d-a-dabtara-against-social-distancing-id-1.png

Sampai sekarang, beberapa negara bagian dan kota sebagian besarnya telah diberlakukan lockdown. Sebagian besar wilayah di Pantai Timur AS telah melarang pertemuan massal orang-orang dan memaksa restoran untuk berhenti beroperasi (melayani orang). Beberapa negara bagian bahkan sudah mulai memberlakukan jam malam dan pembatasan perjalanan.

Pada titik ini, spekulasinya bukanlah kapan hal ini akan terus bertahan, tetapi seberapa buruk yang nantinya akan terjadi.

Langkah-langkah ini didasarkan pada prinsip pencegahan (preventatif) umum: social distancing. Social distancing telah—dalam kurun waktu sebulan—berubah dari taktik menjadi dogma yang tabu untuk dipertanyakan, dan saya percaya ada baiknya untuk membongkar bagaimana fungsi dogma tersebut secara ideologis dan mengapa hal itu perlu dikritik.

Malu Bukanlah Epidemiologi

Dengan cara yang khas Amerika, krisis kita telah memunculkan inti Puritan dari jiwa nasional kita.

Social distancing diduga digunakan sebagai bentuk kontrol dan pengucilan; Anda adalah orang jahat jika Anda pergi keluar atau bertemu orang lain karena Anda menempatkan kebutuhan Anda di atas kebutuhan kelompok. Anda menjadi jahat karena Anda berpartisipasi dalam penyebaran penyakit. Orang yang baik, mereka akan tetap di dalam rumah dan mengikuti perintah [lockdown].

Mencoba mempermalukan orang karena pergi ke luar [tidak diam di rumah] lebih patologis daripada penyakit itu sendiri, karena sepenuhnya gagal memahami situasi saat ini. Sesulit apapun bagi sebagian orang untuk mendengar seruan protokol ini, penyakit tidak disebarkan oleh orang jahat. Siapapun bisa jatuh sakit dan akan ada sejumlah besar orang yang, meskipun melakukan isolasi sosial, akan tertular penyakit ini dan akan ada lebih banyak lagi yang, meskipun berkeliaran di luar dan melakukan kontak dengan orang lain, akan baik-baik saja tanpa tertular.

Penyakit menginfeksi orang, tidak peduli seberapa benarnya mereka.

Peningkatan isolasi sosial menjadi kepercayaan dogmatis, sebagiannya berasal dari rasa takut. Orang-orang berusaha untuk melakukan ritual self-congratulating (ucapan selamat untuk diri sendiri) tertentu untuk melindungi diri mereka dari penularan, menyegel diri mereka sendiri di unit apartemen yang tertutup rapat dari penularan orang-orang egois dan jahat di luar. Protestantisme yang mendasari itu semua bersinar ketika orang lebih peduli tentang mempermalukan orang-orang yang mereka lihat sebagai ‘tidak taat atau malas’, mencoba mencaci maki orang lain agar tunduk pada ritual personal mereka karena mereka mengidentifikasi kegagalan moral personal mereka dengan penularan biologis. Hal ini telah lama benar, jauh sebelum penyakit apapun muncul; krisis ini hanyalah membantu membuat semua ini menjadi lebih eksplisit.

Mereka melanggar aturan, bukan?

Menjelang lockdown penuh, kita melihat ocehan dan melihat penjual ketakutan menjambak rambut mereka dengan panik saat melihat orang-orang makan di restoran, pergi ke gym, clubbing di bar, pergi ke gereja, dll. Para driver menangis karena mengantar seseorang ke klub, ‘bagaimana mereka bisa begitu egois? Mengapa mereka tidak mengunci diri di kamar panik mereka pada tanda pertama bahaya?’

Terbebas dari obligasi melakukan perjalanan berjam-jam dan supervisi langsung, Tuhan melarang orang yang ingin memanfaatkan waktu mereka selagi masih ada.

