Kata Pengantar

      1. Jalanan

        Setelah kudeta di tahun 2021, bagaimana anarkis di Burma melakukan mobilisasi dalam gerakan anti-junta? Dan apa hal yang tidak kamu setujui dengan pendukung Aung San Suu Kyi?

        Setelah tindakan represif berdarah oleh militer di 27 Maret, aksi damai dalam skala besar menjadi hampir mustahil untuk dilakukan, dan banyak orang yang pergi ke hutan untuk memulai perlawanan bersenjata. Tapi beberapa di antaranya memilih untuk tetap tinggal dan melanjutkan perjuangan di area perkotaan. Bisakah kamu mendeskripsikan seperti apa masa itu?

        Bagaimana perubahan strategi bagi mereka yang tinggal di Yangon dibandingkan dengan fase perlawanan sebelumnya?

        Beberapa dari mereka yang pergi ke hutan untuk latihan dan kembali ke kota selama sebulan atau dua bulan, dan perlawanan bersenjata mulai muncul di area perkotaan. Bisakah kamu bercerita tentang masa itu?

        Selama tahun pertama setelah kudeta terjadi, bagaimana kamu mendeskripsikan hubunganmu dengan gerakan sayap kiri dan revolusi anti-kudeta yang lebih luas?

      2. Gerakan Kiri

        Selama tahun-tahun pembentukan politikmu, bagaimana cara rakyat mengakses ide kiri dan anarkis di Burma?

        Kapan dan bagaimana kamu memulai berorganisasi dalam tradisi anarkis?

        Tampaknya, ketika berhadapan dengan musuh bersama berupa pemerintahan militer, hubungan antara gerakan kiri Burma dan Aung San Suu Kyi sering kali ambigu—kadang bekerja sama, kadang bersaing.

      3. Memudarnya Revolusi

        Pada 7 Oktober 2023, “lingkaran revolusioner” arus utama, termasuk tokoh-tokoh yang terhubung dengan Pemerintah Persatuan Nasional dan banyak perwakilan mayoritas Bamar, secara terbuka menyatakan posisi pro-Israel. Menjelang akhir tahun 2025, ketika Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma mengeluarkan pernyataan yang mengecam apa yang digambarkannya sebagai imperialisme AS setelah intervensi Amerika di Venezuela dan penangkapan Maduro, hal itu memicu reaksi keras di Burma. Banyak orang menuduh Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma sebagai komunis. Dalam pandangan kamu, kapan gerakan kiri mulai kehilangan kekuatan mobilisasinya?

        Sekarang sudah tahun kelima setelah kudeta. Militer telah mulai mengorganisir apa yang oleh banyak pengamat disebut sebagai pemilu palsu. Bagaimana kamu memahami momen ini?

         4. Pengasingan

        Di satu sisi, rasanya seolah-olah momentum revolusioner sedang memudar. Di sisi lain, di sini di Thailand, tampaknya di dalam komunitas pengasingan Burma, “revolusi” telah menjadi industri yang digerakkan oleh LSM. Bagaimana kamu melihat ini?

        Bisakah kamu menggambarkan bagaimana kamu terlibat dalam pengorganisasian sosial sekarang, di pengasingan?

Kami menghadirkan hasil wawancara dengan Htet Khine Soe, seorang aktivis yang melakukan pengorganisiran di Burma selama lebih dari 20 tahun sebelum pindah ke Mae Sot di Thailand pada akhir tahun 2021. Wawancara ini dilakukan oleh Ban Gae, seorang anarkis Tiongkok yang sering datang ke Mae Sot dan bekerja dekat bersama aktivis Burma setelah kudeta terjadi.

Kata Pengantar

Kudeta militer di Burma memasuki tahun kelimanya pada Februari ini. Di Yangon, kehidupan terlihat sudah kembali normal namun rapuh. Banyak dari mereka yang meninggalkan pekerjaannya untuk bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil (Civil Disobedience Movement) perlahan-lahan telah kembali ke sistem yang dulu mereka tinggalkan. Lelah karena revolusi yang terlihat sangat panjang dan tak ada akhirnya.

Sementara itu, di daerah pedesaan dan wilayah perbatasan yang dikontrol oleh angkatan bersenjata perlawanan “Revolusi Musim Semi” (Spring Revolution) berkembang menjadi perang saudara yang menemui jalan buntu. Serangan drone dan pemboman udara yang dilakukan junta militer telah menjadi rutinitas, dan warga sipil terus menanggung akibatnya.

Dalam kondisi ini, militer memilih untuk melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai pemilihan umum yang lama tertunda–yang dideskripsikan oleh pengamat sebagai pemilu palsu. Dengan oposisi yang dibubarkan dan direpresi, dapat dipastikan bahwa Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (Union Solidarity and Development Party) yang didukung oleh militer akan mendapatkan kemenangannya.

Tak lama setelah kudeta tahun 2021, Gerakan Pembangkangan Sipil dan aksi nonkekerasan mengalami tindakan represif militer yang brutal. Beberapa aktivis melarikan diri ke hutan, di mana mereka berlatih dengan organisasi bersenjata yang telah lama melawan militer, membentuk Angkatan Pertahanan Rakyat (People’s Defense Forces) dan meluncurkan perlawanan bersenjata. Yang lainnya mengasingkan diri, tersebar di seluruh dunia. Mae Sot, kota perbatasan Thailand di seberang Burma, menjadi salah satu destinasi utama bagi banyak eksil dan pejuang perlawanan yang terluka.

Pada Februari 2023, dalam acara peringatan 2 tahun kudeta, saya bertemu Htet Khine Soe (Ko Htet), seorang aktivis anarkis Burma, dan memilih untuk mengikutinya ke Mae Sot. Kami menempuh perjalanan bus selama 8 jam dari Chiang Mai, melintasi pegunungan Provinsi Tak, Thailand, sebelum sampai di perbatasan. Sepanjang jalan, saya memberitahu Ko Htet tentang jaringan ruang-ruang anarkis yang diorganisir secara mandiri di China. Dia memberikan cerita dari revolusi–aksi mogok kerja kilat yang terkoordinasi, aksi gerilya perkotaan, pembunuhan, pelarian, dan pengasingan.

Di tahun pertama kudeta, Ko Htet membantu mengorganisir Komite Pemogokan Umum (General Strike Committee) dan aksi mogok kerja kilat, dan pada akhirnya terlibat dalam aksi gerilya perkotaan. Setelah kawan yang bekerja dekat dengannya ditahan, nama Ko Htet muncul di dalam daftar pencarian orang yang kemudian disebarkan melalui media milik negara, memaksa Ko Htet untuk menyelamatkan diri dari Yangon.

Pada Desember, Ko Htet kabur ke Lay Kay Kaw, kota di Karen State, yang saat itu dikenal di tengah-tengah para eksil muda sebagai “wilayah bebas.” Dengan kamp pelatihan Angkatan Pertahanan Rakyat yang berlokasi di hutan sekitar kota, kota ini kemudian menjadi pusat perputaran senjata dan amunisi, perputaran ini pada akhirnya kembali ke kota-kota seperti Yangon dan Mandalay untuk membekali grup aksi gerilya perkotaan.

