Ifan Reynaldi Yz.
Patahkan Sayapmu Teman
Bagaimana kabar dan apa geranganmu hari ini? Sudahkah kau menyeduh secangkir kopi dan mengambil sebuah potret lalu mengutip buku-buku kiri? Sudahkah kau menyematkan tagar #RevolusiAtauMati di bawah bait-bait puisi dan mengunggahnya pada laman insta-story? Sudahkah kau duduk bersilang kaki bergunjing dengan sesamamu tentang ke-bijak-an mana yang harus dikritisi dan ke-bajik-an mana yang tidak perlu begitu lantang kau amini dikarena satu dan lain halnya akan memberi jalan di penghidupanmu nanti? Atau saja masih kau mencari paham, akan di blok mana arah pandang dan langkah itu nantinya hendak kau ratapi dan kau jejaki.
Tentu saja kau tidak ingin menjadi seperti aku, ataupun serupa mereka-mereka yang tidak mempedulikan itu semua. Kubilang tidak adalah dikarena muak. Benar. Kau akan menajiskan hal yang nihil semacam itu. Hidup akan berarti kesia-siaan bagimu jika harus menelan ludah barang sekali. Juga apalah gunanya bidang ilmu yang telah melekat pada dirimu itu jika tidak dilihat orang, bukan? Telah kau pelajari tentang manusia hingga bisa kau kelompokkan mereka mana yang ‘layak’ dan yang ‘setara’. Telah kau selami lautan hukum hingga bisa kau nobatkan mana salah dan mana benar tanpa perlu mengikuti azas kemanusiaan. Telah habis juga kau jilati bokong aparat dan orang-orang partai.
Kau akan mengumpat sejadi-jadinya di satu sisi dan abai terhadap sisi lain meski kau tahu penderitaan sama yang melandasi keduanya. Kau rela mati dan bersimpati di satu sisi lalu kau ludahi sisi lainnya barang karena tidak ada panggung yang elok hingga media pun enggan meliputnya. Kau berteriak bahwa tujuan bergeraknya kita adalah demi pembebasan untuk semua, namun ‘semua’—nya ini ialah orang-orang tertentu saja. Kau lantangkan bahwasanya tidak ada pembeda di antara kita, namun mereka-mereka yang tidak jelas timpang tanduknya adalah kelompok yang berbeda.
Bagaimanapun halnya, kau telah merintih, teman, dan kita telah kalah. Tidak. Kau tidak salah. Kita kenal. Aku paham. Kau dan aku tidaklah selaknat para selebrita yang hidup dengan penuh kepura-puraan. Toh bagaimana bisa kita berpura-pura di saat masih bisa kita lihat anak-anak yang belum lagi lurus kencingya itu pada hampir mati keracunan. Bagaimana bisa kita berpura-pura di saat masih bertambahnya korban-korban hilang dan jasad-jasad pun ditemukan tanpa diberlakukan peradilan. Bagaimana bisa kita berpura-pura di saat petua-petua adat yang selalu mengajak kau dan aku untuk bertamu ke rumahnya masih tidak lekang dari angin-angin penggusuran.
Namun, memang, dari panasnya bahu jalan, hingga mengatung kita di sudut-sudut angkringan, lari dari kejaran dan penangkapan, selama ini benar tidak ada perubahan. Tentu siapalah peduli. Kondolidasi harus tetap dilansungkan. Kajian-kajian harus selesai dirunutkan. Hendak nanti bisa mereka terima kita, dan kita melangkah balik ke titik semula: terkatung menunggu hal yang tidak ada.
Itulah mengapa aku dan mereka tidak semulia engkau, teman. Kau masih dapat menyimpan harapan pada mereka-mereka yang mengucapkan hal-hal baik di kursi jabatan. Kau bisa turut bersuka ria di saat mereka cetus sebuah kebijakan yang bisa menolong sebagian orang meski sebagian besar lainnya ditelantarkan dan semakin disengsarakan. Kau masih bisa percaya pada apa yang tertera di undang-undang bahwasanya sejahtera itu adalah apa yang telah mereka ucapkan dan apa yang telah mereka sepakati dan tuliskan.
