Farhan M.
Musim Hitam dan Terbakar
Pengantar
Apa yang kau genggam sekarang bukan sekadar kumpulan puisi prosa. Musim Hitam dan Terbakar adalah pecahan meteorit dari laboratorium jagad yang terbengkalai. Juga sisa-sisa percobaan Tuhan yang lupa akan dirinya sendiri. Hanlelono Ijauparang tidak menulis setiap puisi untuk dirayakan. Ia meracik setiap prosa dari residu entropi, dari percikan anti-materi yang menolak stabil.
Setiap kata, setiap baris di Musim Hitam dan Terbakar adalah sabda pembohong: bukan untuk menjemput juru selamat atau membangun kerajaan baru ditengah kehancuran yang dahsyat, tetapi untuk menegaskan satu hal: “kita ada karena kita terbakar dan terbakar.” Tak ada yang suci dan menyucikannya adalah lelucon terbaru. Sebab, dalam kumpulan puisi ini, Tuhan hanyalah molekul yang lumpuh dalam labu pecah.Surga adalah gas ringan yang menguap sebelum sempat mengendap. Dan moralitas? Sekedar kerak karbon di dinding reaktor dunia yang cacat.
Ijauparang tidak mengajak kita untuk memahami dan mempercayai setiap kata, tetapi sekali lagi—untuk meledak dan terbakar bersama—menolak gravitasi dunia dan mengoyak piranti hukum-hukum lelah yang mengurung diri Anda dalam kehancuran. Saat saya membaca kumpulan tulisan ini, hampir tidak ada sedikitpun celah kosa kata tentang “Keselamatan”. Dan jika kalian menyelami buku ini dengan harapan akan 'selamat' dari kekalahan dan babak belur akhir pekan, maka lempar dan buang!
Jika kalian mencari hukum indah tentang utopia dunia, tutup halaman ini. Tetapi jika kalian memiliki hasrat untuk menari dalam badai atom terakhir, maka masuklah dan selami. Selamat membaca, selamat datang di Musim Hitam dan Terbakar.
Tirto Danu
GEJALA KEHANCURAN KIAMAT API
seluruh langit runtuh menjadi abu, dan tak akan ada yang peduli.
seperti debug dalam badai tak berujung?
tenggelam dalam amarah, dan membiarkan semua yang terbelenggu
di dalamnya terbakar dalam api kebencian yang tak bisa
dipadamkan.
kehancuran, agar dunia ini bisa mengakhiri penderitaannya,
dan aku bisa mati dalam kesunyian yang pasti.
menyeru kematian yang lama ku rindukan.
harapan hanyalah pengkhianatan yang dibungkus dengan janji
kosong—mereka menyebutnya "kehidupan",
Keletihan, memuaskan akan kesia-siaan, dan di akhir semua ini,
yang menunggu hanya mengecewakan.
kebebasanku, bukan di dalam pelukan "kehidupan" yang
mengikat, namun di dalam kehancuran yang sejati— yang
menanti dengan tangan terbuka.
kematian, karena dalam kehancuran, aku menemukan diriku
yang sejati.
DUNIA KEMBANG TERBAKAR
atau menyembah, tapi untuk mengutukmu, dunia yang hina!
menjadi pembakar, menyalakan api dengan kata-kata yang
memberangus hati-hati bebal!
dalam jeruji ketakutan,
hanya ada satu yang tersisa: keberanian untuk hidup dalam
kebenaran yang penuh darah.
kerajaan untuk para malaikat bodoh yang masih menyembah!
akan membiarkan semuanya terbakar, karena dunia ini tak berdaya
layak diselamatkan.
DENDAM DAN PENGULANGAN
aku menyimpan kenangan
ke dalam dendam.
yang gugur belaka, keniscayaan berulang
yang habis entah kemana.
dari dasar botol, menuang penyesalan
dan pungkas teguk pesakitan.