Tapi, hal ini juga membuat Lay Kay Kaw menjadi target militer. Pada 15 Desember, 5 hari setelah Ko Htet sampai, peluncuran serangan udara dilakukan oleh militer pada area yang dikenal sebagai “Kota Damai.” Ko Htet melarikan diri menyeberangi sungai ke Thailand bersama dengan pengungsi eksil muda.

Istrinya, Su Yi, yang juga seorang aktivis, kemudian sampai di Mae Sot bersama dengan 2 anaknya. Keluarga Ko Htet memperoleh “kartu tanpa kewarganegaraan” dan akhirnya menetap di Mae Sot. Rumah mereka perlahan menjadi tempat berkumpul bagi komunitas eksil revolusioner. Setelah 7 Oktober, 2023, anak mereka–yang masih menempuh bangku SD–memberitahu tamu yang membawa Coca-Cola, “Jangan minum Cocal-Cola–demi Palestine.”

Di tahun 2025, Ko Htet dan Su Yi membuka toko kaos di Mae Sot bernama All Colours Are Beautiful (Semua Warna Indah) – sebuah permainan kata anarkis yang mengisyaratkan slogan All Cops Are Bastards (ACAB). Ruang produksi sablon terdapat di lantai dua toko ini, di mana mereka memproduksi banyak kaos yang mereka jual. Salah satu desain populer mereka tertulis dalam bahasa Inggris, Tidak Ada Seorang Pun yang Ilegal (No One Is Illegal). Di dalam kota di mana mayoritas populasinya hidup di banyaknya bayangan ketidakpastian hukum, mengenakan kaos dengan tulisan tersebut di ruang publik adalah tindakan yang provokatif. Baru-baru ini, Ko Htet mengirimkan saya foto kartu registrasi detensi imigrasi yang menunjukkan seorang tahanan Burma yang berdiri di depan alat ukur tinggi badan–standar latar belakang foto penahanan–mengenakan kaos dengan desain bertuliskan Tidak Ada Seorang Pun yang Ilegal.

Pada peringatan kudeta tahun kelima, saya mengundang Ko Htet untuk merefleksikan revolusi dari perspektif anarkis: ketegangan di antara gerakan mereka dengan pasukan revolusioner arus utama yang direpresentasikan oleh Aung San Suu Kyi, dan bagaimana jaringan kiri di Burma–yang dibentuk sebelum kudeta–telah melanjutkan pengorganisiran dan bertahan hidup melalui pengasingan.

1. Jalanan

Setelah kudeta di tahun 2021, bagaimana anarkis di Burma melakukan mobilisasi dalam gerakan anti-junta? Dan apa hal yang tidak kamu setujui dengan pendukung Aung San Suu Kyi?

Pada malam sebelum kudeta, desas desus telah beredar bahwa Konstitusi 2008 telah diberikan kekuatan institusional yang besar oleh militer termasuk 25% kursi parlemen, hampir tak seorang pun percaya ini akan terjadi. Di bawah pengaturan tersebut, nampaknya militer tidak perlu merebut kekuasaan secara langsung. Namun, pada 1 Februari, 2021, kudeta terjadi.

Pada pagi hari kudeta, saya berdiskusi dengan kawan yang pernah bekerja dengan Federasi Serikat Mahasiswa Seluruh Burma (All Burma Federation of Student Unions)--salah satu organisasi mahasiswa kiri utama di Myanmar–dan dengan anggota grup anarkis antifa tentang bagaimana memobilisasi orang-orang untuk turun ke jalan. Namun, tokoh senior Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy) yang belum ditahan, bersama dengan pendukung [politikus Burma] Aung San Suu Kyi, meminta publik untuk tidak melakukan aksi dan menunggu 72 jam. Mereka menyebarkan keyakinan bahwa bantuan internasional–dan bahkan intervensi R2P–akan segera datang, mendorong orang-orang untuk diam di rumah daripada aksi di jalan.

Tapi di hari yang sama, akses pada internet diputus. Tiba-tiba, baik militer maupun Liga Nasional untuk Demokrasi tidak bisa menyebarkan propagandanya secara efektif. Pada 3 hari pertama, gerakan di mana saya terlibat kesulitan untuk membuat orang-orang turun ke jalan. Komunikasi di antara kami sangat sulit, dan mengorganisir di bawah kondisi tersebut menjadi tantangan besar.

Para pekerja perempuan di pabrik garmen di kawasan industri Hlaingthaya yang terkenal di Yangon termasuk yang pertama turun ke jalan, sementara Federasi Serikat Mahasiswa Seluruh Burma, mengabaikan arahan kepemimpinan Liga Nasional untuk Demokrasi untuk menahan diri, mulai mengorganisir diri mereka sendiri. Sementara itu, orang-orang biasa mulai melemparkan pot dan panci secara spontan dari lantai balkon mereka setiap malam sebagai bentuk aksi.

6 Februari adalah hari besar pertama. Pekerja garmen di Hlaingthaya lagi-lagi turun ke jalan sementara militer memblokir jalanan dengan cepat. Tapi, di hari yang sama, gelombang aksi skala nasional dimulai. Bahkan orang-orang yang saya ketahui yang biasanya tidak begitu menaruh perhatian pada politik ikut bergabung dalam aksi massal ini.

Dalam momen itu, hampir semua orang bersatu di bawah slogan yang sama: melawan kudeta dan menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi. Bahkan saya merespon arahan Liga Nasional untuk Demokrasi dengan membeli pakaian berwarna merah dan mengenakannya ketika aksi.

Pada 12 Februari, saya terlibat dalam pengorganisiran Komite Pemogokan Umum (General Strike Committee), yang dibentuk untuk melawan kediktatoran dari gerakan rakyat, yang terbuat dari anggota partai dari total 25 grup, termasuk Federasi Serikat Mahasiswa Seluruh Burma, organisasi buruh, dan partai politik. Tuntutan utama Komite Pemogokan Umum adalah menentang kediktatoran militer, membebaskan Aung San Suu Kyi dan tahanan politik, dan menghapus Konstitusi 2008 seluruhnya. Pada waktu itu, mobilisasi tahanan politik mana pun yang tidak memasukan tuntutan pembebasan Suu Kyi akan kesulitan untuk mendapatkan dukungan dari publik. Tapi, kami selalu menegaskan akan pembebasan semua tahanan politik, tidak hanya Suu Kyi saja.

Pertentangan kami dengan Liga Nasional untuk Demokrasi berkaitan dengan Konstitusi 2008. Pimpinan Liga Nasional untuk Demokrasi dan para pendukungnya berharap bisa menggunakan Konstitusi 2008 sebagai kerangka untuk membatasi militer dan menjaga hasil pemilihan umum. Sementara kami, kami percaya bahwa era ini telah selesai dan konstitusi itu sendiri perlu dihapuskan. Rakyat perlu untuk bersatu bukan hanya untuk menjaga hasil dari pemilihan umum, tapi juga untuk membongkar peran struktur militer di dalam sistem politik Burma.

Pada saat itu, aksi dilakukan hampir setiap hari. Antusias publik untuk melawan pemerintahan militer sangat tinggi. Begitu kerumunan berkumpul, semakin banyak orang yang terus bergabung, baik yang sepenuhnya setuju atau tidak dengan posisi politik kami. Selama aksi, kami mengorganisir orasi dan segmen-segmen yang membangkitkan moral yang menjelaskan kenapa menghapus Konstitusi 2008 itu perlu dilakukan.

