So mournful was my voice, and broken so
By anguish and by tears, that I alone
The name within my heart did understand.
And thereon, with the look of utter shame,
Which had gained full possession of my face,
Love did compel me unto them to turn.
And such my color was to look upon,
As made these others to discourse of death.
(THE NEW LIFE of Dante Alighieri, Part III=XXIII, translated by Charles Eliot Norton — 1896)

“Nomina sunt consequentia rerum”, bahwa; nama tak lebih menjadi label yang penuh jebakan di antara rahasia serta estetika tentang perjalanan kehidupan, tentang pengalaman keseharian, tentang sastra dan sejarah, sebagai konsekuensi manusia dengan hidupnya: “And thereupon a strong bewilderment so overcame me, that I closed my eyes, and began to be distracted like a person in a frenzy, and to imagine in this wise: that, at the beginning of the wandering which my fancy made, certain faces of ladies with hair dishevelled appeared to me, and they said to me: “Thou too shalt die.” And after these ladies, there appeared to me certain strange faces, and horrible to behold, which said to me: “Thou art dead.”” — (Complete Works of Dante Aleghieri)

Pada satu masa, susunan aksara telah menjadi kontra trinitas atas penghapusan Arian, terkunci dan tersembunyi di dalam “nouum opus — exemplaria scripturarum toto orbe dispersa”, semacam catatan pada huruf “I”, begitulah “Jawa” menjadi dunia peleburan paling rawan atas peradaban kebudayaan. Dan, Max Stirner dalam esainya berjudul Art and Religion menuliskan, bahwa; “man relates himself religiously to the Ideal cast forth by artistic creation — expressed Ego as to an Object — all the sufferings and struggles of the centuries”.

Hanacaraka memanglah terlahir sepasang utusan yang datang serupa kembara dan saling bertentangan. Jiwanya telah membatik kontra. Akupun bertanya: ‘Apakah arti dari kata Jawa?’. Bagi seluruh sifatnya yang samar, semacam ganjil perilaku bertutur dalam bahasa hati. Mungkin saja penyatuan aksara darah menjadikannya sewarna untuk dapat kembali menyusun gradasi diri tanpa penjuru. Claudius Ptolomaeus untuk ‘jabadiu’. Ini semacam ulang-alik bilangan yang kembali tersasar ke dalam dunia ‘karma bhumi’. Bahkan kompleksitas ini semacam kekacauan ‘virtutes apostolorum’…

Aku seringkali cukup meragukan kekuatan yang demikian super, semisal superintellegent, manakala wujud inovasi menjadi laku evolusi yang telah melupakan proses penghapusan, yang tetap saja akan membutuhkan suatu pandemonium. Namun, lagi-lagi, aku kembali tergelincir dengan mengabaikan jaringan yang begitu sublim serta penuh megah. Mungkin, di sinilah yang “Einzige/Unique” tentang pembacaan sejarah purba tentang peradaban manusia menjadi ambivalen bagi kebanyakan mereka yang telah menyangkal eksistensi kehidupan, yang telah mendistorsi susunan kalimat dari aksara, yang telah mengabaikan kosakata serta huruf sebagai sandi tersimbol. “The ancients themselves were the ones who gave birth to the young one who carried them to the grave. So let’s eavesdrop on this procreative act” — (The Ancients from The Unique and Its Property, by Max Stirner) dan para pujangga seakan menyetujuinya sebagai kultus kalimat; “let the dead bury their dead” (Sophocles on Antigone).