Title: Absennya Teori Sastra Anarkis
Author: L. Sadra
Language: Bahasa Indonesia
Publication: Penerbit Ramu
Date: 2023
Notes: Tulisan ini pertama kali diterbitkan sebagai zine oleh Penerbit Ramu (2023); lalu diterbitkan ulang sebagai buku kumpulan esai Kuatrin: 4 Esai Sastra dan Literasi Anarkis di Indonesia (2024) oleh Dystopia Room; dan kembali diterbitkan dengan judul yang sama tetapi dalam bentuk zine/pamplet oleh Talas Press (2024). Diunggah ke SEA-AL oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).

Intro[1]

Talas Press tentu saja menghargai kebebasan berpikir dan berekspresi. Namun, kami pikir kami perlu untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap salah satu esai dalam pamplet ini, yaitu esai tentang teori sastra anarkis yang dibahas Sadra. Mengapa? Karena, tentu saja bagi kami—kami tidak berniat mewakilkan pihak lain—upaya untuk mendefinisikan dan merumuskan 'anarkisme' ke dalam teori sastra justru bertentangan dengan semangat anarkis itu sendiri. Upaya semacam itu ibarat mencoba menangkap angin ke dalam sebuah botol: mungkin kau berpikir telah berhasil menangkapnya, tapi saat kau membuka kembali tutupnya, kau akan sadar jika usahamu itu sia-sia—tak ada hembusan apapun yang keluar dari dalam botol itu.

Sebuah definisi operasional, betapapunmenarik dan tampak penting bagi kalangan akademisi serta modernis seni, akan selalu menjadi upaya yang berisiko mengerdilkan konsep yang seharusnya tak terdefinisikan. Upaya untuk menarik batas anarkisme ke dalam rumusan tak ubahnya seperti menggambar peta dunia baru yang tidak pernah terpetakan, kau malah tersesat dan dibuat sibuk dengan detail-detail tak penting; lupa bahwa rute-rute jalan itu sendiri tak pernah ada.

Anarkisme, dalam pandangan kami, adalah gagasan yang melampaui batasan-batasan yang diciptakan teori dan aturan. Mengurungnya dalam brankas baja teori sastra adalah sebuah paradoks yang ironis. Ini bukan hanya tentang masalah ketidaksesuaian terminologis, tetapi juga tentang esensi kebebasan yang dirangkulnya—yang tak dapat diikat atau dibatasi oleh struktur apa pun, termasuk oleh teori yang mengatasnamakan 'anarkis'.

Meskipun demikian, kami sebagai penerbit mengakui bahwa penerbitan ulang teks ini menghadirkan sebuah ironi yang menarik. Dalam upaya untuk menantang dan membonkar batasan-batasan, Kuatrin bisa memancing respon-respon kritis dari para begundal yang akan memperkaya wacana anarkisme dan sastra. Barangkali, di sinilah letak nilai dari teks tersebut—bukan pada teori, tetapi pada kemampuannya untuk memprovokasi pemikiran kritis dan debat yang dinamis.

Pada akhirnya, keberagaman taktik dan pendekatan adalah bagian integral dari anarkisme. Meskipun kami menolak gagasan tentang teori sastra anarkis, kami tetap gembira dengan penerbitan ulang Kuatrin ke format pamplet ini sebagai langkah untuk mendorong dialog dan eksplorasi lebih lanjut. Setiap pemikiran kritis yang muncul darinya akan menjadi kontribusi berharga bagi perkembangan wacana yang lebih luas.

Selamat membaca, long live anarchy!

Saran Bagi Mereka Yang Ingin Bermigrasi[2]

David Graeber mengajukan pertanyaan yang menarik, “Mengapa jumlah kaum anarkis yang terlibat dalam dunia akademik begitu sedikit?”[3] Pertanyaan ini menjelaskan mengapa bahan bacaan anarkis tentang telaah-telaah sastra begitu sangat jarang. Ini memperlihatkan bagaimana anarkisme masih sering sekali dipandang semata sebagai aspirasi politik daripada etos pemikiran kritis atau bahkan teori sastra. Sampai tulisan ini dibuat di Indonesia, sastra anarkis atau teori sastra anarkis ibarat rahim perawan. Kaum anarkis lokal tidak tertarik bersetubuh dengan sastra, tampaknya perilaku aseksual ini hampir menjadi gejala bawaan anarkis di Indonesia.