Pada 3 Maret, dalam aksi yang diorganisir oleh Komite Pemogokan Umum, lebih dari 300 orang ditahan. Setelah itu, beberapa kelompok mulai membuat alat peledak sederhana dan bom suara untuk melawan represi polisi dan militer di jalanan. Di saat yang sama, Liga Nasional untuk Demokrasi dan para pendukungnya melemparkan tuduhan bahwa kami melakukan kekerasan. Mereka berargumen bahwa ketika suatu aksi berubah menjadi aksi yang kasar, citra revolusi akan terlihat buruk di mata komunitas internasional.

Di media sosial, pendukung Liga Nasional untuk Demokrasi memberi cap kepada Komite Pemogokan Umum sebagai komunis atau anggota sayap kiri. Karena propaganda negara yang selama beberapa dekade menggambarkan komunisme sebagai ancaman nasional, tuduhan seperti ini sangat mudah menimbulkan kecurigaan dan permusuhan terhadap kami di kalangan publik.

Setelah tindakan represif berdarah oleh militer di 27 Maret, aksi damai dalam skala besar menjadi hampir mustahil untuk dilakukan, dan banyak orang yang pergi ke hutan untuk memulai perlawanan bersenjata. Tapi beberapa di antaranya memilih untuk tetap tinggal dan melanjutkan perjuangan di area perkotaan. Bisakah kamu mendeskripsikan seperti apa masa itu?

27 Maret adalah Hari Perlawanan Bersenjata Burma (Burma’s Armed Forces Day), dikenal secara lokal sebagai Hari Tatmadaw (Tatmadaw Day). Hari itu, aksi besar anti kudeta lagi-lagi dilakukan di kota-kota besar seperti Yangon dan Mandalay, dan kami ikut bergabung. Militer meresponnya dengan serangan brutal, membunuh ratusan peserta aksi di seluruh negeri.

Menjadi sangat penting untuk memahami arti sejarah dari hari itu. 27 Maret pernah dikenal sebagai Hari Perlawanan Anti-Fasis atau dalam bahasa lokal ဖက်ဆစ်တော်လှန်ရေးနေ့ (Anti-Fascist Resistance Day) dan baru diubah menjadi Hari Tatmadaw di tahun 1955. Awalnya, peringatan ini memperingati kelahiran pasukan yang kemudian melakukan kudeta: pada 27 Maret, 1945, Jenderal Aung San memimpin pasukan Burma dalam pemberontakan melawan pendudukan fasis Jepang. Setelah Burma mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1948, pasukan Liga Kebebasan Rakyat Anti-Fasis (Anti-Fascist People’s Freedom League) Aung San menjadi kekuatan politik yang berkuasa.

Jadi, pada hari peringatan yang sama di tahun 2021, orang-orang turun ke jalan untuk melakukan aksi memprotes kudeta yang dilakukan oleh tentara itu, secara efektif merebut kembali dan mendefinisikan ulang arti hari itu melalui perlawanan. Pembantaian yang terjadi kemudian lagi-lagi menunjukkan bahwa kekuatan yang dulunya dirayakan sebagai anti-fasis justru telah menjadi fasis. Setelah tindakan represif oleh militer terjadi, banyak dari kami yang mulai merujuk 27 Maret, sekali lagi, sebagai Hari Anti-Fasis (Anti-Fascist Day).

Hari lain yang kami coba untuk rebut kembali adalah Hari Para Martir (Martyrs’ Day) di tanggal 19 Juli, yang memperingati pembunuhan Jenderal Aung San. Pada narasi resmi, hanya tokoh etnis Bamar yang diakui sebagai martir. Pemimpin dari kelompok etnis minoritas yang meninggal dalam konflik dengan negara jarang, atau bahkan tidak pernah, diberikan status tersebut.

Tindakan represif oleh militer di 27 Maret membuat pengorganisiran aksi damai di kota-kota semakin sulit. Banyak dari kawan saya pergi ke hutan untuk mendapatkan latihan militer dengan organisasi etnis bersenjata. Beberapa dari mereka pergi ke Negara Bagian Kachin di sepanjang perbatasan China-Myanmar dan Negara Bagian Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh untuk berlatih dengan Tentara Kemerdekaan Tachin (Kachin Independence Army) dan Tentara Arakan (Arakan Army), beberapa dari mereka pergi ke perbatasan Negara Bagian Karen untuk bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional Karen (Karen National Liberation Army).

Kemudian, beberapa yang kembali dari area-area tersebut memberitahu kami bahwa ketika pendatang baru sampai di kamp, mereka sering kali disambut dengan pertanyaan sederhana sebagai ujian: “Apakah kamu bergabung di revolusi untuk membebaskan rakyat, atau hanya ingin membebaskan Aung San Suu Kyi?”

Untuk saya, saya memilih untuk tinggal di Yangon. Dari situ, bersama-sama dengan kawan-kawan yang lain, kami mulai mengorganisir aksi mogok kilat–demonstrasi yang marak dan cepat terbentuk itu bubar sebelum pasukan keamanan dapat bereaksi. Banyak orang muda yang bergabung aksi dengan antusias, memungkinkan perlawanan di kota itu untuk terus berlanjut, bahkan dalam kondisi yang semakin berbahaya.

Bagaimana perubahan strategi bagi mereka yang tinggal di Yangon dibandingkan dengan fase perlawanan sebelumnya?

Aksi mogok kilat terus berlanjut di Yangon sampai akhir tahun 2021. Selama masa ini, tuntutan kami tidak lagi terbatas pada penentangan pemerintahan militer atau permintaan untuk membebaskan Aung San Suu Kyi. Malah, kami mulai menggunakan aksi untuk mengkomunikasikan pesan politik yang lebih luas dan memajukan isu-isu yang kami nilai penting bagi kami.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kami bekerja untuk mengartikan kembali peringatan sejarah seperti Hari Anti-Fasis dan Hari Martir. Kami juga mendorong diskusi tentang isu gender di dalam revolusi, dampak dari proyek pertambangan dan penyitaan tanah, hubungan etnis, dan kebutuhan untuk menghadapi chauvinisme Bamar yang telah berlangsung lama. Di peringatan yang berkaitan dengan genosida Rohingya, kami mengorganisir aksi di lingkungan Muslim yang menghubungkan solidaritas dengan Rohingya dengan perjuangan global yang lebih luas, termasuk gerakan solidaritas untuk Palestina.

Orang-orang membawa spanduk ke jalanan yang mengekspresikan penyesalan atas peran yang dimainkan oleh anggota kelompok etnis mayoritas, secara langsung atau tidak, dalam persekusi Rohingya. Jika dilihat kembali sekarang, sangat jelas bahwa meskipun banyak orang secara tulus menyatakan penyesalan, yang lain memperlakukan gestur tersebut sebagai alat taktis untuk mobilisasi anti-kudeta; jauh di lubuk hati, masih banyak yang mempertahankan pandangan nasionalis Bamar.

Pada pertengahan April, Pemerintahan Persatuan Nasional (National Unity Government) dibentuk di pengasingan, dan beberapa pemimpin dari gerakan akar rumput dimasukkan ke dalam strukturnya. Tapi banyak dari strategi dan pengambilan keputusan mereka yang sulit untuk kami pahami. Sementara orang muda masih mempertaruhkan nyawa mereka dengan mengadakan aksi kilat di jalanan, Pemerintahan Persatuan Nasional mulai menyerukan “mogok diam-diam,” meminta orang-orang untuk tinggal di rumah dan menghentikan aktivitas ekonomi daripada melakukan aksi di ruang publik.

