Catatan Penerjemah


Seperti banyak dikatakan, apabila kaum Kiri memiliki Revolusi Russia 1917 sebagai kebanggaan mereka (walaupun bagi kami, tak ada yang patut dibanggakan dari berkuasanya Bolshevik), maka para anarkis dan anti-otoritarian boleh memiliki Revolusi Spanyol 1936. Revolusi Spanyol, atau juga yang lebih dikenal dengan Perang Sipil Spanyol, sesungguhnya berlangsung sejak awal dekade 1930-an hingga pertengahan akhir dekade tersebut. Tahun 1936 adalah puncak dari kebangkitan tersebut, di mana selanjutnya kekuatan revolusioner disapu sedikit demi sedikit oleh pasukan fasis Franco—yang antara lain akibat pengkhianatan kaum Kiri dan sebagian lagi, adalah keputusan yang keliru dari para ‘pimpinan’ revolusi yang mencoba membentuk struktur pemerintahan baru.

Banyak catatan mengenai Revolusi Spanyol tersebut, termasuk pro dan kontra kebijakan CNT-FAI (federasi serikat buruh yang dominan saat itu) untuk bergabung dengan pemerintah. George Orwell, seorang penulis kenamaan, pernah menuangkan kisah pengalamannya selama bergabung dengan Brigade Internasional dan POUM (kelompok Marxis), dan turut bertempur di garis depan bersama para anarkis, dalam bukunya Homage to Catalonia. Buku tersebut adalah catatan personal yang begitu jujur dan memperlihatkan situasi dan kejatuhan Revolusi, dari tangan pertama. Tapi terus terang, buku tersebut terlalu panjang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sementara, teks berikut ini, jauh lebih singkat tetapi mampu memberikan gambaran mengenai Revolusi tersebut. Begitu personal, emosional dan menyentuh, sekaligus memberikan visi yang jelas tentang apa yang ideal yang diharapkan tak pernah pudar tentang bagaimana revolusi seharusnya berjalan.

Aslinya ditulis dalam bahasa Spanyol, oleh Incontrolado (Yang Tak Terkontrol), nama samaran dari seseorang yang menjadi bagian dari Kolom Besi, teks ini dipublikasikan secara bersambung dalam sebuah harian anarkis yang terbit di Valencia pada Maret 1937. Teks tersebut diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh “dua afiliasi yang tak berkualitas”, yaitu Guy Debord dan Alice Becker-Ho. Dipublikasikan dalam bahasa Prancis oleh Editions Gerard Lebovici pada Desember 1979. Diterjemahkan dari bahasa Prancis dengan mengacu beberapa dari bahasa Spanyol oleh Not Bored! pada Juni 2007. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris dengan mengacu beberapa dari bahasa Prancis oleh Piranha pada September 2010.


Piranha, 2010

Catatan Pembuka


Pernyataan ini [1] ditulis oleh sorang milisi anarkis tak dikenal, yang merupakan bagian dari “Kolom Besi” yang terkenal, hadir—bahkan hingga hari ini—sebagai naskah yang paling jujur dan indah yang ditinggalkan oleh revolusi proletarian Spanyol. Komposisi revolusi ini, niat dan praktiknya dipaparkan dengan kepala dingin dan penuh hasrat di dalamnya. Sebab-sebab prinsipil kegagalannya diketengahkan: mereka yang mengikuti aksi-aksi kontra-revolusioner yang konstan dari para Stalinis melepaskan kekuatan borjuis yang sebelumnya pernah terlucuti di bawah kekuasaan Republik, dan hak-hak istimewa kontan para pemimpin CNT-FAI (di sini secara pahit diberikan istilah “bagian dari kami”) dalam rentang waktu Juli 1936 hingga Maret 1937. Mereka yang dengan bangga, sekaligus terendahkan, menyandang titel incontrolado (yang tak terkontrol) terbukti memiliki sensibilitas historis dan strategis yang terbaik. Sebagian telah membuat revolusi setengah-setengah, lupa bahwa waktu tidak pernah berhenti. “Kemarin, kami adalah penguasa segalanya; hari ini, mereka.” Di masa tersebut, para libertarian dalam “Kolom Besi” tak dapat lagi “bergerak terus hingga akhir,” bersama-sama. Setelah menjalani hidup di sebuah momen besar, hal tersebut tak dapat lagi “memisahkan kami, saling meninggalkan, tak bersua lagi satu sama lain.” Tetapi pada selanjutnya semua yang menolak tunduk dikalahkan.

Naskah ini, yang dikutip dalam karya Burnett Bolloten [2], dipublikasikan dalam Nosotros, sebuah koran harian anarkis di Valensia, pada 12, 13, 15, 16 dan 17 Maret 1937. Pada 21 Maret, “Kolom Besi” diintegrasikan ke dalam “Tentara Popular”-nya Republik di bawah nama Brigade ke-83. Pada 3 Mei, kebangkitan bersenjata para pekerja di Barcelona dipatahkan oleh para pemimpinnya, yang mana seluruhnya berhasil ditundukkan pada 7 Mei. Apa yang tersisa kemudian adalah dua kekuasaan berorientasi negara dari pihak kontra-revolusi, yang terkuat yang di akhir Perang Sipil keluar sebagai pemenang.