Tidak ada daftar bacaan pasti tentang sastra anarkis. Tidak ada buku yang terbit, baik terjemahan atau teks primer yang ditulis anarkis dan akademisi sastra Indonesia. Buruknya, kita bahkan tidak memiliki definisi sementara yang dapat ditangkap untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dapat dianggap sebagai sastra anarkis dari cermin karya lokal. Apa ini wajar? Jeff Shantz berasumsi dan mencatat bahwa karya sastra anarkis itu memang “tersebar dan beragam, sering kali kontradiktif dan berlainan. Kritik sastra anarkis bersifat sporadis, terputus-putus, dan tidak sistematis.”[4] Itu bisa jadi berkembang begitu sangat lambat.

Hal yang begitu mengecewakan. Ketidakhadiran teori sastra anarkis ini (meski dengan dalih penghindaran kaum anarkis terhadap penyeragaman dan kebakuan) menjadi gejala yang terasa sangat aneh, mengingat bahwa anarkisme dan pengaruhnya telah mengilhami tokoh dan kelompok minor dalam sastra Indonesia kontemporer hari ini—seperti Generasi Terburuk Sastra Indonesia—dalam merangkul semangat nihilis anarkis melalui belasan poin di manifestonya, sebut saja tokoh seperti Cumbu Sigil sebagai penulis Manifesto Generasi Terburuk Sastra Indonesia (yang keaslian eksistensinya masih diperdebatkan) telah menjadi katalis terbentuknya kelompok teroris kiri radikal. Penyair Rifki Syarani Fachry yang sejak beberapa tahun terakhir berkontribusi dalam penerjemahan dan penerbitan teks-teks anarkis penting ke dalam bahasa Indonesia, serta penulis-penulis dari lingkaran perjuangan yang sering kali bersembunyi dalam anonimitas.

Di Barat, angin segar telah berhembus sejak 10 tahun terakhir, generasi baru kritikus sastra-anarkis telah muncul. Pada tahun 2006, Jesse Cohn menulis buku berjudul Anarchism and the Crisis of Representation: Hermeneutics, Aesthetics, Politics. Buku yang membahas pertentangan antara modernisme dan postmodernisme dari perspektif anarkis. Fokus utama buku ini pada krisis representasi, yang melibatkan konsepsi representasi sebagai reproduksi objektivitas yang terletak di luar dirinya sendiri, serta proyeksi cermin teori pengetahuan dan seni yang memiliki kategori evaluatif seperti kecukupan, akurasi, dan kebenaran tertentu. Cohn berpendapat bahwa praktik representasi tidak dapat dipisahkan dari asumsi kekuasaan yang melekat pada objek yang direpresentasikan. Cohn mengeksplorasi alternatif nonrepresentasional dan secara khusus berfokus pada penjelajahan potensi kritik anarkis terhadap representasi simbolik dan politik, sebagai solusi dari dilema dan masalah yang muncul. Pertanyaan mendasar yang diajukan Cohn dalam bukunya adalah tentang bagaimana pengetahuan dan kritik dapat diartikulasikan jika tidak ada posisi di luar wacana yang dapat mengartikulasikannya.

Cohn menulis bukunya ke dalam tiga bagian: hermeneutika, estetika, dan politik. Setiap bagian terkait dengan bidang studi yang berbeda. Bagian pertama membahas diskusi dan perdebatan dalam keilmuan anarkis terkait dengan pengaruh teori pasca-strukturalis dan munculnya pasca-anarkisme. Bagian kedua membahas hubungan antara seni dan anarkisme, serta potensi perlawanan seni dalam konteks sejarah dan kontemporer. Bagian ketiga membahas pengaruh anarkisme pada gerakan sosial kontemporer, mulai dari Zapatista hingga gerakan Occupy, yang menerapkan demokrasi langsung melalui organisasi kontra-hierarkis, inklusif, dan partisipatif. Pada sub bab tertentu, di bagian The Fate of Representation, The Fate of Critique, Cohn mempertanyakan apakah estetika radikal harus menolak representasi sepenuhnya atau kembali kepada representasi dengan melakukan klaim ulang dan mendefinisikannya lagi. Bagian ini menjelaskan perbedaan; antara tingkat sosial dan tingkat estetika, dan menguji kritik anarkis modern dan postmodern terhadap representasi.