Di saat yang sama, pemadaman internet masih berlanjut, membuat komunikasi menjadi sangat sulit. Merespon hal itu, kami meluncurkan proyek Buletin Molotov (Molotov Newsletter) di bulan April. Kelompok redaksi kami semuanya berhaluan kiri dan koran tersebut diterbitkan setiap minggu.

Kami mencetak dan mendistribusikan salinan fisik di Yangon. Edisi pertama yang diterbitkan di bulan April tak diduga mendapatkan respon kuat: kami mendistribusikan sekitar 5000 salinan cetak di sana. Kemudian di bulan yang sama, pihak berwenang menyatakan publikasi tersebut sebagai publikasi ilegal. Ironisnya, atmosfer pada waktu itu membuat publikasi ini semakin populer.

Karena sulit untuk menjangkau daerah lain secara fisik, kami mengunggah koran-koran ini dalam bentuk PDF secara online sehingga orang-orang dari area lain dapat mengunduhnya dan mendistribusikannya secara mandiri. Masing-masing edisi mendapatkan jumlah rata-rata pengunduhan sekitar 30,000 sampai 50,000.

Beberapa dari mereka yang pergi ke hutan untuk latihan dan kembali ke kota selama sebulan atau dua bulan, dan perlawanan bersenjata mulai muncul di area perkotaan. Bisakah kamu bercerita tentang masa itu?

Sekitar bulan Mei, beberapa dari mereka yang pergi ke hutan untuk latihan militer mulai kembali ke kota-kota besar. Mereka membawa senjata dan mulai melakukan operasi gerilya perkotaan. Senjata mulai beredar di Yangon, dan dari situ, banyak orang muda yang bergabung aksi kilat di siang hari dan bergabung aksi gerilya di malam hari.

Di bulan Agustus, militer menggerebek sebuah apartemen di Jalan No. 44 Yangon yang merupakan tempat berkumpul kelompok aktivis muda. Tidak lama sebelum penggerebekan, para aktivis muda ini telah memasang bom di bawah spanduk anti-junta; ketika polisi datang untuk melepaskan spanduk itu, bom tersebut langsung meledak. Setelah itu, kami lalu mengetahui bagaimana lokasi ini bisa ketahuan. Seorang sopir taksi yang biasa bekerja dengan kelompok ini telah ditahan oleh militer. Sopir taksi ini secara aktif mendukung aktivitas anti-junta setelah kudeta terjadi dan merupakan seseorang yang kami percayai. Di bawah proses interogasi yang brutal, dia dipaksa untuk mengungkap lokasi rumah aman di Jalan No. 44.

Di hari penggerebekan, lima orang melompat dari atap, dalam bentuk putus asa untuk melarikan diri dari penahanan. Dua meninggal di tempat ketika mereka jatuh, dan tiga dari mereka mengalami cedera serius dan dilarikan ke rumah sakit. Di dalam apartemen, tiga orang ditahan hidup-hidup. Para korban penggerebekan yang selamat kemudian didakwa dengan pembuatan dan kepemilikan bahan peledak ilegal dan dijebloskan ke penjara, di mana dua di antara mereka meninggal di balik jeruji besi.

Hanya satu orang yang berhasil melarikan diri hari itu. Dia bersembunyi selama 12 jam di bawah atap kecil, tidak berani bergerak saat tentara menggeledah bangunan di bawah. Ditutupi bayangan kegelapan, dia pada akhirnya berhasil menyelundup kabur dan kemudian melintasi perbatasan secara ilegal ke Mae Sot.

Pada musim salju 2023, dia jatuh sakit dengan penyakit yang seharusnya bisa diobati, tapi tanpa dokumen identifikasi, dia tidak mampu mendapatkan perawatan medis yang memadai di Thailand. Dia pada akhirnya meninggal di Mae Sot. Saya membantu mengorganisir pemakamannya, dan apa yang dimulai sebagai ucapan selamat tinggal tak lama berubah menjadi suatu aksi.

Setelah penggerebekan di Jalan No. 44 Yangon, lebih banyak orang muda, yang disulut oleh amarah, bergabung dengan operasi pembunuhan di Yangon. Mereka menamai grupnya sebagai “Grup Jalan 44 Gerilya Perkotaan,” dan balas dendam menjadi motivasi besar di balik aksi mereka.

Saya pribadi merasa bimbang mengenai operasi-operasi ini. Saya sebenarnya tidak pernah membidik senjata pada siapa pun. Tapi karena saya khawatir pada kawan-kawan saya–kebanyakan dari mereka adalah anak Gen Z–saya sering merasa terbantu dalam banyak hal, menjaga atau membawa mereka dari operasi satu ke operasi yang lain. Langkah demi langkah, saya menemukan diri saya terlibat di dalamnya. Bagi saya, membunuh seseorang, atau bahkan melihat seseorang mati di depan saya, merupakan hal yang sangat sulit untuk saya hadapi. Ini merupakan garis yang tidak pernah mampu saya lewati secara emosional.

Selama salah satu operasi berlangsung, saya melihat perempuan yang berafiliasi dengan militer ditembak. Perempuan itu jatuh di depan saya. Pada dua tahun berikutnya, dia terus-menerus muncul di mimpi buruk saya.

Suatu hari di tahun 2023, saya menerima telepon dari profil seseorang yang tidak dikenal di Facebook Messenger. Ketika saya menjawab, ternyata panggilan itu datang dari salah satu kawan dari Jalan No. 44 yang telah ditahan. Dia memiliki sedikit akses untuk menelepon ketika dia dibawa ke pengadilan dan menggunakan akses itu untuk menelepon saya. Dia memberitahu saya bahwa perempuan yang kami tembak ternyata masih hidup dan memberikan kesaksian untuk melawan dirinya di pengadilan. Saya pikir dia tidak berharap apa pun dari reaksi saya. Mendengar bahwa perempuan itu selamat, saya merasa sangat lega.

Selama tahun pertama setelah kudeta terjadi, bagaimana kamu mendeskripsikan hubunganmu dengan gerakan sayap kiri dan revolusi anti-kudeta yang lebih luas?

Di tahun pertama setelah kudeta terjadi, pengorganisiran sayap kiri sangat terstruktur. Revolusi membuat jaringan kami semakin luas secara cepat. Banyak orang muda yang sebelumnya apatis pada politik atau dengan sengaja dijauhkan dari politik berubah menjadi radikal, sementara mereka yang selama ini punya nilai yang sama akhirnya menemukan kawan baru.

Baik jalanan maupun ruang publik menjadi ruang di mana pandangan politik yang berbeda bersaing untuk mendapatkan hegemoni dalam gerakan tersebut. Pada masa itu, salah satu slogan yang diangkat oleh Komite Pemogokan Umum adalah “Cabut Kekuasaan Militer Fasis” (Uproot the Fascist Military), dan itu secara cepat menyebar dan menjadi populer secara luas. Slogan lain yang rakyat gaungkan adalah, “Kita Tak Akan Kehilangan Apa Pun Kecuali Belenggu Kita,” (We Have Nothing to Lose but Our Chains) dari Manifesto Komunis. Saya bahkan mencetak slogan-slogan ini di kaos, dan kaos-kaos ini dengan hangat diterima oleh kawan-kawan.