Orang-orang pergi makan atau minum di bar karena mereka tahu waktu mereka terbatas. Kematian sudah dekat dan dalam banyak hal napas terakhir ini hanya mempercepat persepsi hari kiamat. Yang terburuk diasumsikan: orang di gym hanya peduli dengan kesehatan mereka sendiri (kejahatan yang tak termaafkan) dan perlu dihentikan demi kebaikan mereka sendiri. Ideologi kontemporer sepenuhnya yakin bahwa orang tidak melakukan kalkulasi atau menjadi strategis ketika mereka pergi ke klub yang penuh dengan anak muda yang sehat atau ke klub untuk melihat teman mereka terakhir kalinya sebelum terkunci di rumah bersama keluarga mereka; tidak, mereka hanya menjadi pencari kesenangan hedonistik; dan untuk ini, mereka perlu dibatasi gerakannya, dipantau aktivitasnya, dan dihukum perilakunya di depan umum.

Reaksi terhadap isolasi sosial adalah reaksi terhadap kontrol sosial.

Negara melangkah masuk

Pada saat menulis teks ini, lebih dari seperlima orang Amerika diperintahkan untuk tinggal di rumah oleh negara.[1] Isolasi sosial kini bukan lagi sebuah anjuran, melainkan sebuah mandat. Etos puritanikal adalah hukum.

Kepercayaan pada negara, tentu saja, ditempatkan dengan buruk. Tujuannya saat ini adalah untuk melestarikan dua hal: citra dan ekonomi. Kesehatan Anda, yang akan semakin buruk jika Anda terpaksa tinggal di apartemen seluas 30 kaki persegi selama berbulan-bulan, bukanlah masalah bagi negara. Anda, sebagai warga negara yang taat, diharapkan untuk berkorban demi kebaikan yang lebih besar dan membiarkan pihak berwenang membuat semua keputusan tentang ke mana Anda boleh pergi dan siapa yang boleh Anda temui.

Tidak ada krisis yang baik yang tidak akan dimanfaatkan.

Pekerjaan dan malapetaka

"Perselisihan ini baik untuk manusia"
—Hesiod, Works and Days

Kontrak yang menghilangkan kebebasan fisik ini telah datang dengan jenis pembebasan yang aneh dari pekerjaan kerah putih. Ekonomi digital telah mengubah kamar tidur semua orang menjadi kantor mereka dan, pada dasarnya, seluruh dunia mereka (kecuali, tentu saja, Anda bekerja dalam segala jenis pekerjaan yang benar-benar penting untuk reproduksi sosial).

Kesenjangannya—sekarang lebih eksplisit dari sebelumnya—adalah kesenjangan antara "pekerjaan bertahan hidup," yang terdiri dari campur aduk pengemudi Uber Eats, pekerja supermarket, karyawan ritel, pengemudi bus, dan petugas medis; sekarang dihadapkan pada tugas tanpa akhir untuk membuat masyarakat berjalan meskipun tertimpa pandemi terburuk dalam hidup mereka. Sebagian besar pekerjaan ini, terutama di bidang jasa makanan, tidak memiliki manfaat atau perlindungan pekerjaan, telah sekali lagi mengungkapkan stratifikasi kelas yang melekat dalam ekonomi jasa.

Pekerja yang ideal di mata negara sekarang bukanlah “pekerja survival”, meskipun tunjangan yang diberikan kepada mereka untuk bepergian relatif bebas (asalkan selama jam kerja). Faktanya, pekerja yang sempurna adalah pekerja yang bekerja dari rumah, tersembunyi dari orang lain dan perlahan-lahan kehilangan akal karena demam kabin dan kurangnya kontak sosial tatap muka. Ini adalah warga negara yang terhormat, yang seluruh hidupnya dapat direduksi menjadi satu ruangan: “turunkan kepalamu dan kerjakan, tunggu saja sampai selesai, jangan lakukan apapun yang menyulitkan kita.”

Teknokrasi dan kepatuhan

Penerapan isolasi sosial yang meluas dan hampir universal (setidaknya di antara yang bermaksud baik) dalam banyak hal menunjukkan cara yang sepenuhnya teknokratis dan elitis di mana krisis masih ditangani di dunia saat ini.

Tidak ada konsep solusi komunitas, melainkan ekonomi komando top-down dari kapitalisme bencana dengan karakteristik UBI (universal basic income). Kegagalan negara yang tersentralisasi dianggap sebagai kurangnya kepemimpinan yang kuat atau kurangnya kepatuhan oleh rakyat. Orang hanya perlu mendengarkan para ahli, sialan!