Beberapa tahun kemudian setelah Cohn, pada 2011 Jeff Shantz juga menerbitkan buku yang berjudul Against all Authority: Anarchism and the Literary Imagination. Dalam bukunya, Shantz menjelaskan bahwa tidak ada daftar bacaan sastra anarkis yang dapat diakui atau pandangan konsensus mengenai subjek sastra anarkis. Shantz mengkritisi penggunaan stereotip oleh penulis-penulis yang tidak memiliki pengalaman pribadi dengan lingkungan anarkis hingga menghasilkan distorsi dalam representasi doktrin dan kehidupan anarkis. Shantz menganalisis dua buku dari penulis kanonik yang selalu dikait-hubungkan dengan anarkisme, yaitu The Man Who Was Thursday karya Chesterton dan The Secret Agent karya Conrad. Shantz menyoroti bagaimana penggunaan stereotip oleh penulis yang tidak terlibat dalam praksis anarkis dapat menciptakan representasi keliru tentang doktrin dan kehidupan anarkis. Shantz juga menganalisis karya-karya penulis seperti Wole Soyinka, Ursula K. Le Guin, Emma Goldman, dan para penulis yang terkait dengan anarkisme dalam berbagai cara. Shantz mencatat bagaimana karya-karya mereka mencerminkan isu-isu nonekonomi dan identitas dalam politik anarkis. Shantz pun juga membahas etos anarko-punk dalam produksi budaya “do-it-yourself” dan bagaimana penulis marjinal kontemporer memilih untuk menghindari teknologi modern. Melalui bukunya Shantz berusaha untuk merangsang diskusi di kalangan sastrawan dan kamerad di lingkaran perjuangan untuk melihat anarkisme sebagai gerakan hidup yang penting.

Cermin yang Tak Memantulkan Wajahmu

Upaya dalam menelaah peran kritik sastra anarkis dalam sastra Indonesia dapat ditinjau lebih lanjut dan sangat memungkinkan. Ini dilihat melalui bagaimana kritik sastra anarkis seperti yang dilakukan oleh Cohn maupun Shantz dalam melihat pola kesusastraan anarkis dan stereotip yang digunakan oleh penulis-penulis yang tidak memiliki pengalaman pribadi dalam lingkungan anarkis atau tidak terlibat dalam praksis. Contoh yang dapat dikaji lebih lanjut adalah penulis yang menggunakan nama Cumbu Sigil untuk menulis kumpulan puisi berjudul Problem in Capita.

Kumpulan puisi Problem in Capita dapat dengan telak terlihat bahwa penulis tersebut meminjam nama Cumbu Sigil hanya sebagai katarsis karena melihat ruang rekaan-bersama yang dapat digunakan oleh siapapun. Hanya saja penulis kumpulan puisi tersebut seperti mahasiswa semester satu yang baru mengenal anarkisme hanya karena membaca tulisan-slogan anarkis dan kebetulan menemukan nama Cumbu Sigil dan langsung merasa terlibat dengan praksis. Mungkin penulis tersebut baru puber dan terangsang terlalu cepat dengan stereotipe yang ada atau bahkan memang besar pengaruh eksistensi Cumbu Sigil sebagai katalis. Banyak sekali ‘kebocoran’ dalam kumpulan puisi tersebut, seolah penulis ingin menunjukkan bahwa si aku-lirik-Cumbu Sigil dan Cumbu Sigil adalah eksistensi anarkis yang total, padahal jika dibandingkan puisi dengan tulisan-tulisan dalam Catatan Muslihat, keduanya jelas berbeda. Cumbu Sigil dalam Problem in Capita lebih terlibat sebagai aktivis labil ketimbang seorang egois-anarkis.