Bahasa sayap kiri mulai memasuki ruang revolusi secara jelas. Semakin banyak orang menggunakan kosakata dari perjuangan sayap kiri dan anti-fasisme di aksi jalanan. Lewat Buletin Molotov, kami mencoba untuk menyediakan konteks sejarah, menjelaskan apa itu fasisme dan gerakan anti-fasis yang sebenarnya, sehingga slogan-slogan ini tidak hanya sekedar menjadi ekspresi emosional tapi menjadi bagian dari makna kesadaran politik yang lebih dalam.

Lagu-lagu aksi anti-fasis juga diciptakan dari gerakan komunitas sayap kiri untuk mengingatkan rakyat bahwa, secara sejarah, banyak pasukan yang dulunya mengaku memerangi fasisme pada akhirnya malah menjadi penindas. Ini adalah jalan yang tidak ingin kami ikuti. Contohnya, ketika Aung San Suu Kyi berdiri berdampingan dengan militer di Mahkamah Internasional, membela Burma dari tuduhan genosida, banyak dari kami yang melihat momen itu sebagai momen di mana dia menjadi bagian dari fasisme.

2. Gerakan Kiri

Selama tahun-tahun pembentukan politikmu, bagaimana cara rakyat mengakses ide kiri dan anarkis di Burma?

Kekuatan kiri di Burma sejak dulu berjuang melawan represi berat. Semasa saya remaja, sangat sulit untuk menemukan buku tentang pergerakan pelajar. Hanya ada beberapa buku tentang sejarah Burma pasca-kemerdekaan. Sebaliknya, ada banyak buku tentang kerajaan dan masa kolonial Inggris. Dalam pendidikan resmi, nasionalisme anti-kolonial mendominasi narasi sejarah, sementara diskusi tentang organisasi perlawanan pasca-kemerdekaan seringkali dihapus.

Kebanyakan tulisan tentang perlawanan pasca-kemerdekaan dan pemikiran politik alternatif diterbitkan di luar negeri oleh eksil politik. Membawa buku tersebut masuk Burma seringkali berbahaya dan sulit.

Sebelum 2007, akses internet sangat terbatas di Burma. Kami mendengar radio luar negeri seperti BBC atau Radio Free Asia untuk mencari perspektif yang berbeda dari propaganda resmi. Kami membaca propaganda dan literatur dari Partai Komunis Burma, sekaligus terbitan berjudul "Revolusi", yang bisa kami akses melalui internet. Kami juga bisa membaca tentang Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma. Tapi mendengar stasiun radio "musuh" atau membaca karya terlarang bisa berujung pada hukuman serius, termasuk pemenjaraan.

Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma adalah jaringan pelajar kiri paling penting di Burma. Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma didirikan pada tahun 1936 semasa penjajahan Inggris, dan kemudian berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan pergerakan anti-militer.

Setelah kudeta militer di 1962, demonstrasi pelajar dihancurkan dengan brutal, dan rezim militer meledakkan bangunan serikat pelajar di Universitas Rangoon. Tapi perlawanan pelajar tidak menghilang. Gelombang baru muncul di 1974, 1975, dan 1976. Kemudian, semasa pemberontakan pro-demokrasi di 1988 - yang dipanggil Gerakan 8888 - bendera Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma kembali ke jalanan dan menjadi simbol perlawanan terhadap tentara. Rezim militer seringkali mencap organisasi tersebut sebagai front komunis dan kekuatan subversif. Dulu saat saya belajar di universitas, saya membantu mendirikan cabang Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma di kampusku.

Di waktu yang sama, mesin propaganda militer menggambarkan Partai Komunis Burma sebagai salah satu sumber utama ketidakstabilan nasional dan pemecahan. Ironisnya, setelah Jendral Ne Win menetapkan kediktatoran militer di 1962, satu-satunya partai politik yang dilegalkan rezim - Partai Program Sosialis Burma - mengklaim dirinya sebagai partai sosialis, dan mempromosikan "jalur Burma menuju sosialisme", yang secara praktis berarti isolasi ekonomi, kontrol terpusatkan, dan otoritarianisme.

Akibat bertahun-tahun kerusakan ekonomi dan sosial dibawah rezim ini, banyak orang menghubungkan kemiskinan dan represi dengan sosialisme. Hasilnya, muncul stigma publik terhadap istilah "komunisme", "sosialisme", dan bahkan "kiri". Bagi banyak orang, kata-kata ini memunculkan rasa takut dan tidak percaya. Berkat pengalaman historis ini, sulit untuk memobilisasi rakyat berdasarkan ide kiri di Burma.

Kapan dan bagaimana kamu memulai berorganisasi dalam tradisi anarkis?

Sekitar akhir 2013 dan awal 2014, kami mulai membangun lingkar studi anarkis dan jejaring aksi. Secara formal, rezim militer telah berakhir di 2012, tapi pejabat sipil belum mulai bekerja dalam pemerintahan. Militer mengatur apa yang dipanggilnya transisi demokratis; beberapa tahanan politik dibebaskan dan kegiatan yang sebelumnya dilarang - misalnya perkumpulan publik dan penerbitan - menjadi legal lagi. Organisasi masyarakat sipil mulai muncul dan Burma tampaknya bergerak ke arah normal.

Di masa yang sama, Aung San Suu Kyi mempropagandakan strategi tanpa kekerasan dan perubahan elektoral. Dia menganjurkan rakyat untuk mengubah Burma melalui pemilu, tapi tidak mendukung pergerakan di basis. Sementara itu, kami mulai terlibat mengorganisir protes tentang perampasan tanah petani, hak kelas pekerja, dan pergerakan pelajar.

Pada tahun 2014, kami membentuk sebuah kelompok bernama Anonymous Burma (Burma Anonim) dan mulai menjalankan aksi. Bahkan pada masa itu, mengorganisir protes jalanan terbuka masih sulit dan riskan. Jadi kami memakai topeng, membakar poster-poster parlemen di pusat kota, dan menyalakan kembang api untuk menarik perhatian. Sebagian orang mulai menyebut kami sebagai versi Burma dari “antifa” (antifasis) dan individu dengan pandangan politik serupa menghubungi kami untuk bergabung.

Zin Lynn, yang dulu merupakan aktivis kiri legendaris, kini seorang tahanan politik, juga merupakan bagian dari kelompok kami Anonymous Burma. Ia pernah menjadi tokoh terkemuka di dalam Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma dan juga seorang musisi yang menulis banyak lagu revolusioner, termasuk lagu kebesaran Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma. Ia memperkenalkan generasi-generasi demonstran muda pada lagu-lagu revolusioner klasik—menulis lirik bahasa Burma untuk Bella Ciao, Do You Hear the People Sing, dan The Internationale, sehingga lagu-lagu itu bisa dinyanyikan di jalanan, bukan hanya dikenang dari jauh. Setelah represi brutal pada Maret 2021, ia pergi ke hutan untuk pelatihan militer, kemudian kembali ke Yangon untuk berpartisipasi dalam aksi gerilya perkotaan, dan ditangkap pada bulan September tahun itu.