Guy Debord, 1979

Protes Bagi Para Libertarian Masa Kini dan Masa Depan Tentang Kekalahan 1937

Aku adalah salah satu dari mereka yang diselamatkan dari San Miguel de las Reyes, penjara menyeramkan yang dibangun oleh monarki untuk mengubur hidup-hidup orang-orang yang—karena mereka bukanlah pengecut—tak pernah tunduk pada hukum-hukum tertinggi yang didiktekan oleh para penguasa kepada mereka yang tertindas. Mereka membawaku kemari, seperti banyak orang lainnya, karena telah melakukan sebuah pelanggaran, karena memberontak melawan penghinaan di mana seluruh desa menjadi korban: dengan kata lain, karena membunuh seorang cacique. [3]

Dulu aku muda, dan kini aku masih muda, semenjak aku memasuki penjara pada usia 23 dan aku keluar—karena para anarkis membukakan pintu—saat aku berusia 34. Sebelas tahun tunduk pada hukuman sebagai bukan manusia, sebagai benda, sebagai sebuah nomor!

Bersamaku keluar juga banyak orang, yang telah menanggung banyak hal, yang juga membekas melalui perlakuan-perlakuan buruk yang mereka alami semenjak lahir. Beberapa dari mereka berpencar begitu kaki mereka menginjak trotoar jalanan; sementara yang lainnya bergabung dengan para pembebas kami, yang memperlakukan kami seperti kawan dan mencintai kami seperti saudara. Bersama mereka, sedikit demi sedikit, kami membentuk “Kolom Besi”; bersama mereka, dalam langkah-langkah besar, kami melancarkan sebuah serangan ke barak-barak dan mendistribusikan senjata-senjata pada milisi sipil yang tak pernah ragu-ragu; bersama mereka, setelah serangan-serangan tersebut, kami memukul mundur para fasis hingga sejauh cekungan pegunungan, di mana mereka masih berada. Terbiasa mengambil apa yang kami butuhkan, memburu para fasis, kami mengambil dari mereka ransum dan senapan. Dan kami menyegarkan diri sejenak dengan apa yang disuguhkan oleh para petani, dan kami mempersenjatai diri walau tak seorang pun menghadiahi kami sebuah senjata, tapi dengan apa yang kami rampas dengan kekuatan tangan-tangan kami, ataupun yang dibagikan oleh tentara-tentara insurgen. Senapan yang kugenggam dan kuelus, yang telah menemaniku semenjak aku meninggalkan penjara, adalah milikku, inilah bagian dari diriku; apabila aku mengambil sesuatu—seperti seorang lelaki—apa yang kumiliki di tanganku dan dimiliki juga oleh nyaris semua kamerad-kameradku di tangan mereka, adalah milik kami, benar-benar milik kami.

Tak seorang pun, atau nyaris tak seorang pun, yang pernah memberi kami respek. Melihat kami meninggalkan penjara, mentalitas borjuis tidak berakhir dan telah menyebar ke setiap orang, bahkan pada momen seperti ini, dan hasilnya, bukannya mengabaikan dan membantu kami, mendukung kami, tapi mereka malah memperlakukan kami seperti bandit, mereka menuduh kami tak terkontrol: karena kami tidak tunduk pada ritme hidup, kami ingin dan (masih) ingin menjadi bebas, dari tekanan orang-orang yang dengan bodoh dan angkuhnya menganggap diri mereka pemilik orang-orang lainnya hanya karena mereka menjadi bagian dari sebuah dewan atau komite; dan karena, di desa-desa yang kami lalui—setelah mengambil kepemilikan para fasis—kami mengubah pola hidup, membasmi para “pemimpin” kejam yang menyiksa eksistensi para petani, dengan cara merampok mereka dan mengembalikan kekayaan yang ada ke tangan-tangan mereka yang tahu bagaimana menciptakannya: ke tangan-tangan para pekerja.

Tak seorang pun, aku dapat meyakinkanmu, tak ada seorang pun yang menggabungkan dirinya dengan mereka yang tak berpunya, yang membutuhkan, dengan mereka yang terampok dan terhukum seumur hidup mereka, lebih baik dari kami, yang tak terkontrol, para bandit, para pelarian dari penjara. Tak seorang pun, tak seorang pun—aku menantang siapa pun yang dapat membuktikan sebaliknya—yang pernah jauh lebih memberikan kasih sayang dan tanggung jawab terhadap anak-anak, para perempuan dan orang-orang lanjut usia; tak seorang pun, sungguh tak seorang pun, dapat menyanggah bahwa Kolom ini, walau sendirian, tanpa bantuan—dan bahkan harus dikatakan dihalang-halangi—telah menjadi garda depan sejak awal; tak seorang pun dapat menuduh kami tak memiliki solidaritas atau pun adanya despotisme, apatisme atau kepengecutan saat dipertanyakan soal pertempuran, atau tentang perlakuan kami terhadap para petani, atau lemahnya semangat revolusioner; karena ketegasan dan keberanian dalam bertempur telah menjadi norma kami, kebaikan penuh respek pada mereka yang dikalahkan adalah hukum kami, pertemanan yang hangat pada saudara kami adalah moto kami, dan kemurahhatian serta respek adalah kriteria untuk membuka hidup kami.

Ada apa dengan kabar buruk yang orang-orang tiupkan ke arah kami? Ada apa dengan prasangka tak berdasar yang menjatuhkan nama kami, saat kejatuhan kami, walaupun memang tak mungkin, hanya akan membawa prasangka pada sebab-musabab revolusioner dan perang (sipil) itu sendiri?

