan Prancis. Dari negeri-negeri Eropa tersebut kapitalisasi pertanian merambah negeri-negeri jajahan di Asia dan Afrika seiring dengan gencarnya kolonisasi dan penjajahan yang menghancurkan tatanan sosial feodal di sana (lihat K. Marx, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi-Politik Buku I, Jakarta: Hasta Mitra, 2004, hlm. 800-832; kasus Indonesia lihat M. Hoadley, Toward a Feudal Mode of Production, West Java 1680-1800, Sinagpora: ISEAS, 1994; J. Kahn, Merchantilism and the Emergence of Serville Labour in Colonial Indonesia, The Anthropology of Pre-capitalist Society (Joel Kahn ed.), London: Macmillan, 1984, hlm. 185-213.

[7] Marx, Karl, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik, Buku I, Jakarta: Hasta Mitra, 2004.

[8] M. Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, terjemahan Alan Sheridan, New York: Pantheon, 1978, hlm. 216-228.

[9] H. Lefebvre, The Survival of Capitalism, New York: St. Martin’s Press, 1976, hlm. 111-112.

[10] Di Indonesia, dominasi teori modernasi pada masa Orde Baru merupakan contoh peran ilmu sosial dalam akumulasi kapital. Teori modernasi bukan hanya salah satu teori dominan dalam ilmu sosial di Indonesia, dia menjadi ilmu sosial itu sendiri (lihat H. Farid, Masalah Kelas dalam Ilmu Sosial Indonesia, Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia (V.R. Hadiz dan D. Dakhidae, ed.), Jakarta: Equinox Publishing Indonesia, 2006, hlm. 187-217).

[11] Lefebvre, op.cit, hlm. 74-75.

[12] H. Marcuse, One Dimensional Man, Boston: Beacon Press, 1964.

[13] F.K. Sitorus, Menuju Dunia yang Filosofis: Rekonstruksi Historis Lukacs atas Roh Absolut Hegel, Jurnal Filsafat Driyarkara, XXVII No. 2, 2004, hlm. 71.

[14] F.B. Hardiman, Tubuh dan Mesin: Mengurai Teknologi Kepatuhan, dalam Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, Jakarta: Penerbit Kompas, 2005, hlm. 117.

[15] dikutip F.B. Hardiman, Filsafat Fragmentaris, Jogjakarta: Kanisius, 2007, hlm. 108.

[16] ibid, hlm. 89-89.

[17] K. Marx, Grundrisse: the Foundations to the Critique of Political Economy, terjemahan dan pengantar oleh M. Nicolaus, Harmondsworth: Penguin Books dan New Left Review, 1973, hlm. 692-695.

[18] A. Giddens, Dunia yang Lepas Kendali: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, Jakarta: Gramedia, 2004.

[19] ibid, hlm. xv.

[20] Dalam mitologi Yunani Kuno, seorang Dewi bernama Pandora diberi sebuah kotak yang diamanatkan untuk tidak dibuka. Pandora membukanya dan keluarlah segala kehajatan dan kenistaan ke dunia manusia tanpa bisa dicegah dan ditutupi. Namun, ketika semua isi kotak keluar, Pandora melihat ada lembar harapan di dasarnya.