Isolasi sosial adalah katekismus, dan ahli kesehatan masyarakat adalah pendetanya. Kata-kata mereka di sini adalah hukum; dan orang biasa tampaknya tidak tahu bahwa, kontak dengan orang sakit dapat menyebarkan penyakit. Pemuda Amerika adalah petani abad pertengahan yang tidak mengenal pengobatan modern, sebaliknya orang-orang yang mengambil risiko yang diperhitungkan tentang paparan dan pengobatan. Terserah aparatus negara karantina untuk membuat keputusan ini untuk mereka.

Tidak ada ruang untuk debat atau diskusi, hanya ada kepatuhan. Jangan berpikir, cukup bertindak; jika tidak, orang akan mati.

Kristus di antara para penderita kusta

“Sekarang dalam perjalanannya ke Sacramento, Yesus melakukan perjalanan di sepanjang perbatasan antara Stockton dan Modesto. Saat dia pergi ke perkemahan, sepuluh pria yang mengalami kesulitan bernapas bertemu dengannya. Mereka berdiri di kejauhan dan berseru dengan suara serak, 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'

Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir."
—Lukas 17:11–14

Dorongan isolasionis menghasilkan individu-individu yang takut, patuh, dan teratomisasi. Kebebasan itu egois, otonomi adalah penyakit menular.

Penyembuhan tidak terjadi melalui isolasi; isolasi adalah cara untuk mematikan dan menyembunyikan orang sakit dan sekarat. Alih-alih mengancam infrastruktur kesehatan yang sudah bengkok dan tidak kompeten, para pengidap penyakit disuruh tinggal di rumah atau mereka akan berisiko dikirim ke tempat yang lebih terpencil dan tidak ramah.

Imajinasi kolektif kita sendiri adalah penyakit. Dalam menghadapi kekacauan, kita menunggu penyelamat datang dari luar dan menyelesaikan masalah ini untuk kita. Kita merasa tidak berdaya bahkan sebelum krisis ini dimulai; dan sekarang, setelah apa yang tersisa dari masyarakat terhenti, kita bahkan kurang mampu membayangkan diri kita memainkan peran apapun dalam keselamatan kita sendiri.

Jangan pernah lupa bahwa negara dan legiun para ahli bersertifikat-Ivy lebih dari bersedia mengorbankan ratusan ribu nyawa untuk Mammon guna melestarikan dirinya sendiri. Tanyakan pada diri Anda, apakah obatnya menjadi kristus di antara para penderita kusta, ataukah kota di atas bukit?

Dari krisis ke komunitas dan kembali lagi

Dalam komentar mereka tentang pandemi, CrimethInc. membuat serangkaian komentar yang menurut saya sangat relevan di sini:

Kami tidak akan lebih aman jika masyarakat kami direduksi menjadi sekelompok individu yang diatomisasi. Itu tidak akan melindungi kita dari virus atau dari tekanan situasi ini atau dari perebutan kekuasaan yang sedang dipersiapkan oleh para kapitalis dan otoritas negara. Sebanyak orang tua berisiko terkena virus, misalnya, orang tua sudah secara berbahaya terisolasi di masyarakat ini; memutuskan mereka dari semua kontak dengan orang lain tidak akan menjaga kesehatan fisik atau mental mereka. Kita semua harus tergabung dalam kelompok yang erat dengan cara yang memaksimalkan keselamatan kita dan kapasitas kolektif kita untuk menikmati hidup dan mengambil aksi … Dalam kelompok Anda, selama tidak ada yang terjangkit virus, Anda masih bisa berpelukan, berciuman, membuat makanan bersama, menyentuh permukaan yang sama—selama Anda setuju tentang tingkat risiko yang Anda secara kolektif siap untuk menoleransi dan mengomunikasikannya ketika faktor risiko baru muncul.[2]

Ideologi isolasi adalah praduga bersalah sebelum tidak bersalah, dari dosa tersembunyi yang Anda bawa yang tanpa sadar dapat meresap ke dalam diri Anda dan menguras kehidupan mereka di depan mata Anda sendiri. Inti dari isolasi sosial adalah membuat Anda takut pada diri sendiri sebagai pembawa, pembawa benih yang tidak murni yang tidak dapat Anda ketahui sampai terlambat.

Ini adalah jenis dosa asal di mana kita terkontaminasi sejak awal. Tapi ini bukan siapa kita. Komunitas memungkinkan kita memberi, menyembuhkan, dan melindungi dengan cara yang memberi kita hak pilihan daripada ketundukan. Kita membutuhkan mutual aid sekarang lebih dari sebelumnya.