Demikianlah adanya—kami, adalah orang-orang yang berasal dari penjara, yang jauh menderita dari siapapun di atas muka bumi, kami tahu pasti soal itu—demikianlah, kukatakan, sebuah borjuisasi yang ekstrim telah mengudara. Borjuisasi jiwa raga, yang setengah-setengah atau malah tunduk sepenuhnya, gemetar mendengar ide soal kehilangan kenyamanan, cerutu-cerutu dan kopi mereka, banteng mereka, teater mereka dan relasi mereka yang mirip pelacur; dan saat mereka mendengar sesuatu tentang Kolom kami, tentang Kolom Besi ini, tentang dukungan pada Revolusi di kawasan Levant, atau saat mereka mendapati bahwa Kolom tersebut telah menyatakan kedatangannya menuju Valencia, mereka gemetaran seperti daun, berpikir bahwa Kolom tersebut datang untuk mengoyak hidup mereka dari kesenangan-kesenangan mereka yang menyedihkan. Dan para borjuis—terdapat borjuis di setiap kelas yang berbeda dan di banyak posisi—tumpang tindih, tanpa henti, dan hanya para borjuis, yang akan dan masih dapat merusak aktivitas kami, kebangkitan kami dan hasrat kebebasan penuh kegilaan yang membawa hati kami, hasrat untuk bebas seperti elang-elang di tempat tertinggi atau singa-singa di belantara terdalam.

Bahkan saudara-saudara kami sendiri, yang juga menderita bersama kami di ladang-ladang dan tempat kerja, mereka yang tereksploitasi oleh para borjuis, membiarkan diri mereka menggaungkan ketakutan memuakkan dan bahkan mulai percaya pada mereka, karena beberapa orang—yang menemukan ketertarikannya untuk menjadi pemimpin—berkata bahwa kami, orang-orang yang berjuang dalam Kolom Besi, adalah bandit dan orang-orang tak berjiwa; hasil dari kebencian ini, yang seringkali hadir dalam bentuk fanatisme yang kejam dan mematikan, menyebarkan kerikil di jalan kami, sehingga menghalangi kemajuan kami melawan fasisme.

Pada beberapa malam yang gelap gulita—dengan senjata di tangan dan telinga yang waspada—aku beringsut masuk semakin dalam ke sekeliling negeri dan juga ke dalam misteri, aku tak menemukan penghiburan lain, sebagai sebuah mimpi buruk, dibanding berdiri tegak, tak terlindungi. Dan hal ini bukan sekedar untuk mengobati perutku yang keram, yang akan mengeras karena telah melewati proses yang menyakitkan, melainkan untuk menggenggam senjataku dengan lebih geram, merasakan sepenuhnya hasrat untuk menembak, tidak hanya ke arah musuh yang bersembunyi setidaknya 100 meter dariku, tetapi juga ke arah musuh lain, yaitu ke arah mereka yang mana aku sendiri tak dapat melihatnya, ke arah mereka yang bersembunyi di pihakku, yang dalam momen tersebut masih memanggilku kamerad walaupun pada dasarnya ia telah menjelek-jelekanku, semenjak tak ada kegagalan yang lebih pengecut dibandingkan seseorang yang terlibat dalam pengkhianatan. Dan aku merasakan hasrat untuk menangis dan tertawa, untuk berlari sepanjang ladang sambil berteriak dan mematah-matahkan leher dengan jemari besiku, sebagaimana aku pernah mematahkan dengan jemariku leher seorang “pemimpin” yang kejam, dan meledakkan—hingga hanya tersisa reruntuhan—dunia yang menyedihkan ini, dunia yang mana teramat sulit untuk menemukan tangan-tangan bersahabat, yang mengelap keringatmu dan mengeringkan darah dari lukamu saat engkau kembali dari medan tempur dengan rasa lelah dan penuh luka.

Berapa malam, orang-orang berkumpul bersama, dan hanya membentuk sekelompok kecil saja, saat aku ingin mengekspresikan pada kamerad-kameradku, para anarkis, tentang derita dan kesedihanku, yang kutemukan di sini, di tengah kerasnya hawa sisi pegunungan, berhadapan dengan musuh yang berbaring menunggu kami, sebuah suara bersahabat dan lengan-lengan penuh kasih sayang yang dapat membuat aku mencintai hidupku kembali! Kemudian, akan kulemparkan seluruh penderitaanku pada angin, seluruh masa laluku, seluruh kengerian dan derita yang membekas di tubuhku, seakan itu semua terjadi di masa yang lain, dan akan kutinggalkan diriku dengan keriangan mimpi-mimpi petualangan, menyadari demam imajinasiku akan sebuah dunia yang berbeda dari dunia yang kuhidupi saat ini, dunia yang kuhasrati: sebuah dunia yang berbeda dengan dunia saat ini yang dihidupi orang-orang, sebuah dunia yang diimpikan oleh banyak orang. Dan waktu akan berlalu bagiku seakan ia dapat terbang dan kelelahan tidak lagi menggangguku, dan antusiasku berlipat ganda, menggerakkanku tanpa takut dan membuatku meninggalkan titik inspeksiku di hari tersebut sehingga menemukan musuh dan... semuanya untuk mengubah hidup; untuk memasuki ritme lain hidup ini yang menjadi milik kami; sehingga orang-orang, dan aku di antaranya, dapat bersaudara; sehingga, setidaknya pada akhirnya, keriangan, meledak dari hati kami, memupuki daratan; sehingga Revolusi ini, Revolusi yang telah menjadi kutub dan moto Kolom Besi, dapat segera dituntaskan.

Mimpiku akan melenyap seperti awan putih tipis di atas kami, melayang melewati pegunungan, dan aku kembali pada kekecewaanku. Lantas aku akan kembali pada mimpiku, di waktu lain, di malam hari, pada kebahagiaanku. Dengan demikian, di antara kesedihan dan kebahagiaan, antara kesedihan dan linangan air mata, kulewati hidupku, dengan rasa bahagia saat berhadapan dengan bahaya, dibandingkan dengan hidupku yang gelap dan sengsara di penjara yang gelap dan menyedihkan.