Beberapa puisi dalam kumpulan Problem in Capita yang menunjukkan kebocoran tersebut salah satunya adalah Rumah Sakit Tjipto, berikut penjabarannya:

Bonang,

andai aku mampus duluan

kumpulkan tulisanku

rumah sakit bikin aku

ingat kalian.

titip salam, buat semua

bajingan yang melawan

Puisi ini jelas membatalkan konsep Egoisme Cumbu Sigil sebagai entitas atau eksistensi individualitas seorang anarkis, mengapa? karena untuk apa; seorang yang anti-negara; memiliki kehendak untuk melawan kematian, pemerintahan, bahkan dosa dan ingin mati tanpa perlu diingat meminta temannya untuk mengumpulkan puisi-puisinya?[5] Jelas satu tulisan ini adalah kegagalan konsep yang tidak konsisten dan semakin membuktikan asumsi publik bahwa Cumbu Sigil tidak ditulis oleh satu orang, melainkan secara kolektif yang salah satu atau beberapa di antaranya tidak mengerti konsep Anarkisme, Egoisme, dan eksistensi Cumbu Sigil yang tidak terikat pada apapun, selain pada dirinya sendiri.

Melalui penggalan sekilas dan telaah mengenai Cumbu Sigil dalam Catatan Muslihat dengan Problem in Capita dapat terlihat perbedaan sikap yang signifikan: Cumbu Sigil asli memahami konsep Anarkisme sedangkan Cumbu Sigil versi Problem in Capita hanya pengarang lain yang termakan stereotip.

Di sini pentingnya peran anarkis yang menulis sastra dalam meminimalisir inkonsistensi gagasan seperti yang dilakukan Cumbu Sigil versi Problem in Capita. Praktik inkonsistensi Cumbu Sigil hingga karyanya yang terkesan ditulis oleh individu yang berjarak dengan anarkisme, menjadi kelemahan tersendiri. Memang, para anarkis erat kaitannya

dengan anonimitas dan security culture selagi kita masih hidup dalam belenggu negara dan kapitalisme, namun bukan berarti melonggarkan penciptaan karya dengan gagasan yang tak konsisten dan termakan stereotip. Dengan begitu publik, baik anarkis maupun bukan, bisa memfokuskan dirinya pada karya yang tersaji alih-alih menghabiskan energi pada siapa yang menulis karya tersebut. Kekuatan penciptaan karya sastra anarkis serta kritik sastra anarkis lah yang menjadi poin penting menuju teori sastra anarkis. Sebab tidak dipungkiri kondisi saat ini memunculkan pertanyaan dan jawabannya secara langsung terhadap kondisi kritik anarkis dalam sastra Indonesia: Sejauh mana kita tertinggal? Terlalu jauh.

Saya Tak Peduli Tapi...

Tiap konteks memiliki langkah pertamanya masing-masing. Ungkapan pelipur lara semacam itu tidak membantu. Teori sastra anarkis tidak penting, tapi itu perlu, karena para anarkis menekankan pentingnya bahasa dan komunikasi, menawarkan pandangan dunia yang segar, perspektif, dan pengalaman dari sudut pandang dari mereka yang kalah dan kecewa. Mereka menggunakan warisan budaya kelas pekerja dan kelompok tertindas lainnya sebagai sumber daya untuk melawan pemaksaan dan normalisasi sistem dalam kehidupan. Mereka mendorong dan menyerap ekspresi bebas dalam kehidupan sehari-hari, mengadopsi idiom dan gaya kaum yang kalah dan kecewa sebagai bagian penting dari perjuangannya.

Kembali ke konteks lokal. Kaum anarkis terdahulu hingga kontemporer telah mengedepankan teks sebagai medium untuk menyebarkan, menghasut, dan memengaruhi banyak orang. Bagi kaum anarkis menulis dan mengembangkan bentuk representasi baru adalah modal kedua terpenting setelah kemarahannya akan segala hal. Mereka berusaha untuk menciptakan cara-cara baru untuk mewujudkan pemikiran, perasaan, dan pengalaman kekalahan dan kekecewaaannya dalam teks, termasuk dalam karya sastra yang mereka tulis. Hal buruk yang mungkin diabaikan oleh kaum anarkis dan akademisi sastra Indonesia pada gilirannya berkontribusi pada absensi, alienasi, dan stagnasi variasi perlawanan kaum anarkis melalui teks.

