Heart Void
Untuk Setiap yang Bertahan
Sebuah tulisan pendek tanpa tujuan
Apa artinya bekerja keras jika hasilnya hanya cukup untuk kembali bekerja di esok hari? Dan apa yang tersisa ketika kekerasan tidak selalu hadir sebagai pukulan, tetapi sebagai mesin penggiling yang membuat lelah sebelum sempat kita mengharapkan hari yang cerah?
Ini bukan untuk ataupun tentang orang-orang heroik. Ini tentang mereka yang membuka mata di pagi hari bukan karena ingin, tetapi karena sebuah keharusan. Tentang pekerja yang menahan sakit di punggungnya agar tetap bisa produktif. Tentang mereka yang duduk di ruang kelas yang selalu cemas memikirkan biaya untuk melanjutkan hidup hingga semester berikutnya. Tentang keluarga yang menghitung pengeluaran dengan sangat teliti karena satu kesalahan kecil bisa berarti keharusan untuk membayar utang yang baru. Tidak ada panggung besar di sini. Tidak ada slogan untuk diteriakkan. Hanya keseharian yang mencekam, yang sering dianggap sebuah kenormalan karena terlalu sering terjadi di setiap harinya.
Kita hidup di bawah kondisi yang bekerja seperti mesin besar. Yang tidak mengenal wajah, tidak peduli pada cerita-cerita personal. Mesin menuntut efisiensi, ketaatan, dan daya tahan. Kita menghadapi kekerasan dengan segala macam bentuknya: kontrak kerja yang tidak pernah pasti, harga kebutuhan hidup setiap hari yang terus naik, akses pendidikan dan kesehatan yang selalu dibatasi oleh kemampuan ekonomi.
Dalam situasi ini, bertahan hidup bukanlah sesuatu yang bisa dianggap netral. Ia bukanlah sekadar refleks biologis. Ketika seseorang tetap memilih untuk melanjutkan hidup tanpa sepenuhnya tenggelam pada narasi bahwa semua ini wajar, kita menciptakan jarak kecil antara diri sendiri dan mesin penggiling. Jarak yang mungkin sangat tipis, tetapi menjadi penting. Jarak yang memberi ruang untuk menunda persetujuan, terhadap apa yang dipaksakan pada hidup kita di setiap hari. Dan memungkinkan kita menyimpan keraguan, terhadap apa yang dikatakan sebagai satu-satunya cara memahami kenyataan.
Ini bukan tawaran atas optimisme murahan. Kenyataan memang menyedihkan. Kemiskinan adalah sesuatu yang nyata. Ketidakberdayaan adalah realitas di mana-mana. Banyak dari kita yang menjual tenaga kerjanya dan tetap tidak bisa menjadi apa-apa. Banyak dari kita yang berusaha keras dan tetap terjebak. Mengakui ini bukanlah pesimisme menyedihkan, tetapi untuk mengakui realitas, menyadari bahwa kita tidak sendirian, dan menentukan tindakan setelahnya.
Di sela-sela tekanan, orang-orang biasa tetap menciptakan ruang-ruang kecil. Mereka berbagi informasi dan pengetahuan, saling membantu, selalu bercakap tentang ketidakadilan yang mereka alami. Mereka belajar dari setiap pengalaman. Mereka mencari cara agar hidup tidak sepenuhnya ditentukan oleh ketakutan. Ruang-ruang kecil ini mungkin tidak spektakuler, tetapi ia adalah tempat di mana setiap kemungkinan mulai dirawat.
Bertahan hidup di tengah kekerasan yang terlembagakan bukanlah tindakan heroik, ia sering kali melelahkan. Namun ketika kita melakukannya dengan sadar bahwa tekanan yang kita alami bukanlah peristiwa terpisah-pisah, melainkan bagian dari roda mesin yang meggilas kita di setiap harinya, bertahan hidup tidak lagi sekadar respons otomatis. Ia menjadi posisi yang diambil secara sadar, bukan untuk dirayakan, melainkan sebagai sikap kita untuk tidak menyerah pada narasi yang merendahkan hidup kita menjadi sekadar angka dan fungsi.
Kita tidak sedang membuat revolusi besar di setiap hari. Tetapi setiap keputusan untuk tetap berpikir, tetap merasa, dan tetap saling terhubung adalah ruang untuk menciptakan berbagai macam kemungkinan dan bentuk penolakan terhadap upaya menjadikan kita kaku dan pasif.
Di dunia yang menekan kita setiap hari untuk menyerah atau menutup mata, memilih untuk tetap hidup dengan kesadaran adalah cara paling sederhana untuk mengatakan, kita belum selesai.