Tetapi suatu hari—hari yang kelabu dan menyedihkan—di puncak pegunungan, tersiar berita yang hadir seperti angin bersalju: “Kita harus memiliterisasi diri kita sendiri.”[4] Bagaikan belati, berita tersebut mengoyakku. Aku semakin merasakan derita yang sebelumnya sudah terasa begitu pilu. Kala malam turun, kala aku berada di perlindungan, aku mengulang-ulang berita tersebut pada diriku sendiri: “Kita harus memiliterisasi diri kita sendiri...”

Kamerad di sampingku, yang berjaga sementara aku beristirahat, meskipun aku tak juga bisa menutup mata, adalah delegasi dari kelompokku, yang kini akan menjadi seorang letnan, sementara beberapa langkah dariku, tidur di tanah yang sama, merebahkan kepalanya di atas setumpuk bom, sedang terlelap delegasi centurion [5], seseorang yang akan menjadi seorang kapten atau kolonel. Sementara diriku... aku akan terus menjadi diriku, anak negeri ini, seorang pemberontak hingga akhir hayat. Aku tidak ingin, dan masih tidak mau, palang atau strip atau komando. Aku adalah seperti adanya diriku, seorang petani yang belajar membaca di dalam penjara, yang telah melihat kesedihan dan kematian dari jarak dekat, yang menjadi seorang anarkis tanpa menyadarinya, dan kini setelah menyadarinya, menjadi lebih anarkis dibanding masa lalu, saat aku membunuh demi kebebasanku.

Hari tersebut, hari di mana berita turun dari cekungan pegunungan seperti angin dingin yang mengoyak jiwa, akan menjadi hari yang tak terlupakan, sebagaimana hari-hari lain dalam hidupku yang penuh kesedihan. Hari tersebut... ah!

Kita harus memiliterisasi diri kita sendiri!

Hidup mengajarkan manusia jauh lebih banyak daripada semua teori, daripada semua buku. Mereka yang ingin mempraktekkan apa yang mereka pelajari dari sesamanya dengan cara mereguk dari apa yang tertulis di buku-buku, adalah mereka yang menipu diri mereka sendiri; mereka yang menyimpan ke dalam buku apa yang mereka pelajari dalam tiap kelok jalan kehidupan, mungkin akan membuat karya menakjubkan. Kenyataan dan khayalan adalah dua hal yang terpisah. Bermimpi adalah sesuatu yang baik dan indah, karena mimpi nyaris selalu berupa antisipasi tentang bagaimana sesuatu itu seharusnya; tetapi menyalurkannya adalah sebuah hidup yang indah, menghidupkannya, mengkongkritkannya, adalah sebuah kerja yang indah.

Aku, aku telah menjalani hidupku dalam kecepatan tinggi. Aku tidak merasakan masa muda yang, dari apa yang kubaca, penuh kebahagiaan, manis, baik. Di penjara, aku hanya mengenal kesedihan. Tapi itu adalah muda apabila ia diukur dari jumlah usiaku, kenyataannya aku adalah seorang yang tua berdasar semua yang pernah kuhidupi, berdasar semua yang pernah kutangisi, berdasar semua derita yang pernah kutanggung. Karena, di penjara, seseorang jarang tertawa; di penjara, walaupun seseorang berada di bawah naungan atap ataupun langit, seseorang selalu menangis.

Membaca buku di penjara, terpisah dari kontak dengan sesama manusia, adalah bermimpi; dengan membaca buku tentang kehidupan, saat halamannya menghadirkan dirinya padamu, tak peduli siapa yang memenjarakanmu, melecehkanmu ataupun memata-mataimu, dirimu sedang melakukan kontak dengan kenyataan.

Suatu hari aku membaca, aku tidak tahu di mana atau oleh siapa, sang penulis tak dapat merasa yakin tentang bumi yang bulat tanpa ia sendiri pernah menjelajahinya, mengukurnya, merasakannya: menemukannya. Beberapa prakiraan tampak konyol bagiku, tetapi kalimat-kalimat pendek tersebut tetap tercetak dalam ingatanku, di mana kadang, selama obrolanku dengan diriku sendiri di tengah heningnya selku, aku memikirkannya. Hingga suatu hari, seakan aku sendiri telah menemukan sesuatu yang menakjubkan dari sesuatu yang sebelumnya tersembunyi dari seluruh pandangan umat manusia, aku merasakan dengan jelas kepuasan karena telah menemukan, dengan caraku sendiri, bahwa bumi itu bulat. Dan pada hari tersebut, seperti penulis kalimat-kalimat tersebut, aku menjelajahi, mengukur dan merasakan planet ini, dalam imajinasiku cahaya membentuk dirinya sebuah ‘visi’ di mana bumi menjadi ruang yang tak terbatas, sebuah bagian yang harmonis dari keseluruhan alam semesta.