Pertama-tama, kritik sastra anarkis memiliki peran penting dalam menyuarakan perspektif yang berbeda dan kritikal terhadap struktur kekuasaan yang ada melalui maksimalisasi potensi teks maupun bahasa. Tanpa kritik sastra anarkis, karya sastra Indonesia cenderung terbatas pada narasi-narasi yang meneguhkan status-quo atau mungkin hanya memberikan kritik yang terbatas terhadap sistem kekuasaan. Ini berarti bahwa suara-suara alternatif dan potensi perlawanan yang kuat mungkin tidak muncul dalam karya dan telaah sastra Indonesia. Dengan demikian, kesempatan untuk menghadapi atau menyerang narasi ketidakadilan yang telah dinormalisasi dan ternormalisasi dengan sedemikian rupa secara tidak sadar dalam beragam konteks kehidupan hanya cita-cita ikan mas koki di akuarium yang keruh.

Kedua, kritik sastra anarkis memberikan ruang bagi eksplorasi gagasan-gagasan radikal yang bertentangan dengan norma-norma yang sesak di dalam masyarakat serta memberikan terobosan ideologis dan estetis. Karya sastra yang mempertanyakan otoritas, hierarki, menganulir moral, dan struktur kekuasaan dapat menjadi sumber inspirasi bagi kaum anarkis dan gerakan perjuangan lainnya. Ketidakhadiran kritik sastra anarkis di Indonesia hanya akan menjebak kaum anarkis dalam keseragaman dan kepatuhan terhadap norma-norma yang ada, itu akan menghambat kreativitas dalam mengekspresikan perlawanannya.

Selanjutnya, absennya kritik sastra anarkis di Indonesia dapat menyebabkan alienasi bagi mereka yang merasa tidak terwakili atau terpinggirkan oleh keagungan kebudayaan. Kaum anarkis dan kelompok-kelompok minoritas lainnya besar kemungkinan akan berkubang dalam perasaan tidak didengarkan atau diabaikan, sehingga terisolasi dan sulit untuk terhubung dengan sastra dan pergaulannya hari ini. Perasaan demikian, dalam dampak tertentu dapat membuat kaum anarkis kehilangan minat dalam sastra, ini sama artinya dengan hilangnya potensi perlawanan yang dapat dimunculkan melalui karya sastra. Tanpa kritik sastra anarkis pembaruan dan evolusi ideologis-estetis kaum anarkis hanya akan cenderung terjebak dalam pola pikir yang usang dan metode perlawanan melalui bahasa yang terbatas. Ini dapat menghambat kemampuan gerakan anarkis untuk beradaptasi dengan perubahan corak zaman dan kebudayaan.

Absennya telaah sastra anarkis di Indonesia ini makin memperburuk kesalah pahaman banyak pihak tentang anarkisme. Benar, anarkisme seringkali disalahpahami dan difitnah. Salah satu kesalahpahaman umum tentang anarkisme adalah bahwa itu hanya mencari kekacauan dan kehancuran (meski secara puitik ini tidak dapat disangkal karena tepat), sedangkan sebenarnya memiliki akar dalam filosofi mutual tentang gotong royong di sisi lain. Anarkisme telah mengalami rekonfigurasi yang dramatis seiring waktu, sebagian besar merupakan respons strategis terhadap penganiayaan yang dilakukan oleh pemerintah—dan reaksi terhadap kompleksitas dunia modern—tidak lagi dapat dipahami secara sederhana sebagai pertentangan kelas, tetapi melibatkan lapisan-lapisan kompleks dari penindasan patriarkal dan kapitalisme yang saling terkait. Demikian pula dengan ketiadaan telaah sastra anarkis di Indonesia yang memperburuk kondisi ini—meski secara personal saya tidak peduli, tapi kenyataan demikian mengecewakan saat kembali dipikirkan.

Payung, 2023

[1] Intro diambil dari Kuatrin: 4 Esai Sastra dan Literasi Anarkis di Indonesia. Talas Press, 2024. —Pengunggah

[2] Tulisan ini tidak mendalam, subjektif, dan tidak saya susun dengan baik: struktur merepresentasikan pola kepatuhan.

[3] Graeber, David (2004) Fragments of an Anarchist Anthropology. Chicago: Prickly Paradigm Press.

[4] Shantz, Jeff (2011) Against all Authority: Anarchism and the Literary Imagination. Exeter: Imprint Academic.

[5] Lihat dengan jelas inkonsistensi lainnya dengan poin terakhir di wasiat kematian CS. https://sea.theanarchistlibrary.org/library/cumbu-sigil-manifesto-gen- erasiterburuk-sastra-indonesia-id