Dia masih berada di penjara hingga hari ini. Kamu bisa melihat banyak aktivis kiri di pengasingan memberikan penghormatan kepadanya dalam publikasi mereka dan selama pertunjukan.

Di saat yang sama, kami mulai bekerja sama dengan Food Not Bombs (Makanan Bukan Bom) Burma. Kyaw Kyaw, vokalis utama band punk Rebel Riot (Kerusuhan Pemberontak), mulai mengorganisir kegiatan Food Not Bombs di Yangon pada awal 2010-an, dan banyak lagu politik mereka yang sangat mempengaruhi kami. Sejak itu, Food Not Bombs, Anonymous Burma, dan Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma sering bekerja bersama dalam protes dan pengorganisasian politik/sosial.

Pada tahun 2015, Burma menggelar pemilu pertamanya di era transisi dan banyak rakyat biasa merasa penuh harapan terhadap masa depan negara. Namun, kegiatan perlawanan kami terus berlanjut. Tahun itu, kami mengorganisir apa yang kemudian dikenal sebagai “Long March” (Mars Panjang), menyerukan para mahasiswa untuk berbaris dari Mandalay ke Yangon sebagai protes terhadap Undang-Undang Pendidikan Nasional yang baru diperkenalkan, yang memusatkan kontrol atas universitas dan meningkatkan kontrol negara—dan secara tidak langsung, kontrol militer—atas pendidikan. Ribuan orang berjalan sejauh 600 km dari Mandalay dan pemerintah melakukan represi brutal di Letpadan, sebuah kota di utara Yangon.

Dengan mendekatnya pemilu, para pendukung Aung San Suu Kyi dan Liga Nasional untuk Demokrasi bersikap bermusuhan terhadap gerakan kami. Mereka percaya protes kami merusak pemilu dan mengganggu transisi demokratis. Dalam pandangan mereka, kami sedang membuat masalah pada momen politik yang kritis.

Tampaknya, ketika berhadapan dengan musuh bersama berupa pemerintahan militer, hubungan antara gerakan kiri Burma dan Aung San Suu Kyi sering kali ambigu—kadang bekerja sama, kadang bersaing.

Faktanya, saya tidak pernah memilih Liga Nasional untuk Demokrasi. Pada tahun 2015, saya tidak ikut pemilu. Saya juga tidak memilih dalam pemilu 2020. Pada saat itu, sebagian dari kaum kiri memulai gerakan “No Vote” (Golongan Putih). Satu-satunya kali saya pernah memilih di Burma adalah selama referendum konstitusi 2008 dan saya memilih menentang konstitusi.

Pada kenyataannya, sebelum Aung San Suu Kyi berkuasa, sebagian besar kaum kiri Burma telah mendukungnya. Sejak pemilu 1990, Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma telah dengan kuat mendukung Liga Nasional untuk Demokrasi. Ketika saya masih remaja, saya juga ikut serta dalam kampanye pemuda yang menuntut pembebasannya dari tahanan rumah.

Namun, setelah pembebasannya pada tahun 2010, kami segera menyadari bahwa kami tidak bisa menyetujui banyak kebijakan dan agenda politiknya. Misalnya, sementara kami menuntut penghapusan total Konstitusi 2008, ia memilih untuk menerima kerangka kerja konstitusi tersebut dan berpartisipasi dalam pemilu. Sementara itu, banyak proyek pertambangan skala besar terus berlanjut di bawah pemerintahannya, termasuk tambang tembaga Letpadaung yang sangat kontroversial, dimana kami ikut serta dalam protes terhadap kerusakan lingkungan dan perampasan tanah. Banyak dari proyek-proyek ini awalnya ditandatangani selama pemerintahan militer dengan perusahaan asing, termasuk perusahaan-perusahaan Tiongkok. Alih-alih menghentikannya, pemerintahan Aung San Suu Kyi merepresi perlawanan lokal dengan keras.

Hal yang sama juga berlaku untuk proyek-proyek seperti Bendungan Myitsone yang didukung Cina di Negara Bagian Kachin, dimana protes juga ditekan. Pemerintahannya mendorong pembangunan ekonomi dan investasi asing, namun hasilnya seringkali berupa penyitaan tanah dan pengungsian komunitas lokal.

Perpecahan terakhir datang dengan genosida Rohingya pada tahun 2017. Ketika ia pergi ke Mahkamah Internasional, sebagian dari kami masih berharap ia akan mengungkap kejahatan militer. Sebaliknya, ia secara terbuka membela militer. Tidak lama setelahnya, para pendukung Liga Nasional untuk Demokrasi memasang poster di seluruh negeri yang menunjukkan Aung San Suu Kyi berdiri berdampingan dengan para pemimpin militer, dengan slogan: “Kami berdiri bersama Aung San Suu Kyi.”

Bagi banyak dari kami di kaum kiri, itulah momen perpecahan yang final.

3. Memudarnya Revolusi

Pada 7 Oktober 2023, “lingkaran revolusioner” arus utama, termasuk tokoh-tokoh yang terhubung dengan Pemerintah Persatuan Nasional dan banyak perwakilan mayoritas Bamar, secara terbuka menyatakan posisi pro-Israel. Menjelang akhir tahun 2025, ketika Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma mengeluarkan pernyataan yang mengecam apa yang digambarkannya sebagai imperialisme AS setelah intervensi Amerika di Venezuela dan penangkapan Maduro, hal itu memicu reaksi keras di Burma. Banyak orang menuduh Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma sebagai komunis. Dalam pandangan kamu, kapan gerakan kiri mulai kehilangan kekuatan mobilisasinya?

Pada tahun pertama setelah kudeta, gerakan kiri dan anarkis akhirnya menemukan medan tempur dimana kami bisa memainkan peran yang nyata. Saat itu, kami masih memiliki kekuatan mobilisasi yang kuat dan mampu membawa banyak isu kiri ke diskusi publik. Bahkan hingga tahun 2022, banyak kegiatan terus berlanjut, meskipun semakin bersifat bawah tanah. Namun seiring energi revolusioner mulai memudar, gerakan kiri sendiri juga mulai melemah.

Pada tahun 2023 dan 2024, Revolusi Musim Semi memasuki periode kemunduran. Militer terus maju dan mengkonsolidasikan kontrol, sementara kekuatan di pihak revolusioner menjadi semakin terpecah-belah dan tidak terorganisir. Beberapa pemimpin revolusioner secara terbuka melontarkan pernyataan homofobik, dan laporan-laporan tentang kekerasan seksual dan berbasis gender yang sistematis muncul di beberapa daerah yang disebut sebagai “daerah yang dibebaskan”. Namun, di bawah panji revolusi, isu semacam itu seringkali sengaja diremehkan atau disembunyikan, karena banyak yang khawatir bahwa kritik internal akan melemahkan perlawanan terhadap rezim militer.

Banyak kawan yang dulu berjuang bersama saya kini bersenjata. Lima tahun telah berlalu. Mereka bukan lagi orang yang sama. Senjata telah menjadi bentuk kekuasaan mereka.

Banyak orang muda yang bergabung dengan perlawanan bersenjata karena kemarahan dan kebencian terhadap pemerintahan militer. Namun seiring berlarutnya perang, masalah dalam Pemerintah Persatuan Nasional menjadi semakin terlihat, dan banyak pejuang mulai merasa kecewa. Mereka mengangkat senjata untuk melawan penindasan, hanya untuk menemukan bahwa struktur kekuasaan dan hierarki juga ada di dalam kubu revolusioner. Kepemimpinan Pemerintah Persatuan Nasional tampaknya tidak berbeda secara mendasar dari junta yang mereka lawan.