Hal yang sama terjadi juga saat membicarakan sakit. Adalah sesuatu yang penting untuk menimbangnya, mengukurnya, merasakannya, merasainya, memahaminya, menemukannya, untuk mendapatkan penjelasan yang jernih tentang apa itu jiwa. Di sampingku, menarik sebuah kereta, sementara di ketinggian yang lain bernyanyi dan bergembira, kulihat orang-orang, seperti diriku, bertingkah seperti keledai. Mereka tidak menderita; mereka tidak mengeluhkan protes dari bawah; mereka melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang masuk akal bahwa orang-orang tersebut, sepanjang menjadi penguasa, adalah mereka yang memegang tali kekang dan menggenggam cambuk, dan bahwa semua itu adalah sesuatu yang masuk akal, walaupun sang penguasa, dengan cara menarik kekang, telah melukai wajah mereka. Seperti binatang, mereka akan melenguh, menekankan kakinya ke tanah dan mulai mencongklang. Setelahnya, oh, begitu sarkastisnya! Saat sang penguasanya melepas kekangnya, mereka akan menjilati tangan yang telah mencambuk mereka seperti anjing-anjing penurut.

Tak seorang pun yang, dihinakan, disakiti, dibuat marah—yang merasa dirinya menjadi makhluk paling tak beruntung di atas muka bumi, pada saat yang sama merasa mulia, terbaik, layak menjadi manusia, dan siapa yang di saat yang sama sekaligus, mengalami ketidakbahagiaan serta merasa dirinya bahagia dan kuat, karena merasakan di punggung dan wajahnya, tanpa peringatan, tanpa motif apa pun, melainkan demi kesenangan menyakiti dan menghina, kepalan dingin makhluk yang buas—tak seorang pun, yang telah diseret ke dalam penjara karena melakukan pemberontakan, dan karenanya, ditampar wajahnya dan ditundukkan, mendengar tulang belulangnya berderak dan melihat darahnya mengalir hingga ia terjatuh ke tanah seperti sebuah benda berat—tak seorang pun, setelah menerima siksaan yang menyakitkan yang ditimbulkan oleh orang lainnya, dipaksa merasakan ketidakberdayaannya, yang mengutuk dan menyumpah serapah atas hal tersebut, yang di kemudian hari mulai merasakan kekuatannya kembali menyatu—tak seorang pun, yang menerima hukuman dan kemarahan, karena sadar akan ketidakadilan hukuman dan kejinya kemarahan, dan berbekal kesadaran ini, mengusulkan untuk mengakhiri hak-hak istimewa yang menjamin beberapa orang saja untuk dapat memberikan hukuman dan kemarahan—tak seorang pun, pada akhirnya, yang telah terkurung di penjara atau terkurung di dunia, memahami tragedi di mana orang-orang dikutuk untuk patuh dalam keheningan dan secara buta menerima perintah—tak ada seorang pun yang tidak mengetahui dalamnya derita untuk diam dan patuh. Menghasrati kebebasan untuk berbicara dan untuk tetap diam, menghasrati kebebasan untuk bernyanyi dan untuk tetap diam, menghasrati kebebasan untuk tertawa dan untuk, dengan terpaksa, mengunci derai tawa di mulut, menghasrati kebebasan untuk mencintai dan untuk dikutuk berenang di lumpur kebencian!

Aku berjalan melewati barak-barak, dan di sana aku belajar untuk membenci. Aku berjalan melewati penjara, dan di sana, di antara air mata dan penderitaan, anehnya, aku belajar untuk mencintai, mencintai dengan sepenuh hati.

Di barak-barak, aku nyaris kehilangan personalitasku, begitu kerasnya perlakuan yang kualami, karena seseorang ingin menanamkan dalam diriku sebuah disiplin yang bodoh. Dalam penjara, melalui banyak perjuangan, aku menemukan kembali personalitasku, setiap kalinya semakin penuh pemberontakan pada apa pun yang hendak dicekokkan kepadaku. Sebelumnya, aku belajar dari kebencian, dari tingkat terendah seluruh hierarki; tetapi di penjara, di tengah derita yang paling menyedihkan, aku belajar untuk mencintai mereka yang tak beruntung, saudara-saudaraku, saat aku kembali, dengan murni dan jernih, membenci hierarki yang dicanangkan di barak-barak. Penjara-penjara dan barak-barak adalah hal yang sama: despotisme dan bebas lepasnya perilaku buruk beberapa orang, yang dibayar dengan penderitaan semua orang. Barak-barak tidak mengajarkan apa pun yang tidak merusak kesehatan fisik dan mental; dan penjara juga tidak pernah mampu memperbaiki.

Dengan sudut pandang ini, dengan pengalaman ini—pengalaman yang didapat karena hidupku bermandikan kesedihan—saat aku mendengar, di kaki gunung, perintah untuk militerisasi yang hadir dengan ganas, secara instan aku merasakan diriku hancur, karena aku dengan jelas telah melihat keberanian gerilya Revolusi akan segera mati. Dan aku melihat betapa eksistensi barak dan penjara akan terus berjalan, melucuti seluruh personalitasku; seakan kembali lagi ke dalam jurang kepatuhan, ke dalam hipnosis kejam yang dihasilkan oleh barak dan penjara, sesuatu yang malah dihargai baik oleh barak maupun penjara. Dan, menggenggam senapanku dengan penuh amarah, menatap perlindunganku, melihat lawan dan “kawan”, melihat di hadapan dan di balik garis pertempuran, aku mencampakkan kutukan yang mirip dengan yang kucampakkan saat, sebagai seorang pemberontak, hal tersebut membawaku ke ruang bawah tanah. Aku menahan air mata, yang mirip dengan hal-hal yang tercerabut dariku, saat tak seorang pun memperhatikan, yang membuktikan ketidakberdayaanku. Dan aku melihat dengan jelas para munafik yang berhasrat membuat seisi dunia berisi barak dan penjara, adalah orang yang sama, orang yang sama, orang yang sama yang, kemarin, di ruang-ruang bawah tanah, menghancurkan tulang belulang kami, kami, manusia—manusia.