MUSIM HITAM
hanya patah—seperti seharusnya.
masing-masing, hidup memang diperuntukkan
bagi pesakitan yang telah ditetapkan
sejak mulanya.
aku memilih kehilangan; menjadi penghabisan,
badai, dan kematian.
yang berjejak hanya bayang kita sendiri, berjalan
perlahan melewati diri kita yang lain, yang diam
lelap di laju jalan.
waktu acak tiada henti melawan hukum
ruang dan keberlangsungan".
HIKAYAT RAJA GENI
ketika mataku membara
& tak ada lagi yang kubaca selain kematian,
berdirilah pedang pemberontakan.
solidaritas, bakar habis jasad dengan
omongan kosong, yang dibawa oleh imam pembawa
keyakinan semu—sebuah lawakan delusi.
bahwa kejahatan dapat dilawan
dengan perasaan—kebodohan yang lain.
terlampau jauh pada pengrusakan batin,
aku terlanjur cinta pada pemberontakan.
tempat paling racun atas semua harapan,
namun aku rela mati karenanya.
YANG PURBA DAN KEHENDAK
kita panik badai api balas dendam purba
seribu masa
dan segala makna hampa
yang menjadi dogma
bencana harapan
sinyal marabahaya bagi hati
yang mendamba tiada
adalah raut semu yang kau
tampakkan belaka
perasaan tanpa nama yang
tak ada tahu benar sampai
sekarang atau sejak mulanya
hidup adalah kekasih kematian
paling purna tanpa hitungan purnama
KAN JELANG TIADA AKHIR
ke dalam sumur hampa,
palung hatimu yang batu.
seraya gugus bintang serupa pasir
yang bagaikan bulir,
menyebar ke seluruh aliran darahmu.
mata angin dari mangu jiwamu yang
selalu malam dan hening.
ke dalam kepalamu,
tidur yang mati dan luhur.
lautan luas diarungi bahtera
peristirahatan lalu-lalang kota
dan segala macam jenisnya
tak kau temukan apa-apa,
segera menerjanglah melesat
dengan sepenuh daya.
nama, bumi tanpa dasar, langit tanpa batas.
menghancurkan ruang dan waktu
melebihi kecepatan cahaya.
NOKTAH HITAM KEMATIAN
ketika langit diselimuti api.
bumi mendekam,
cinta menjadi marah,
di atas liang lahat kita.
WAKTU DAN KEKACAUAN YANG LAIN
menyalakan genderang perang.
mati, menyisakan debu di antara ribuan debu di langit yang tak
pasti.
lorong-lorong sunyi yang terlupakan, dan ia ku persilakan.
hukum-hukum waktu dan ruang, mempercayai segala sesuatu
abadi hanyalah gambaran, segala yang hidup adalah
mengajukan pada maut.
sendiri sebagai tuhan yang terlupa. berkeliling dalam kabut
menerima, menerima bahwa di akhir dunia, kita semua
adalah dewa yang terlantar.
menawarkan kebebasan yang tak terduga. Sepertinya tidak ada
langit yang abadi, dan bumi layak dibakar.
sebelum mati, menunggu berhenti yang seharusnya datang jauh
sebelum dunia ini lahir.
kita adalah api yang tak padam. menentang semua sejarah, dan
menerima penghargaan sebagai senyuman pertama dari kehidupan
yang sejati.
KIAMAT PEMBEBASAN
semua jadi abu, dan api bertabrakan dalam gemuruh.
menerjang, menelan, tanpa sisa.
seluruh ratapan hilang dalam angin.
dalam pelukan maut, tanpa belas kasih.
di atas api yang membakar jiwa kita sendiri, menyerahkan segala sesuatu pada rahasia yang kita ciptakan.
langkah dalam kegelapan yang tak terperi, menuju kebenaran.
hanya api dan abu.
tentang penulis
Farhan M., biasa disapa Farhan. Senang membayangkan puisi sebagai alternatif dunia yang kapan hari ia yakini akan terjadi, termasuk pada Musim Hitam dan Terbakar yang merupakan rilisan puisinya yang kesekian.
api yang menyala di dada langit, ribuan kali membakarku dengan lantang,
dan aku akan selalu rela jatuh di dalam kobarannya."
(Farhan M./2025)