Akibatnya, semakin banyak pejuang memilih untuk meninggalkan hutan. Karena keterbatasan dokumentasi dan mobilitas, banyak yang tidak bisa bepergian jauh, dan sejumlah besar akhirnya berakhir di kota perbatasan seperti Mae Sot.

Selama fase awal revolusi, dalam Buletin Molotov, kami berulang kali menekankan bahwa perlawanan bersenjata harus dipandu oleh nilai politik. Tanpa nilai politik, perjuangan bisa merosot menjadi kubu preman yang terpecah-belah. Namun, kenyataannya, sebagian besar unit Pasukan Pertahanan Rakyat saat ini tidak memiliki orientasi politik; satu-satunya posisi politik yang menyatukan mereka adalah oposisi terhadap junta militer. Demikian pula, setiap kelompok bersenjata etnis yang melawan militer secara otomatis dianggap sebagai kekuatan politik yang sah, seringkali tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Banyak dari kelompok bersenjata ini tetap terorganisir terutama di sepanjang garis etnis dan komunitas politik mereka dibangun atas identitas etnis. Hal ini riskan mereproduksi bentuk baru etnonasionalisme. Bahkan, kelompok yang saat ini secara luas dianggap sebagai yang paling progresif, seperti Tentara Pembebasan Rakyat Bamar, masih beroperasi dalam kerangka ini sampai batas tertentu. Bedanya, mereka lebih akrab dengan wacana progresif dan mereka berusaha mengatur perilaku mereka melalui nilai tersebut. Itulah sebabnya mereka masih dilihat sebagai salah satu dari sedikit kelompok bersenjata yang secara serius terlibat dengan pertanyaan politik.

Sekarang sudah tahun kelima setelah kudeta. Militer telah mulai mengorganisir apa yang oleh banyak pengamat disebut sebagai pemilu palsu. Bagaimana kamu memahami momen ini?

Banyak orang yang meninggalkan pekerjaan mereka sebagai bagian dari Gerakan Pembangkangan Sipil akhirnya terpaksa kembali ke sistem yang dulu mereka lawan, semata-mata demi bertahan hidup. Yang lainnya telah mencari suaka di negara ketiga [setelah ke Thailand]. Gerakan boikot yang dimulai pada tahun 2021 menjadi semakin sulit dipertahankan. Militer memahami realitas ini dengan sangat baik dan justru dalam kondisi inilah mereka melangkah maju dengan apa yang dilihat banyak orang sebagai pemilu rekayasa.

Beberapa kekuatan politik yang berada di pinggiran kubu Liga Nasional untuk Demokrasi selama awal pemberontakan, seperti Partai Rakyat, kini berpartisipasi dalam pemilu. Pada saat yang sama, para kandidat dalam pemilu semakin banyak berbicara tentang “gencatan senjata” dan “perdamaian”—bahasa yang hampir tidak terbayangkan beberapa tahun yang lalu, ketika momentum revolusioner masih ada.

Saya pikir salah satu alasan penting kita sampai pada titik ini adalah bahwa Pemerintah Persatuan Nasional memaksakan kepemimpinannya pada apa yang awalnya merupakan pemberontakan spontan yang dipimpin oleh kaum muda, terutama para demonstran Generasi Z. Segera setelah protes dimulai, Pemerintah Persatuan Nasional muncul, dan sebagian besar menterinya berasal dari generasi yang dibentuk oleh pemberontakan 1988 dan gerakan mahasiswa 1996. Di saat yang sama, beberapa pemimpin gerakan yang memiliki pengaruh kuat di kalangan anak muda dimasukkan ke dalam struktur tersebut, seringkali sebagai token, agar kepemimpinan tidak tampak sepenuhnya terputus dari generasi muda.

Sebagai contoh, Pemerintah Persatuan Nasional menekankan apa yang disebutnya politik representatif—memastikan bahwa perempuan mengisi sekitar setengah dari posisi kepemimpinan, atau bahwa berbagai kelompok etnis disertakan. Namun, hal ini tidak berarti bahwa para perwakilan perempuan menentang patriarki, atau bahwa para perwakilan etnis berjuang untuk hak kolektif komunitas mereka. Seringkali, representasi lebih berfungsi sebagai pertunjukan keberagaman.

Rakyat masih membenci junta militer, tetapi mereka juga lelah dengan Revolusi Musim Semi itu sendiri. Banyak yang dulu mengabdikan diri sepenuhnya pada perlawanan kini kembali ke kehidupan biasa, terkikis oleh kenyataan. Saya merasakan ini secara pribadi. Pada tahun pertama setelah kudeta, saya bisa mengabdikan diri sepenuhnya pada revolusi. Sekarang, seperti banyak orang lain, saya juga berjuang untuk bertahan hidup.

Dari sudut pandang saya, “Revolusi Musim Semi” telah gagal. Ini sangat sulit diucapkan secara terbuka, dan setelah begitu banyak pengorbanan, banyak orang tidak bisa menerimanya. Namun, saya rasa kita tidak bisa terus hidup dalam ilusi bahwa kemenangan sudah di depan mata. Jika suatu hari kita ingin menang lagi, satu-satunya jalan ke depan adalah kembali ke pendidikan politik, mengorganisir orang muda, dan merebut kembali medan ideologi.

Pada saat yang sama, saya harus menambahkan bahwa pengalaman dan penilaian saya terhadap revolusi tidak mewakili semua pejuang perlawanan kiri di Burma. Para rekan yang pergi ke hutan untuk pelatihan militer dan terus berjuang di wilayah bersenjata etnis atau di daerah seperti Sagaing punya pengalaman yang sangat berbeda.

Baru-baru ini, pada November 2025, Aliansi Revolusi Musim Semi terbentuk. Banyak kelompok bersenjata bergabung dengan aliansi ini dan menjauh dari kepemimpinan Pemerintah Persatuan Nasional. Mereka berkomitmen untuk membimbing diri mereka sendiri melalui politik progresif. Bagi banyak orang, aliansi ini masih mewakili harapan untuk persatuan di dalam perlawanan.

4. Pengasingan
Di satu sisi, rasanya seolah-olah momentum revolusioner sedang memudar. Di sisi lain, di sini di Thailand, tampaknya di dalam komunitas pengasingan Burma, “revolusi” telah menjadi industri yang digerakkan oleh LSM. Bagaimana kamu melihat ini?

Faktanya, tren ini tidak dimulai setelah Revolusi Musim Semi. Akarnya kembali ke periode transisi demokratis sebelumnya.

Setelah Aung San Suu Kyi berkuasa pada tahun 2015, Burma memang mengalami periode keterbukaan relatif. Bagi banyak orang, itu adalah pertama kalinya mereka merasa Burma kembali terhubung dengan dunia yang lebih luas. Kemudan banyak LSM Barat memasuki Burma dengan pendanaan besar ke dalam masyarakat sipil.

Banyak mantan aktivis akar rumput mulai mendirikan LSM mereka sendiri dan menjadi bagian dari ekosistem institusional baru ini. Agenda sering kali dibentuk oleh para donor dan para aktivis semakin bekerja sesuai prioritas pendanaan. Aktivisme secara bertahap menjadi sebuah profesi.