Barak-barak... penjara-penjara... hidup yang memalukan dan menyedihkan.

Orang-orang tidak memahami kami, dan karena mereka tidak memahami kami, mereka tidak mencintai kami. Kami berjuang—tidak perlu menyederhanakannya sama sekali seperti saat ini, karena tidak ada gunanya—kami berjuang, kuulangi, sebagaimana yang kami lakukan. Tempat kami selalu ada di garis depan, untuk alasan yang baik, maka di sektor kami, sejak hari pertama, kamilah satu-satunya yang berada di sana.

Bagi kami, tidak pernah ada yang melegakan atau... apa yang bahkan lebih buruk, tak ada padanan katanya. Baik yang ini ataupun yang lainnya, para fasis dan anti-fasis, dan bahkan di antara kami sendiri[6]—alangkah memalukannya!—setiap orang memperlakukan kami dengan penuh antipati.

Orang-orang tidak memahami kami. Atau, apa hal paling tragis dalam tragedi yang kami hidupi, mungkin karena kami tidak membuat diri kami mudah dipahami; semenjak di bahu kami, kami telah menanggung beban caci maki dan kekejaman dari mereka yang berada di pihak hierarki kehidupan, kami ingin hidup, bahkan dalam masa perang, sebuah kehidupan libertarian, di mana yang lain malahan mengikuti kereta Negara dengan mengikatkan diri mereka padanya, yang merupakan ketidakberuntungan mereka dan juga kami.

Hal yang tidak bertautan ini, yang telah menyebabkan kesulitan yang besar bagi kami, yang telah menjahitkan ketidakberuntungan di jalan kami; dan tak hanya para fasis, yang kami perlakukan seperti selayaknya, yang melihat adanya bahaya pada diri kami, melainkan juga mereka yang menyebut dirinya anti-fasis dan meneriakkan anti-fasisme hingga suara mereka parau. Kebencian yang telah terbangun di sekeliling kami ini telah membawa kami pada konfrontasi-konfrontasi yang menyakitkan, di mana yang paling memalukan—hingga kepahitan tersebut terbawa ke mulut dan membuat seseorang mengokang senjata—adalah yang terjadi di Valencia, saat ‘anti-fasis merah yang otentik’ menembaki kami. Kemudian... ah!... kemudian patut kami tekankan hal tersebut, hari ini, bahwa kontra-revolusi telah terbangun.

Sejarah, yang mencantumkan hal-hal baik dan buruk yang telah dilakukan manusia, akan berbicara satu saat nanti.

Dan kemudian sejarah akan berkata bahwa Kolom Besi mungkin adalah satu-satunya di Spanyol yang memiliki sebuah visi yang jernih tentang bagaimana seharusnya Revolusi berjalan. Sejarah juga akan berkata bahwa Kolom inilah yang melakukan penentangan terbesar terhadap militerisasi. Dan, lebih jauh lagi, akan dikatakan juga, bahwa karena Kolom ini menolak militerisasi, telah terjadi momen-momen di mana Kolom ini ditinggalkan pada takdirnya, di tengah peperangan, sebagaimana sebuah unit berisi enam ribu orang diputuskan dengan pedas untuk dibiarkan kalah atau terbunuh, ditinggalkan di medan pertempuran sehingga musuh dapat menghabisinya.


Begitu banyak yang akan sejarah katakan, dan betapa banyak tokoh-tokoh yang yakin dirinya berjaya, akan dibenci dan dikutuk!

Penentangan kami terhadap militerisasi didasarkan pada apa yang kami ketahui mengenai tentara. Penentangan kami saat ini didasarkan pada apa yang kami ketahui saat ini mengenai tentara.

Militer profesional dibentuk, saat ini seperti juga biasanya, di sini sebagaimana juga di Rusia[7], sebagai sebuah kasta. Ia adalah kasta yang memberi komando, sementara sisanya melakukan tak lebih dari sekedar mematuhi perintah. Para pemimpin militer profesional membenci seluruh pasukannya, dan sejauh apa pun pertanyaan mengenai saudara sebangsa setanah air diajukan, ia akan tetap menganggap pasukannya sebagai bawahannya.

Aku sendiri telah melihat—aku memang selalu menatap seseorang pada matanya—bagaimana seorang perwira gemetar karena marah atau jijik, saat berada dihadapanku, aku menganggap dirinya secara setara, dan aku tahu contoh-contoh dewasa ini, bahkan dari masa sekarang ini, di mana batalyon-batalyon yang menyebut diri mereka proletarian, di mana para perwira korps, yang telah melupakan asal muasalnya, tak mengijinkan seorang milisi berbicara dengannya secara setara—ada hukuman bagi yang melakukannya.

Pasukan ‘proletarian’ tidak menuntut sebuah disiplin yang, pendeknya, menjadi eksekusi perintah untuk perang; melainkan menuntut ketertundukan, kepatuhan buta, pembunuhan personalitas orang-orangnya sendiri.

Hal yang sama, hal yang sama saat, dulu, aku berada di barak. Hal yang sama, hal yang sama saat, tak berapa lama kemudian, aku berada di penjara.

Kami, di parit pertahanan, hidup dengan bahagia. Kami jelas melihat kamerad-kamerad yang semenjak awal Perang Sipil berada di samping kami berjatuhan; kami tahu, lebih jelasnya lagi, bahwa sebuah peluru secara langsung dapat membuat kami lumpuh di medan pertempuran—inilah kompensasi yang seharusnya dapat diharapkan oleh seorang revolusioner—tetapi toh kami hidup dengan bahagia. Kami makan hanya saat ada yang dapat dimakan; saat yang hidup semakin sedikit, kami saling berbagi makanan. Dan semua orang merasa puas. Mengapa? Karena tak ada seorang pun yang lebih tinggi posisinya dibanding yang lain. Semua adalah kawan, semua adalah kamerad, semua adalah gerilyawan bagi Revolusi.