Tawaran Faustian kepada kita masing-masing adalah, bahwa lebih baik aman di Neraka daripada sakit di Surga.

Konklusi

Setiap krisis di abad ke-21 memainkan dirinya sendiri sama seperti sebelumnya. Para ahli—meskipun sama sekali tidak siap untuk apa yang terjadi dan menawarkan solusi yang bisa dibilang sama buruknya dengan masalah mereka—diangkat ke posisi otoritas yang tidak perlu dipertanyakan lagi dalam wacana; dan perbedaan pendapat diperlakukan sebagai penyakit menular lain yang harus dibersihkan.

Saran saya untuk pembaca adalah sebagai berikut:

  1. Bersikaplah kritis, bahkan dengan maksud baik dan tindakan penahanan penyakit yang dapat dibenarkan.

  2. Setiap krisis adalah kesempatan. Jangan takut untuk memanfaatkan yang satu ini.

  3. Semua tindakan bisa menjadi new normal. Jika negara memiliki jalannya sendiri, pandemi tidak akan pernah pecah.

Ingat, Sloboda se ne prodaje za sve kuga maske svijeta; Kebebasan tidak dijual untuk semua topeng wabah di dunia.

—Dabtara

Lampiran: Beberapa poin klarifikasi

Setelah mengedarkan draf pertama dari teks saya ini, kurang dari seminggu telah berlalu sebelum ada beberapa perubahan radikal dalam iklim sosial saat ini yang perlu ditangani. Kita hidup di masa yang penuh gejolak dan segala yang ditulis berisiko gagal bahkan sebelum dapat dipublikasikan.

Pertama, saya tegaskan kembali bahwa: objek kritik di sini bukanlah praktik social distancing itu sendiri, melainkan posisinya dalam wacana kontemporer seputar pandemi COVID-19. Social distancing memang menyelamatkan nyawa (bila dilakukan dengan bijaksana), tetapi masalahnya adalah bagaimana tindakan solidaritas potensial ini diubah menjadi pedang bermata dua keterasingan dan ketidakpercayaan.

Social distancing” saat ini digabungkan dengan isolasi sosial, mengubah pelari di jalan menjadi pembawa potensial dan tetangga Anda menjadi Typhoid Mary. Paranoia mengarah ke mesianisme pada saat harus jelas bahwa negara tidak dapat (atau ingin) menyelamatkan kita. Penipu dan pemuja dapat meminta solusi dari guru dan doa, tetapi kaum radikal perlu menyadari bahaya mengidolakan isolasi dan mulai bekerja untuk memberikan bantuan nyata dan material dalam menghadapi krisis yang akan segera terjadi.

Seharusnya jelas bagi kita sekarang bahwa kita membutuhkan mutual aid. Ini akan menjadi masalah hidup atau mati secara harfiah. Ini bukan panggilan untuk bermain dokter demi meningkatkan ego seseorang; tetapi jika Anda yakin kehancuran akan datang, maka Anda sebaiknya mulai memoles keterampilan pertolongan pertama dasar. Demi diri Anda sendiri, jangan biarkan diri Anda berada dalam posisi di mana ada yang tidak beres ketika semua tempat tidur di rumah sakit penuh.

Akhirnya, sebanyak yang saya ingin menjadi optimis pada saat seperti ini, saya tahu harapan ini membuka apapun kecuali fragmentasi tipis. Kita harus berada di dalamnya untuk jangka waktu yang panjang dan itu akan sulit di masa mendatang. Jaga diri Anda dan jaga orang yang Anda cintai; dan yang terpenting, bersiaplah untuk yang terburuk. Akan ada saat-saat belas kasih dan solidaritas yang tulus yang akan memberi Anda harapan, dan sekarang bukan saatnya untuk pesimisme yang menyerang diri sendiri.

Bahkan dengan akal sehat, yang terbaik yang bisa kita katakan adalah: bahwa masa depan sangat tidak pasti. Saya masih memiliki harapan bahwa antara keruntuhan sistem dan distopia, kita mungkin dapat memecahkan sejarah terbuka dan mengklaim sedikit kebebasan untuk diri kita sendiri.

—Dabtara

[1] www.cnn.com

[2] Crimethinc.com