Antara tahun 2015 dan 2020, kamu bisa melihat dengan jelas bahwa banyak proyek dan program di dalam masyarakat sipil dibentuk oleh agenda yang didorong dari luar, kadang tidak selaras dengan kebutuhan nyata komunitas di lapangan. Selama proses ini, menyakitkan untuk menyaksikan bagaimana aktivis yang dulu penuh energi dan keyakinan perlahan diserap dan dirusak oleh sistem LSM.

Sekarang, lima tahun setelah kudeta, kita melihat munculnya lagi generasi yang disebut aktivis LSM. Sebagian menggunakan revolusi dan penderitaan rakyat untuk membangun karir pribadi—mendapatkan beasiswa ke luar negeri, memasuki jaringan LSM internasional, dan menjadi juru bicara perjuangan demokrasi Burma. Namun pada kenyataannya, banyak dari mereka semakin jauh dari apa yang terjadi di lapangan.

Saya selalu mengikuti logika yang berbeda. Saya menjalankan bisnis kecil saya sendiri sehingga saya bisa menghidupi diri secara mandiri sambil berpartisipasi dalam gerakan sosial. Baik selama masa transisi maupun sekarang, saya dan kawan-kawan saya terus mengorganisir sesuai dengan prinsip anarkis, mengandalkan penggalangan dana dan bantuan timbal balik ketimbang menulis anggaran, mengajukan permohonan hibah, atau menyerahkan laporan proyek untuk menjaga agar pekerjaan kami tetap berjalan.

Bisakah kamu menggambarkan bagaimana kamu terlibat dalam pengorganisasian sosial sekarang, di pengasingan?

Pada tahap ini, sebagian besar dari apa yang saya lakukan berfokus pada pengorganisasian di dalam komunitas pengasingan. Saya tiba di Mae Sot pada akhir tahun 2021. Sejak saat itu, saya menghentikan pekerjaan saya dengan Komite Mogok Umum dan beralih ke pengorganisasian komunitas lokal.

Mae Sot menampung populasi sementara yang besar. Banyak dari mereka adalah anak muda; banyak lainnya adalah keluarga yang melarikan diri bersama anak mereka. Cukup banyak dari mereka pernah berpartisipasi dalam Gerakan Pembangkangan Sipil dan, setelah meninggalkan pekerjaan mereka, dimasukkan ke daftar hitam oleh otoritas militer. Tidak dapat meninggalkan Burma secara legal, mereka akhirnya terjebak di kota perbatasan ini dalam semacam keberadaan sementara. Mae Sot juga merupakan tempat istirahat dan pasokan bagi banyak pejuang Angkatan Pertahanan Rakyat. Beberapa masih aktif dalam perlawanan di hutan dan hanya datang ke sini sesekali untuk beristirahat. Yang lain telah meninggalkan medan perang karena cedera atau kekecewaan dan berusaha bertahan hidup disini.

Sebagian dari mereka mungkin pada akhirnya akan bermukim kembali di negara ketiga, tetapi saya percaya banyak yang suatu hari akan kembali ke Burma. Untuk saat ini, hampir semua orang di sini hidup dalam keadaan menggantung—tanpa pekerjaan tetap dan tanpa rumah yang sesungguhnya. Tapi banyak kaum revolusioner yang tidak melihat eksil yang terlantar ini sebagai bagian dari revolusi. Perlahan-lahan, saya menyadari bahwa di sinilah tepatnya kami perlu bekerja: mengorganisir mereka yang terdampar di perbatasan.

Jadi saya memulai apa yang kami sebut “Mae Sot Home” (Rumah Mae Sot), menggunakannya sebagai platform untuk mengorganisir kegiatan sehari-hari—pertandingan sepak bola, pemutaran film, kelompok membaca—untuk menyatukan rakyat dari latar belakang yang sangat berbeda: pekerja migran, pejuang revolusioner yang diasingkan, orang Bamar, Karen, dan anggota komunitas Muslim. Melalui pertemuan ini, kami berbicara tentang anti-fasisme, isu gender, dan hubungan antar etnis.

Pada saat yang sama, kami mendirikan Food Not Bombs Mae Sot. Kami memasak makanan untuk para pengungsi Burma yang terlantar, tetapi bukan dengan cara amal dari atas ke bawah. Sebaliknya, kami ingin menyampaikan gagasan bantuan timbal balik dan solidaritas. Sebagian orang yang terlibat dalam perlawanan bersenjata mengejek atau bahkan menyerang kami, mengatakan bahwa sekarang adalah waktunya untuk senjata, dan bahwa Food Not Bombs terdengar seperti aktivisme anti-perang. Tapi kenyataannya, kami sudah mengorganisir kegiatan Food Not Bombs di Yangon pada awal 2010-an, jauh sebelum kudeta. Kami memerangi militer hari ini agar suatu hari kami bisa hidup damai kembali—bukan agar masyarakat tetap termiliterisasi secara permanen.

Dalam pekerjaan Mae Sot Home, sepak bola telah menjadi salah satu alat pengorganisasian kami yang paling penting, sebagian karena alasan keamanan. Banyak orang di sini tidak memiliki status hukum dan pertemuan publik sering kali berada di zona abu-abu. Kami pernah mencoba mengorganisir sebuah konser dan dilaporkan kepada pihak berwenang, yang memaksa kami untuk mengubah tempat. Namun, pertandingan sepak bola lebih mudah diadakan karena olahraga ini diterima secara luas dan populer di tingkat lokal. Lebih penting lagi, sepak bola hampir tidak memiliki hambatan masuk dan pekerja migran Burma di Mae Sot sudah memiliki budaya sepak bola yang kuat. Ini menjadi cara yang mudah untuk menyatukan kaum muda di pengasingan dan pekerja migran. Kami juga mengorganisir tim perempuan dan pertandingan remaja. Selama acara-acara ini, kami mendiskusikan isu seperti kekerasan dalam rumah tangga, kesetaraan gender, dan anti-fasisme.

Sebagian orang yang bermigrasi ke sini sebelum kudeta awalnya merasa jauh dari gerakan revolusioner; tetapi melalui bermain sepak bola bersama, mereka perlahan mulai terlibat dalam percakapan dan memahami perjuangan yang dihadapi orang lain. Di saat yang sama, beberapa anak muda yang tiba setelah kudeta, terutama yang berasal dari kota besar, kadang terserap dalam identitas mereka sebagai “pengungsi revolusioner” dan memandang rendah mereka yang datang lebih dulu—seringkali pekerja migran atau pedagang Muslim—sembari melihat mereka sebagai tidak cukup progresif. Tapi kenyataannya, rasisme dan chauvinisme Bamar juga ada dalam gerakan revolusioner itu sendiri. Ketimbang terus-menerus menarik garis antara kawan dan lawan, saya pikir lebih penting untuk memberikan ruang bagi orang untuk berubah.

Sistem pendidikan Burma telah menghasilkan generasi yang dibentuk oleh propaganda nasionalis. Sekarang, melalui retakan yang disebabkan oleh kudeta, revolusi, dan pengasingan, kita mungkin akhirnya memiliki kesempatan untuk memenangkan kembali sebagian dari mereka.