Sekelompok atau delegasi centurion tidak dipilihkan bagi kami, tetapi ia dipilih oleh kami, dan ia tidak merasa dirinya menjadi seorang letnan atau kapten, melainkan tetap seorang kamerad. Para delegasi bagi Komite Kolom tidak pernah seorang kolonel ataupun jenderal, melainkan seorang kamerad. Kami makan bersama, kami bertempur bersama, kami tertawa dan menyumpah serapah bersama. Kami tidak dibayar sekian lamanya dan mereka memang tidak memiliki uang. Dan saat di tangan kami terdapat 10 pesetas[8], mereka juga memiliki 10 pesetas.

Satu-satunya yang kami nilai adalah kemampuan mereka yang telah terbukti dan itu adalah alasan mengapa kami memilih mereka; sejauh kemampuan mereka benar terbukti. Merekalah para delegasi kami. Tak ada hierarki, tak ada superioritas, tak ada perintah-perintah keras: yang ada adalah simpati, kasih sayang, persahabatan; sebuah hidup yang membahagiakan di tengah bencana perang. Dan dengan demikian, di antara para kamerad, kami katakan bahwa seseorang berjuang karena dan demi sesuatu, di mana perang menyenangkan kami dan kami menerima kematian dengan lapang dada. Tetapi saat engkau menemukan dirimu di antara para tentara, di mana segalanya hanyalah perintah dan hierarki; saat engkau melihat di tanganmu bayaran menyedihkan yang engkau usahakan dengan susah payah untuk dapat memenuhi kebutuhan keluargamu yang engkau tinggalkan, dan saat engkau melihat bahwa letnan, kapten, komandan dan kolonel mengantongi tiga, empat, atau sepuluh kali lebih banyak daripada dirimu, saat antusiasme, pengetahuan, atau keberanian mereka tidak lebih darimu, hidup menjadi pahit bagimu, karena engkau melihat dengan jelas bahwa hal ini, hal ini bukanlah Revolusi. Melainkan sebuah perilaku di mana sekelompok kecil orang mengambil keuntungan dari sebuah ketidakberuntungan situasi, yang hanya berlaku bagi orang-orang yang telah ditentukan.

Aku tak tahu bagaimana kami akan hidup kemudian hari. Aku tak tahu apakah kami dapat membiasakan diri mendengar kata-kata menyakitkan dari seorang kopral, sersan atau letnan. Aku tak tahu apakah, setelah kami meleburkan diri sepenuhnya sebagai manusia, kami akan dapat menerima diperlakukan seperti binatang domestik, karena kesanalah disiplin akan mengarah dan itulah yang dihadirkan oleh militerisasi.

Itu semua jelas tak dapat kami lakukan, bagi kami benar-benar tak mungkin untuk sepenuhnya menerima kesewenang-wenangan dan perlakuan yang buruk, karena akan sulit bagi seorang manusia dengan tenang menerima cercaan saat di tangan tergenggam sebuah senjata; setidaknya, kami memiliki beberapa contoh yang mengkhawatirkan di mana para kamerad kami, yang telah dimiliterisasikan, tunduk, seperti sebuah tongkat, pada perintah-perintah yang diamanatkan oleh orang-orang yang seringkali salah dan selalu bersikap bermusuhan.

Kami percaya bahwa kami sedang bergerak menuju emansipasi atas diri kami sendiri, untuk menyelamatkan diri kami sendiri dan kami memiliki resiko terjatuh kembali pada hal ini saat kami bertempur: ke dalam kesewenang-wenangan, ke dalam kekuatan kasta, ke dalam otoritarianisme yang paling mengalienasi dan brutal.

Sementara ini, momennya demikian serius. Kami telah tergiring—kami tak tahu mengapa, dan kalaupun kami tahu, kami sementara ini tetap diam—kami telah tergiring, kuulangi, ke dalam sebuah jebakan. Kami harus meninggalkannya, kami harus melarikan diri darinya semampu kami, karena, bagaimanapun, seluruh medan telah penuh berisi mereka.

Kaum militer, seluruh kaum militer—di kamp kami adalah yang begitu galak—telah mengelilingi kami. Hari kemarin, kami adalah penguasa atas segala hal, hari ini merekalah penguasanya. Tentara rakyat, di mana ‘kerakyatan’ tak lebih daripada fakta bahwa mereka direkrut dari antara rakyat; tetapi yang terjadi selalu saja bahwa mereka tidak menjadi bagian dari rakyat; mereka menjadi bagian dari Pemerintah, dan Pemerintah memimpin, Pemerintah memerintah. Rakyat sekedar diijinkan untuk patuh, dan yang dituntut memang selalu kepatuhan.

Terperangkap dalam jaring-jaring kemiliteran, kami hanya memiliki pilihan di antara dua jalan: yang pertama mengarah pada pemisahan diri, kami yang—hingga hari ini—bersaudara dalam perjuangan, dengan memproklamirkan pembubaran Kolom Besi; yang kedua mengarah pada militerisasi.