Karena bagaimana bisa tidak kau ikuti segala aturan perundang-undangan? Lihatlah, dalam hitungan hari lagi amanat yang dibebankan padamu di satu kelompok akan purna, dan kau akan dipindahkan ke kelompok lain dengan tanggung jawab yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pun tidak lama daripada itu kau juga tentu akan bertambah usia, tidak lagi kau bisa berleha-leha untuk kita mendiskusikan buku dan mengumpati para pemodal bersama-sama. Hinggalah kau tidak bisa lari dari itu semua, memberi iba kepada aku dan mereka-mereka yang dianggap tidak juga menginjak dewasa, karena di penghujungnya kau telah beranggapan bahwa pada dasarnya realita hidup kita beginilah sahaja.
Jikalau kau menghentak bahwa kau tidak akan demikian, tentu aku mempercayainya. Namun tolong jangan kau sangkut pautkan kesadaranmu terhadap aku, pada bidang apapun itu, karena tidak menutup kemungkinan pada penghujung jalan, aku yang menikammu dari belakang. Maka dengannya janganlah pernah, teman, meninggikan satu di atas yang lain. Absurditas kita setiap manusia bahkan Tuhan sekalipun tidak bisa menerkanya. Tinggikanlah dirimu saja. Jadilah Individulist yang absolut. Jangan labelkan bahwa kau sama dengan yang lain. Akan sebatas hitam-putih hari-hari jika setiap orang tidak hidup atas keyakinan dirinya masing-masing. Patahkan sayapmu, teman.
Jika semuanya telah terlaksana tidak perlu lagi kita mencari seorang pelopor yang bisa merangkup segalanya, karena setiap kita telah menjadi pelopor atas diri kita sendiri. Tidak perlu kita memberi dominasi dan pencerahan kepada yang lain, seperti para petinggi-petinggi agama yang dimuliakan perkataan mereka hanya dikarena golongan darahnya sahaja. Tidak perlu kita menunggu ajakan dari segenap influencer gadungan untuk kita mengadakan revolusi besar-besaran karena nantinya mereka akan hilang ketika kita tertangkap dan ditahan, meski gedung-gedung pemerintahan — serupa ajakan mereka — telah habis kita ledakkan. Akhir tidaklah perlu dan janganlah juga, kita mendambakan keutuhan negara, karena sama halnya menunggu kepastian antara lebih dulu mana telur daripada ayam, negara juga tidak akan pernah mendapat jawaban atas etikad baik pembentukannya.
Kalau sudi kau demikian, mungkin hari depan di antara kita masih ada pengharapan. Hanya kau dan aku. Kapan dan di mana tidak perlu kita pedulikan, karena itu bisa bermula dari sekarang. Bagaimana jika kita berhenti mendengarkan lagu-lagu perjuangan dari musisi-musisi yang melazimkan pengklasifikasian akan siapa saja orang-orang yang layak tegak di barisan depan? Bagaimana jika kita merpersetankan sastra-sastra yang dikanonkan, karena kita menghendaki bahwa tidak ada gagasan yang absolut dalam kehidupan? Bagaimana jika kita sebar buku-buku bajakan di lapak baca sepanjang jalan, karena ingin kita setiap ladang pengetahuan sama haknya setiap orang mendapatkan? Bagaimana jika kau lupakan sejenak busuknya pengkaderan karena kita sama-sama paham kalau itu adalah titik mula dari segala perpecahan dan kepura-puraan?
Bagaimana jika nantinya sebelum kita panjatkan do’a kepada teman-teman yang berada di benua lain kita panjatkan dahulu do’a untuk saudara kita yang sedang dijajah hidupnya di timur sana? Bagaimana jika kita tidak lagi mengelompokkan antara tumbuhan, binatang, dan manusia, sebab kita percaya bahwa tak ada yang bebas sebelum semuanya benar-benar bebas, dan penindasan terhadap satu sama halnya penindasan terhadap semua? Bagaimana jika nanti kita berbaris dengan pakaian serba hitam sahaja, menjadi manusia selayak-layaknya manusia, mengencingi lambang negara, dengan pasokan whisky dan vodka, kita menunggu indahnya kiamat bersama-sama?