Kolom ini, Kolom kami, tidak boleh bubar. Homogenitas yang selalu kami hadirkan begitu kami sayangi—aku hanya berbicara bagi kami sendiri, kamerad—persahabatan di antara kami akan tetap menjadi sebuah contoh dalam sejarah Revolusi Spanyol; keberanian yang telah tampak di sekian ratus pertempuran dapat disejajarkan dengan pertempuran para pahlawan, tak akan dapat lebih baik lagi. Semenjak hari pertama, kami telah memiliki kawan; lebih daripada sekedar kawan, melainkan kamerad dan saudara. Untuk memisahkan kami, untuk saling meninggalkan, untuk tak lagi saling bersua, tak lagi mengalami, apa yang kami masih alami hingga hari ini, hasrat dalam kekalahan dan peperangan—adalah sesuatu yang sepenuhnya tak mungkin terjadi.

Kolom ini, Kolom Besi ini, yang dari Valencia hingga Teruel telah membuat para borjuis dan fasis gemetar, tidak boleh bubar, kami harus terus berjalan sampai akhir.

Siapa yang dapat berkata bahwa yang lain, yang telah dimiliterisasi, menjadi lebih kuat, lebih tegas, lebih pemurah dengan darah mereka di medan pertempuran? Bagaikan saudara yang memperebutkan kebaikan, kami bertempur; bagaikan saudara yang memiliki ideal yang sama, yang kami mimpikan di parit-parit perlindungan; bagaikan saudara yang mengaspirasikan sebuah dunia yang lebih baik, kami maju bertempur dengan penuh keberanian. Membubarkan totalitas kami yang homogen? Tak pernah, kamerad. Sepanjang kami tetap berada dalam satu unit, kami akan bertempur. Sepanjang satu saja masih tersisa dari kami, kami akan meraih kemenangan.

Hal ini akan menjadi yang terbaik dari yang buruk, walaupun keburukan tersebut begitu besar apabila kami menerima seseorang, yang tidak kami pilih sendiri, memberikan perintah pada kami. Setidaknya...

Menjadi Kolom atau batalyon adalah sesuatu yang nyaris sama. Apa yang membedakannya, bagi kami, adalah bahwa yang satu tidak memberi kami respek.

Apabila kami tetap bersama, bersatu, menjadi individu-individu seperti adanya kami saat ini, tak peduli kami membentuk Kolom ataupun sebuah batalyon, tak akan ada bedanya bagi kami. Dalam pertempuran, kami tak membutuhkan seseorang yang akan mendorong kami untuk beristirahat sebagaimana kami juga tak membutuhkan seseorang yang melarang kami beristirahat, karena kami tak akan tunduk pada hal tersebut.

Kopral, sersan, letnan dan kapten akan menjadi bagian dari kami, dalam kasus apa pun kami akan tetap menjadi kamerad, atau mereka akan menjadi musuh kami, di mana akan kami perlakukan juga sebagai musuh.

Bagi kami, Kolom ataupun batalyon, apabila kami inginkan, akan menjadi hal yang sama. Kami, di hari kemarin, hari ini dan hari esok, kami akan tetap menjadi gerilyawan bagi Revolusi.

Apa yang terjadi pada kami setelah ini sepenuhnya tergantung pada diri kami sendiri, pada peleburan yang eksis di antara kami. Tak seorang pun akan mencangkokkan pada kami ritme hidupnya, kamilah yang akan mencekokkan padanya, sebagaimana juga kami akan menjaga perilaku tersebut diadaptasikan pada mereka yang akan berada di sisi kami.

Ingatlah ini, kamerad. Perjuangan membutuhkan kita semua untuk tidak menarik senjata ataupun antusiasme dari perang ini. Dalam sebuah Kolom, yang menjadi diri kita, ataupun juga sebuah batalyon, yang menjadi diri kita; dalam sebuah divisi atau batalyon yang menjadi diri kita, kita semua dituntut untuk terus berjuang.

Apabila Kolom ini dibubarkan, apabila kita berpisah, maka—karena harus dimiliterisasi—kita harus pergi ke mana mereka memerintahkan kita pergi, dan bukan dari mereka yang kita pilih. Dan, sebagaimana kita tak ingin menjadi binatang-binatang domestik, amat mungkin kita akan berbenturan dengan orang-orang yang seharusnya tidak kita perangi: dengan mereka yang, entah buruk atau baik, ada di pihak kita.

Revolusi, Revolusi kita, Revolusi anarkis dan proletarian ini, yang mana kami tawarkan berlembar-lembar kejayaan sejak hari pertama, menuntut kita untuk tidak meninggalkan senjata kita dan tidak meninggalkan ransel yang kita kenakan hingga saat ini, walaupun kita akan disebut dengan nama kolom, divisi ataupun batalyon.

Catatan:

[1] Naskah Protes terhadap Para Libertarian Masa Kini dan Masa Depan tentang Kekalahan di 1937 oleh seorang “Yang Tak Terkontrol” dalam Kolom Besi.

[2] Burnett Bolloten. The Great Camouflage. 1961. Dipublikasikan pada 1977 oleh Ruedo iberico dengan judul The Spanish Revolution, the Left and the Struggle for Power.

[3] Kata yang diambil dari bahasa Spanyol, yang dapat berarti bos politik lokal atau juga tiran.

[4] Dengan kata lain, “Kita harus menjadi bagian dari kekuatan militer profesional.”

[5] Pimpinan unit militer yang terdiri dari 100 orang tentara.

[6] CNT-FAI

[7] Sebuah pilihan menarik dan diekspresikan dengan cara yang juga menarik: apa yang disebut dengan Republik Sosialis Uni Soviet adalah, tentu saja, salah satu dari sekian banyak negara yang terlibat dalam penindasan Revolusi Spanyol.

[8] Mata uang Spanyol.